Kebangkitan Syiah, Azyumardi Azra dan Vali Nasr

 the-shia-revival-kecil.jpg

Terdapat dua hal yang menarik dari tulisan Azyumardi Azra “Kebangkitan Syiah”, yang dimuat dalam kolom “Resonansi” pada Republika 2 Agustus 2007. Pertama adalah Vali Reza Nasr, yang sayangnya hanya Azyumardi jelaskan sebagai anak Seyyed Hossen Nasr, saintis dan filosof Muslim Amerika asal Iran. Yang kedua adalah buku karya Vali Nasr, The Shia Revival: How Conflicts Within Islam will Shape the Future (W.W. Norton & Company 2006), yang edisinya dalam bahasa Indonesia telah diterbitkan sebuah penerbit di Jakarta.

Keduanya, baik Vali Nasr maupun bukunya, adalah idola baru kalangan jurnalis dan pemikir liberal-neokonservatif di Amerika Serikat dalam kajian mengenai Iran, Syiah, dan sektarianisme. Kini bagi mereka, Nasr adalah sumber paling otoritatif. Terlebih lagi, Nasr pernah memberikan konsultasi bagi Washington dan Pentagon pada 2006. Sebab, mengutip seorang ulama Syiah, yang menurut mereka “fundamentalis” itu, tentu saja suatu anatema.

Vali Reza Nasr adalah peneliti senior kajian Timur Tengah pada Council on Foreign Relation (CFR), sebuah lembaga “think tank” tentang kebijakan luar negeri paling berpengaruh bagi Gedung Putih. Begitu berpengaruhnya hingga CFR sering disebut-sebut sebagai agen lain dalam kebijakan luar negeri Amerika selain depeartemen luar negeri itu sendiri.

Perhatikanlah bagaimana para pewaris dinasti berpengaruh di AS hingga para politisi, ekonom, dan pengusaha ternama AS telibat dalam CFR sebagai anggota dewan kehormatan. Nama-nama seperti Jonathan S. Bush (sepupu George W. Bush), David Rockefeller, Jr., John D. Rockefeller IV, Dick Cheney, Condoleezza Rice, Paul Wolfowitz, John D. Negroponte (deputi menlu), Henry Kissinger, Alan Greenspan, Irving Kristol (tokoh neokonservatisme Amerika), dan George Soros tampaknya sudah lebih daripada cukup untuk menggambarkan kuatnya pengaruh CFR dalam kebijakan luar negeri AS.

Andai saja, dalam kolomnya tersebut, Azyumardi sedikit menjelaskan afiliasi dan preferensi pemikiran Nasr tersebut, maka kesimpulan Azyumardi bahwa, “Perspektif seperti ini (Vali Nasr) hemat saya tidak menolong bagi terciptanya hubungan lebih baik dan harmonis di antara kedua sayap Islam; Suni dan Syiah,” akan semakin mengungkap aktor utama pemicu konflik Suni-Syiah di Irak.

Kebangkitan Syiah

Mengetahui afiliasi dan preferensi pemikiran seseorang tentu saja hanyalah salah satu bagian dari upaya memahami pemikirannya. Berkaitan dengan pemikiran Vali Nasr dalam banyak artikel, wawancara, dan bukunya tersebut, terutama yang berkaitan dengan konflik sektarian di Irak, terdapat beberapa hal yang patut dipertimbangkan secara kritis.

Pertama, Vali Nasr memandang bahwa jatuhnya rezim Saddam Hussein yang Suni menyusul invasi AS ke Irak pada 2003 telah membantu kebangkitan Syiah di negeri Mesopotamia itu. Perspektif seperti ini tidaklah sepenuhnya salah tetapi telah mengabaikan beberapa fakta penting.

Mengasumsikan Saddam sebagai representasi Suni adalah sama kelirunya dengan menganggap Ahmad Chalabi, “brutus” Irak yang dipelihara AS, sebagai representasi Syiah. Terlebih lagi, tumbangnya Saddam juga berimplikasi pada bangkitnya Kurdi di utara Irak, dan mayoritas Kurdi adalah Suni. Jadi, ini bukan semata soal Syiah tetapi adalah alamiah jika kelompok-kelompok yang dahulunya terrepresi tampil ke permukaan ketika kekuasaan otoriter tumbang.

Selanjutnya, Nasr mengabaikan fakta bahwa pemerintahan Irak sekarang ini sejatinya bukanlah rezim yang diinginkan Washington untuk menggantikan Saddam. Jauh-jauh hari, kalangan neokonservatif di Gedung Putih, seperti Donald Rumsfeld dan Richard Perle, secara eksplisit menginginkan Chalabi naik tahta. Lagi pula, pelaksanaan pemilu di Irak pada 2005 terwujud lebih karena desakan dan tekanan Ayatullah Ali Sistani, figur ulama terpopuler di kalangan Syiah Irak, ketimbang keinginan AS.

Kedua, Nasr memandang Iran terlibat dalam konflik sektarian di Irak— bahkan menuding pemimpin-pemimpin Iran sebagai anti-Suni. Padahal, pada saat yang sama, ia juga mengakui bahwa Iran kini lebih menampilkan wajah non-sektarian karena membutuhkan simpati negara-negara Arab Suni tetangganya guna menetralisasi agresivitas AS.

Terlepas dari dalih Nasr bahwa Iran bermain di dua sisi, faktanya dari mulai Jenderal Peter Pace (mantan Kepala Staf Gabungan Militer AS), Robert Gates (Menhan AS), hingga David Milliband (Menlu Inggris) senada menyatakan bahwa tidak ada bukti keterlibatan Iran dalam konflik di Irak. Tambahan pula, lembaga “think tank” transatlantik, BASIC (British American Security Information Council), dalam laporan risetnya, menegaskan bahwa Iran hanyalah “kambing hitam” kegagalan AS di Irak.

Ketiga, Nasr berupaya membersihkan tangan AS dari pertumpahan darah di Irak. Baginya, faktor utama semua itu adalah kebencian satu sama lain antara Suni-Syiah, sesuatu, yang menurutnya, tidak disadari AS ketika ‘mendemokratisasi’ Irak.

Dalam banyak artikelnya, Nasr seringkali menulis panjang-lebar mengenai permusuhan Suni-Syiah, yang dia analogikan seperti “Protestan versus Katolik” dalam dunia Kristen. Terlepas dari bagaimana dia menjelaskan secara argumentatif analogi tersebut, dalam konteks Irak, Nasr telah mengabaikan begitu saja fakta bahwa Suni-Syiah di Irak, terutama di distrik-distrik campuran, sejak lama telah melakukan nikah-campur dan situs-situs suci mereka pun saling berdekatan.

Selain itu, Nasr juga melewatkan fakta bahwa kekerasan berbau sektarian di Irak justru baru terjadi pada tahun ketiga pendudukan AS. Fakta ini bersama laporan investigatif jurnalis Kurt Nimmo dan analisis beberapa analis, seperti Pepe Escobar, Ghali Hassan, dan Mike Whitney, yang mengindikasikan keterlibatan para pejabat intelijen AS dan pasukan keamanan partikelir mereka dalam berbagai tindakan kekerasan yang memicu konflik sektarian, menjadi petunjuk bahwa Amerika tidaklah senaif yang disimpulkan Nasr.

Di sini, bisa dilihat bahwa Nasr mewarisi pandangan provokatif pemikir liberal-neokonservatif bahwa setiap Syiah pasti membenci Suni dan begitu pula sebaliknya. Adakah ini memang upaya tak kenal lelah untuk mengalihkan perhatian Dunia Muslim terhadap pendudukan AS di Irak dan Israel terhadap Palestina, mengingat sebuah jajak pendapat mutakhir dari Zogby International atas Mesir, Yordan, Maroko, Arab Saudi, Lebanon, dan Uni Emirat Arab menunjukkan bahwa sekitar 80% responden masih tetap menilai AS dan Israel sebagai ancaman terbesar terhadap keamanan kawasan ketimbang Iran?

