“KEMBALI KE QURAN DAN SUNNAH”

KEMBALI KE QURAN DAN SUNNAH

Sebagian besar akademisi dan mahasiswa tertarik kepada skriputuaisme karena menurut mereka, akal hanya digunakan dalam ranah ilmu pengetahuan, sedangkan agama dan teologi ketuhanan harus diyakini tanpa akal.

Itulah mengapa kelompok takfiri bisa menguasai masjid dan LDK (Lembaga Kajian Agama) di hampir seluruh universitas yang tidak menggunakan simbol agama Islam. Dengan demonstrasi relijiusitas yg rigid berbekal jargon mengikuti Quran dan Sunnah dan jualan “salaf“, tanpa diskusi atau seminar, mereka jadikan lembaga-lembaga pendidikan mulai dari SD hingga universitas sebagai sarang penangkaran dan pembibitan radikalisme.

[ads1]

 

Dengan bekal teriakan “Kembali ke Quran dan Sunnah,”mereka bisa jadi seperti sapi yang dicocok hidungnya. Di mata mereka, para pendakwah itu sangat menguasai agama seperti para salaf soleh, karena lugas memamerkan dalil Quran dan Hadis. Padahal sebagian cuma hapal nomer ayat, nama ayat dan teks terjemahannya.

Ektremisme kurang laku di UIN dan perguruan-perguruan berlabel Islam, karena sebagian mahasiwa yang pernah nyantri dan menguasai ilmu agama berpeluang untuk membantah dan memperlihatkan kedangkalan pemahaman keagamaan mereka.

Karenanya, tidak mengherankan bila LDK dan masjid-masjid kampus dikuasai mereka demi program perekrutan dan radikalisasi.

News Feed