KE-SAYYID-AN

Mungkin diperlukan penjelasan dengan porsi yang lebih besar guna menegaskan defrensiasi tegas tentang posisi makna biologis terkait sayyid sebagai istilah dengan pengertian primer dan sejati yang tidak bisa dan boleh disematkan pada selainnya.

Yang Etimologis dan Terminologis

Sebelum mengandung pengertian terminologis (sebagai gelar atau panggilan bagi keturunan Nabi) kata sayyid mempunyai makna etimologis yang secara denotatif berarti tuan atau pemimpin, sebagaimana ditetapkan dalam kamus klasik dan kontemporer. Kata ‘sayyid’ berasal dari kata baku (mashdar) ‘siyadah’ atau kata kerja lampau ‘sada’ (ساد يسود ) berarti ‘menguasai’ dan ‘memimpin’.

Gelar lainnya adalah “habib” dan syarif. Habib berasal kata dasar _al-Hubb_ dalam bentuk kata modus _fa’il_ (فعيل), yang memiliki arti objek semakna dengan _ism maf’ul_ (اسم مفعول), yaitu yang dicintai atau kekasih.

Sayyid, semakna dengan mister dalam bahasa Inggris, “bapak” dalam bahasa Indonesia juga “agha” dalam bahasa Parsi. Karenanya, dalam administrasi formal dan pers Arab modern kata sayyid (tentu tanpa imbuhan) diberikan kepada setiap individu pria.

Yang Biologis dan Ideologis

Karena penghargaan abadi kepada para tokoh Ahlul-Bait setiap keturunan Nabi dipanggil sayyid atau syarif dengan tujuan tabarruk. Mungkin hanya para sayyid keturunan Muhammad Ba Alawi di Yaman dan peranakannya, terutama Indonesia, dipanggil habib oleh para pecinta (muhibbin). Artinya, pada dasarnya sebutan sayyid juga habib semata-semata diberikan karena ikatan biologis atau nasab. Inilah makna yang dimaksud “biologis” tanpa mempertimbangkan pandangan dan perilaku, baik dan buruk karena bukan pilihan namun determinan.

Kata “ideologis” yang dijadikan ejektif pada kata “sayyid” justru mengkonfirmasi ketidaksejatiannya. Dengan kata lain, imbuhan kata simbolik itu sama sekali menggeser dan tidak mereduksi makna terminologis “sayyid” juga dzuriyah dengan segala konsekuensi haknya dalam fikih. Dengan demikian, sayyid juga habib tanpa imbuhan ideologis dan tanpa imbuhan biologis pun bermakna biologis yang secara primer mengandung konsekuensi normatif alias fikih.

Tentu saja “ideologis” adalah bid’ah istilah, meski istilah bid’ah ini secara nornatif tidak berlaku atas bid’ah istilah. Artinya, kreasi istilah bukanlah sesuatu yang patut dipersolalkan selama tidak mereduksi makna primer istilah tersebut. Konon di kalangan fuqaha dan para ahli mantiq ada semacam protap “Tak boleh (tak perlu) berpolemik soal istilah (لا مشاحة فى الاصطلاح). Pernyataan ini dibuat sebagai pedoman dan anjuran kepada masing-masing pihak untuk mempertahankan istilah pilihannya dengan pengertian kedua apalagi penanda ejektif khusus selama semuanya tetap menyepakati makna hakiki dan baku dari istilahya dengan segala ikutan hukumnya.

Pernyataan Nabi SAW سلمان منا اهل البيت (“Salman adalah bagian dari kami Ahliulbait”) dikutip bukan demi menyamakan pengertian dan kedudukan Ahlulbait dengan Sayyid supaya dianggap terkesan sebagai analagi tanpa equivalensi ( قياس مع الفارق), karena perbedaan antar keduanya sangatlah jelas. Hadits ini dikutip sebagai pendukung makna sekunder yang tidak sejati sekaligus penegasan bahwa sebutan Ahlulbait bisa mengandug makna primer dan haiki tanpa Salman di dalam pengertiannya dan bisa mengandung makna sekunder dengan Salman di dalamnya. Pernyataan Nabi SAW dalam hadis tersebut dikutip untuk menegaskan bahwa Salman yang secara biologis bukan Ahlulbait karena bukan keluarga Nabi adalah Ahlulbait alias keluarga Nabi secara non biologis. Inilah yang menjadi dasar penyematan kata ejektif simbolik “ideologis” atau teologis atau lainnya yang bermakna non biologis. Dengan kata lain, sebuah istilah yang punya pengertian baku bisa dan sah disandingkan dengan imbuhan tertentu demi memperjelas makna sekunder yang tidak sejati dan tidak baku.

Dengan dasar itu, kata Ahlulbait (yang secara etimologis berarti keluarga atau penghuni rumah) juga sayyid bisa diberi pengertian sekunder dengan tanda jelas berupa imbuhan ejektif seperti “ideologis” atau lainnya demi mempertegas makna teologis dan ideologisnya yang sama sekali berbeda dengan makna biologisnya yang memuat konsekuensi normatifnya secara eksklusif dan terbatas.

Dan atas dasar itu pula predikat tidak sejati “ideologis” bisa disandingkan dengan sebutan alawi, meski alawi menguandung makna yang lebih bersifat biologis ketimbang sayyid karena dihubungkan secara khusus dengan kakek para dzuriyah di Hadramaut Muhammad bin Ali Ba’Alawi atau bahkan dengan Imam Ali AS dengan cakupan lebih luas.

Bukan Tema Penting

Dengan semua penjelasan seputar masalah yang tidak fundamental ini, siapapun berhak menolaknya dengan atau tanpa dalil sekalipun juga menerimanya. Semua pandangan tentang masalah ini layak diapresiasi sebagai upaya positif dalam memberikan interpretasi terhadap isu yang belakangan menjadi sorotan banyak pihak ini.

Di luar itu semua, semoga penjelasan ini dapat dianggap sebagai upaya mendudukan masalah tanpa pretensi apapun di luar konteks tema yang dibahas. Mohon maaf bila terdapat diksi yang kurang tepat.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed