KECEWA BUKAN ALASAN GOLPUT

Memilih dan memberikan suara kepada seseorang sebagai pelaksana undang-undang dan pengelola sebuah lembaga raksasa bernama negara mungkin bisa dianggap sebagai menitipkan nasib lembaga itu dan masa depan seluruh orang yang terikat dengannya. Dengan kata lain, memilihnya berarti mempercayakan sesuatu yang sangat penting kepadanya.

Kinerja menjadi alasan paling kuat memberikan kepercayaan kepada seseorang yang telah berpengalaman atau yang ingin meraih kepercayaan kedua setelah memperolehnya pada periode pertama.

Karena kinerja bukanlah benda personal yang mudah dikenali dan diverikasi langsung oleh setiap orang, maka menetapkan sebuah fenomena sebagai produk kinerja memerlukan data valid dan akurat.

Banyaknya opini subjektif dan tendensius yang simpang siur dan bercampur aduk dengan data, menganalisa dan memfilternya tidaklah mudah.

Di tengah belantara medsos yang marak sebaran opini dan berita yang dibarengi dengan polemik dan polarisasi sengit dengan aneka alasan, peluang untuk mempertahankan independensi dalam berpandangan dan bersikap biasanya menimbulkan ketaknyamanan akibat benturan dua polar.

Mungkin ada yang mencoba mempertahankan keterlanjuran meski menyadari lenyapnya alasan rasional untuk itu, dengan justifikasi “nobody’s perfect”. Tapi itu tidak relevan karena sejak awal manusia rasional tahu bahwa pemilu atau pilpres bukanlah kontes kesucian atau pemilihan santo tapi proses mencari manusia biasa yang dinilai mampu dan mau mengelola negara.

Bila tidak memberikan suara politik karena tidak cukupnya fakta kinerja terkait dengan hal-hal prinsipal, maka alasan yang tersisa adalah harapan yang didukung oleh indikasi-indikasi aktual.

Namun bila indikasi-indikasi faktual tersebut meredup bahkan menghilang seiring dengan dinamika di lapangan, maka ada tiga asumsi opsi; memberikan dukungan kepada pihak lain
menanggalkan dukungan kepada semua karena tak menemukan secercah harapan, atau menciptakan alasan baru untuk mendukunganya.

Bila alasan rasional dan moral memindahkan dukungan kepada pihak lain tidak ditemukan, maka yang tersisa adalah opsi melepaskan dukungan kepada semua kandidat alias golput.

Bila golput dipastikan tak mendukung perbaikan bangsa secara relatif, maka perlu nencari alasan baru mempertahankan dukungan politik yang secara relatif bisa dianggap sebagai ekspresi kesadaran taklif teologis dan komitmen konstitusional.

Saya secara pribadi harus jujur mengakui bahwa semangat saya dalam mendukung salah satu paslon berkurang karena sejumlah alasan yang mungkin sebagian teman mengetahui dan memaklumi. Tapi itu tak berarti penolakan saya terhadap salah satu paslon lainnya berkurang.

Mempertahankan yang buruk lebih logis dan aman daripada memberi kesempatan kepada yang belum tentu tidak lebih buruk.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed