KENAPA DAN MENGAPA

“Kenapa” berasal dari “karena apa”. Ia bisa berarti pertanyaan “apa sebabnya?” juga berarti “apa akibatnya”.
“Kenapa” dan “mengapa” mestinya berarti kata tanya tentang sebab niscaya sebuah akibat dalam realitas dan benak. Tapi tidak sedikit orang mereduksi makna “kenapa” dan “mengapa” untuk menunjuk sesuatu yang bukan sebab niscaya bagi sebuah fenomena, seperti anggapan anak dengan kebutuhan khusus sebagai akibat perbuatan dosa orangtuanya.
“Kenapa” dilontarkan karena penanya mencari sebab mental (dalam benak) berupa argumen valid dan mencari sebab realnya (dalam fakta) berupa fenomena. Bila sebabnya dipastikan tidak ada, muncul dua kemungkinan; a) Sebabnya tidak ada. Bila tidak ada, akibatnya pun tiada b) Ia bersifat apriori. Bila apriori, memerlukan sebab atau alasan yang memvalidasinya.
Dengan kata lain sebagian premis atau pernyataan tidak bisa disikapi dengan “mengapa” karena sebabnya tidak diketahui atau karena premisnya adalah swabukti yang bila ditimpa dengan “mengapa”, jadi kabur.
Secara umum, “mengapa” mengandung banyak makna.

  1. “Mengapa” s dilontarkan untuk mengetahui sebabnya.
  2. “Mengapa” dilontarkan untuk menyingkap tujuan sebuah perbuatan.
  3. “Mengapa” dilontarkan untuk menguji orang lain.
  4. “Mengapa” dilontarkan untuk membantah pernyataan seseorang, bukan untuk menanyakan sebabnya berupa argumen.
  5. “Mengapa” dilontarkan untuk mempertanyakan dan memprotes sebuah fenomena tragis atau ironis.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed