Skip to main content

Keberanian Siti Fadillah Gusarkan SBY?

By April 23, 20085 Comments

Menteri perempuan ini lebih kuat dari banyak menteri pria. Inspeksi mendadak yang dilakukan Menkes ini ke Naval Medical Unit Research Two (Namru-2) merepotkan SBY. Menkes sempat menunggu lebih dari 10 menit untuk mendapatkan izin masuk.


“Saya itu sebenarnya tidak sengaja ke sana karena sebetulnya akan sidak ke tempat lain menggantikan staf yang sedang ke Bandung,” ujar Menkes Siti Fadillah Supari saat raker dengan DPD di Nusantara V, Gedung DPR, Jakarta, Rabu (23/4/2008).


Menkes tidak menduga akan diperlakukan seperti itu. Namun dirinya tetap melangkahkan kakinya untuk meninjau laboratorium milik Angkatan Laut AS yang dibangun pada 1970 itu.


“Saya pikir karena sudah sampai ke Namru ya sekalian saja say hello,” imbuh Menkes.

Menkes mengungkapkan, sejak 2000 Namru beroperasi tanpa MoU dan persetujuan apapun. “Padahal di situ ada keterlibatan Angkatan Laut AS,” terangnya.

Selain itu yang membuat Menkes risau adalah para peneliti di lembaga yang didirikan untuk meneliti penyebaran penyakit menular di Indonesia, seperti malaria, DBD dan TBC itu, meminta kekebalan diplomatik agar bisa mengakses ke seluruh wilayah Indonesia.


Hal itu telah ditanyakan ke Departemen Luar Negeri (Deplu), dan menurutnya, Deplu mengkonfirmasi permintaan kekebalan diplomatik itu diajukan untuk diberikan kepada 60 orang peneliti Namru.


“Namun yang diberikan hanya kepada dua orang,” terang Menkes.


Faktor tersebut, menurut Menkes, diduga menjadi ganjalan bagi Amerika Serikat untuk menandatangani MoU.


“Mungkin karena itu mereka masih agak berat sehingga MoU nongkrong di AS 6 bulan lamanya,” terang Menkes.


Di bagian lain, Menkes menegaskan, keberadaan Namru-2 di Indonesia tidak memberikan sumbangsih yang berarti bagi dunia kesehatan.Namun keberadaannya justru menimbulkan kontroversi di masyarakat.


“Yang jelas apakah sosok militer asing yang ada dalam negara kita bisa diterima atau tidak. Ini bukan persoalan kesehatan, tapi persoalan masyarakat. Terlebih selama 30 tahun ini kita tetap tidak mempunyai kemajuan dalam hal malaria dan DBD,” ujarnya.