Skip to main content

Karapan Sapi: Pantat Dipaku, Mata dan Dubur Diolesi Balsam

By October 17, 20083 Comments

Saya bingung mesti memasukkan berita di bawah dalam kategori apa, kemanusiaan ataukah lainnya. Yang jelas, penyiksaan terhadap sesama makhluk Tuhan adalah perbuatan  yang tidak bisa dianggap sebagai hiburan ataupun tradisi temurun.

Siapa tidak tahu karapan (kerabhan) sapi. Tontonan adu kekuatan otot dan kecepatan sapi di Madura ini begitu memikat. Tetapi siapa yang tahu, sapi-sapi perkasa itu diperlakukan sangat bertolak belakang, dimanja sekaligus disiksa?

Sapi karapan menjadi kebanggaan si pemilik yang akan melakukan apa pun agar sapinya selalu berlari terdepan. Termasuk di antaranya memanjakan dan membuat hidup si sapi nyaman bukan kepalang. Bagaimana tidak nyaman, kalau si sapi punya kamar yang selalu bersih.

Tentu, untuk ukuran sapi, kamar itu sangat bersih dan selalu bebas dari kotoran. Setiap saat ada kotoran langsung disingkirkan jauh-jauh. Tak hanya itu, di pantat sapi nyaris tidak pernah ditempeli tlethong, karena rajin diceboki. Agar lebih nyaman lagi, seekor nyamuk atau lalat yang masuk kamar itu pasti diusir oleh tokang obu, orang yang dibayar khusus untuk merawat sapi itu.

Tokang obu itu juga bertugas untuk memijat, menginjak dan memandikan sapi setiap hari. Tidak jarang sapi-sapi itu dimandikan sampai dua kali sehari. “Kalau tidak begitu, sapi-sapi itu kepanasan karena jamunya memang yang menghangatkan tubuh,” kata Salam, seorang pemilik sapi karapan.

Pijat dan injak, katanya, dilakukan agar otot-otot sapi tidak kaku dan aliran darahnya lancar. Setiap hari sapi-sapi itu juga dikeluarkan dari kandang dijemur. Belum lagi jamu campuran 25 butir telur dengan parutan kunyit, jahe, temulawak, kunci, gula merah, dan minuman bersoda yang diberikan dua kali seminggu.

Namun segala kenikmatan itu harus dibayar sapi dengan siksaan selama berpacu. Sapi-sapi itu berpacu dalam kesakitan, dan pantatnya berdarah. Cairan merah itu meleleh akibat garukan paku sang joki yang ditancapkan pada gagang kayu seperti parut. Tidak hanya itu. Mata, pantat yang luka, dan sekitar lubang anus si sapi diolesi cuka, sambal, dan balsem.

Selain paku yang ditancapkan pada tongkat sepanjang sekitar 15 sentimeter itu, bagian dalam ekor sapi diikat dengan kayu yang juga berpaku. Saat berlari, ekor yang dipasangi kayu berpaku itu naik turun, dan menusuk kulit sekitar dubur sapi.

Sapi-sapi itu terlihat meronta, mengentak-entakkan kaki dan mendengus berulang-ulang. Tidak heran jika setiap pasangan sapi karapan harus dipegang oleh banyak orang agar tidak kalap dan lari sembarangan.

Pada kondisi seperti itu, tidak jelas apakah setiap pasangan sapi karapan, berlari karena kekuatan ototnya atau karena ingin lepas dari rasa sakit. Bisa jadi, pasangan sapi akan diadu beberapa kali. Artinya, sapi-sapi tersebut akan mendapatkan perlakuan menyakitkan berulang-ulang.

Seolah tanpa beban, begitu pacuan usai, para pemilik sapi langsung menyembuhkan luka-luka itu, meski tindakan itu menimbulkan rasa sakit baru. Caranya, luka itu ditetesi spiritus, zat cair yang mengandung alkohol dan mudah menguap. Atau ditetesi air panas bercampur garam. Dengan cairan itu luka-luka diyakini bisa cepat kering dan sembuh.

Sejumlah pemilik sapi karapan di Kabupaten Pamekasan sebetulnya setuju dengan karapan tanpa kekerasan. Salam, pemilik sapi Se Anak Manja, Saleh, pemilik Se Tossa dan P Elma, pemilik Se Abantal Ombak Asapok Angin menyatakan, mereka tidak keberatan kekerasan dihapuskan.

“Asal semua tidak menggunakan paku dan kekerasan lainnya. Kalau tidak tegas, satunya menggunakan, satunya tidak, maka itu tidak bisa, karena yang tidak pakai paku pasti dirugikan,” kata P Elma, warga Murtajih, Kecamatan Pademawu.

Menurut Salam yang juga PNS di Kelurahan Baru Rambat Timur, Pamekasan, sebetulnya tidak semua sapi cocok menggunakan kekerasan. Ada juga sapi yang justru tidak mau lari jika disakiti. “Karena itu saya setuju jika ada aturan karapan sapi tidak membolehkan menggunakan paku,” katanya.

Dari catatan pemangku budaya di Madura, penyiksaan itu merupakan penyimpangan dari budaya asli yang terjadi sejak terlibatnya pemilik modal. Karapan yang semula digelar secara santai untuk hiburan setelah panen berubah menjadi sesuatu yang menegangkan. Apalagi setelah melibatkan taruhan.

Ketua Yayasan Pakem Madduh, Pamekasan, Madura, H Kutwa, mengakui adanya penyimpangan dari karapan itu. Ia berharap, karapan sapi dikembalikan ke tradisi asal yang jauh dari kekerasan. “Saya juga tidak terima kalau karapan sapi itu ada unsur kekerasan pada hewan. Padahal waktu saya masih kecil, tidak ada karapan memakai paku,” katanya.

Pembantu Rektor I Universitas Madura (Unira), Pamekasan itu, mengemukakan, munculnya penyiksaan pada sapi itu sekitar tahun 1980-an. Diperkirakan, penggunaan paku dan kekerasan lainnya karena semakin kerasnya kompetisi. “Maka cara-cara yang digunakan juga melebihi batas kompetisi seperti itu. Karena itu, alangkah baiknya jika tradisi karapan sapi dikembalikan ke asalnya yang hanya mengadu kekuatan otot sapi,” katanya.

Agaknya, tradisi kekerasan terhadap sapi karapan itu belum akan hilang, bahkan dalam ajang Piala Presiden yang akan digelar 25-26 Oktober 2008 di Stadion Sunarto Hadiwijyo, Pamekasan. (Kompas)