Yang pasti, seperti dikatakan Edward Said, “Para pakar Timur Tengah yang memberi saran kepada para pembuat kebijakan (di AS) telah diinspirasi oleh Orientalisme, nyaris setiap orang.” (Orientalism, Pantheon Books, 1978). (Ditulis oleh Irman Abdurrahman).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 comments

  1. salam alaikum ustad,
    sayang sekali memang kalo ada pandangan yang stereotyp thd motif politik syiah yang hanya dilihat dari sisi antagonis saja, sementara sisi lain yang jauh lebih welas kasih disingkirkan hanya demi menjaga legitimasi barat…

    kenapa gak di kontra – opini saja ustad di koran yg sama?

  2. Lagu lama untuk adu domba.
    Faktanya adalah bahwa Sunnah dan Syiah sudah terlalu lamam hidup berdampingan tanpa ada masalah yang berarti. Hanya saja sekarang masuk elemen baru yang bernama Wahabi, yang disamarkan sebagai “Sunnah gelombang baru”. Siapa yang memasukkan elemen baru ini sudah sangat jelas, bahkan sekedar merenungkan sekilas akan siapa yang paling diuntungkan dengan adanya makhluk “Wahhabi” ini juga akan membuktikan siapa pelakunya.
    Bersatunya Sunnah dan Syiah adalah kejadian yang tidak boleh terjadi demi kelangsungan imperialisme Barat. Sekarang Wahhabi, dengan Avonturirnya di Al-Qaeda dan Jamaah Islamiyah, telah banyak kehilangan momentum dan bukan lagi menjadi kartu yang se-efektif dulu. Propaganda Barat dalam me-monster-kan Wahhabi ini sudah sangat berhasil sehingga kaum Muslimin kebanyakan sudah berlepas tangan dari mereka. Imperialis Barat sekarang sedang dalam posisi kebingungan, dan inisiatif sekarang berada di tangan kaum Muslimin. Demikian hebatnya momentum yang dipegang kaum Muslimin sekarang ini, Muslimin yang menolak bergabung dalam barisan persatuan Islam hanya akan di “Wahhabi”kan dan menjadi “rafidhah” sesungguhnya. Sekarang adalah waktunya untuk persatuan. Musuh sudah menyadarinya, dan para ulama terkemuka kita sudah menyadarinya.

  3. Wahai saudara sesama muslim!! Ada jahanam-jahanam yang berani menghina Ar-Rasul SAWW di swedia!! Mereka semua adalah kotoran manusia!, yang hanya bisa dinetralkan dengan dibakar. Kepada seluruh umat muslim diseluruh dunia, baik syiah, sunni, wahabi berdoalah yang sungguh-sungguh supaya mereka diazab dunia, sebelum akhirat, berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk menghukum mereka, sudah tak perlu lagi melihat hukum internasional dll. mereka sudah merencanakan ini dengan sistematis, buktinya mereka tidak pernah membuat UU penghormatan pada figur keyakinan. Bekerjasamalah dalam berjuang. Utamakan tujuan perjuangan.
    Bagi yang tidak mampu berjuang, berdoalah: Ya Allah, berilah mereka kebencian dan kemurkaan-Mu, ya Rasulullah, walaupun engkau bersabar, sungguh penghinaan yang tertuju kepadamu, lebih menyiksa kami, daripada segala cobaan yang kami terima. Maka dari itu ya Allah, ubahlah mereka menjadi kotoran manusia yang hidup, atau potonglah kedua tangan dan kaki mereka sebelum Engkau siksa di akhirat.

  4. #

    Saya adalah syiah yang tidak berani merasa ‘lebih selamat’ daripada saudara sunni kita. Sedangkan mereka juga memuja Rasulullah setelah mereka menyembah Allah. Sehingga ketika petunjuk akhir itu muncul,justru saudara kita yang lain yang mampu mengikutinya. Karena keikhlasan dan ketulusan siapakah yang tahu selain Allah SWT dan Rasulullah SAWW, serta ahlul baytnya yag suci.

    Kepada saudara-saudara syiah;
    Ingatkah kita akan pertempuran yang pertama?!
    …..revolusi islam Iran.
    Dimanakah pertempuran yang pertama?!
    …..di jalanan kota Qum.
    Apakah kota Qum itu?!
    …..haromnya para Imam as yang suci.
    Antara siapakah pertempuran itu?!
    …..antara sesama kita.
    Bagaimanakah sekarang kita?!
    …..sekarang kita bersatu!
    Apakah sekarang pertempuran yang kedua?!
    Bila sekarang pertempuran yang kedua,dimanakah pertempuran sekarang ini?!
    …..di kota Baghdad (Kufah)
    Apakah kota Baghdad itu?!
    …..haromnya imam Ali as
    Antara siapa melawan siapa pertempuran di Baghdad?!
    …..antara sunni dan syiah.
    Bilakah sekarang pertempuran yang kedua, bagaimana nanti sunni wa syiah?!
    Bilakah umat sunni wa syiah bersatu?!
    Bilakah terjadi pertempuran yang ketiga?!
    Bilakah terjadi pertempuran yang ketiga, dimanakah pertempuran itu?!
    Bilakah pertempuran terjadi di jazirah arab?!
    Bilakah pertempuran terjadi di kota Madinah?!
    Bila terjadi pertempuran di Madinah, apakah kota Madinah itu?!
    …..haromnya Rasulullah!
    Bila terjadi pertempuran, antara siapa dengan siapa pertempuran itu?!
    Bilakah pertempuran itu terjadi antara wahabi vs persatuan sunni wa shia
    Bilakah pertempuran itu selesai, bagaimana umat wahabi, sunni, wa shia?
    Bilakah umat wahabi,sunni, wa shia bersatu?!
    Bilakah terjadi pertempuran yang keempat?!
    Bila terjadi pertempuran yang keempat, dimanakah pertempuran itu?!
    Bilakah pertempuran terjadi di kota Mekkah?!
    Bila pertempuran terjadi di kota Mekkah, maka apakah kota Mekkah itu?!
    ……..haromnya Allah!!
    Bilakah terjadi pertempuran yang keempat adalah pertempuran siapa melawan siapakah?!
    Bilakah pertempuran yang keempat adalah pertempuran antara Sufyani, Dajjal, dan gabungan sisa-sisa manusia di muka bumi dari golongan nonmuslim maupun muslim gadungan (yang belum muncul dan membuat golongan) melawan Baqiyatullah fil ardh imam Mahdi as, dan nabi Isa as, serta persatuan wahabi, sunni wa syiah?!
    Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk selalu menghadapkan wajah kepada-Mu, dan kemampuan untuk menaati Rasulullah dan ahlul baitnya yang suci.

    Sah Iran telah jatuh!
    Jimmy Carter telah jatuh!
    Bilakah Saddam jatuh kita telah bebas?!
    Bilakah George Bush nanti jatuh kita telah bebas?!
    Masih ada yang lebih zalim dan jahat!
    Masih ada dua lagi Saddam yang zalim dimana yang terakhir adalah Sufyani yang dilaknat.
    Masih ada dua lagi George Bush yang jahat dimana yang terakhir adalah Dajjal yang terkutuk.
    Saudara-saudara jangan lengah
    Tetaplah selalu tawadhu dan berzikiringat kepada Allah! Serta taatilah sunnah Rasulullah dan ahlulbaytnya yang suci.
    Jagalah kebersihan hati!

    Kepada saudara-saudara syiah!

    Kemarin kita membebaskan diri!
    Hari ini kita bebaskan saudara-saudara kita sunni!
    Besok kita bebaskan saudara-saudara kita wahabi!
    Lusa kita sambut kedatangan imam Mahdi as.
    Kemudian menyertai beliau membebaskan seluruh umat manusia dari penindasan dan penderitaan.

News Feed