KEJUMUDAN BUKAN HAK EKSKLUSIF KADRUN

Kegigihan sejumlah agamawan non cingkrang menentang arahan tinggal di rumah dan pysical distancing (yang disertai penjelasan alasan sebagai prosedur upaya memutus mata rantai penyebaran virus ganas ini) dengan dalih abal-abal “hanya takut kepada Allah” disertai dengan provokasi dan fitnah himbauan menghindari ibadah massal dan acara-acara yang menghimpun publik sebagai konspirasi menjauhkan umat dari agama, menkonfrmasi bahwa tendensi kekuasaan informal atas nama agama adalah strategi status quo.

Banyak orang kadang berpandangan ekstrem dan bersikap tidak adil saat menganggap kejumudan hanya identik dengan apa yg dicemooh sebagai kadrun atau para penggemar celana cingkrang.

Faktanya tidak hitam putih begitu. Ini bukan aksioma matematika yang permanen dan berlaku lintas zaman. Ada beberapa wahabi yang justru berani mengungkap hadis-hadis tentang keistimewaan Ahlulbait dan menentang rezim korup Saudi, meski sedikit. Ada pula yang mengaku suka tahlil tapi intoleran dan kejam terhadap kelompok minoritas seagama yang disesatkan, diusir, ditolak untuk pulang dan hidup di atas tanah sendiri, meski mereka hanya sedikit.

Agama (disampaikan oleh yang cingkrang, kadrun, sebutan sebagian netizen) yang isinya hanya gertak teks ala wahabi, atau (diajarkan yang komprang) yang isinya hanyalah dongeng keramat atau mimpi atau retorika tanpa logika (ala yang ngaku anti kadrun) pastilah pembodohan dengan tendensi dominasi tanpa batas atas pangsa umat yang naif dan cemas.

Label mazhab atau ormas atau ciri tradisi tak cukup untuk jadi dasar generalisasi penilaian ppsitif dan negatif. Generalisasi tanpa parameter yang ajek adalah anti logika dan kezaliman. Kejumudan tak hanya dimport dari gurun dengan tujuan pemurnian agama versi Dul Wahab namun sejak lama diproduksi dalam negeri dengan tujuan mempertahankan feodalisme berbungkus agama dan primordialisme.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed