KESALEHAN DAN MODAL

Dulu para pembangkang menganggap kekayaan seseorang sebagai bukti kasih Tuhan dan kemiskinan seseorang sebagai tanda murka Tuhan.

Cara pandang kapitalistik borjuistik ini bukan produk zaman modern tapi merupakan karakter purba manusia yang tak percaya Tuhan.

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ ۚ
Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” (Al-Baqarah ayat 247).

Ayat diatas menjelaskan bahwa kedekatan dengan Allah dan kesalehan tidak diukur dari kekayaan dan kekuasaan yang kerap dipahami oleh banyak orang sebagai bukti rezeki dari Tuhan. Thalut terpilih sebagai salah satu hamba yang istimewa bukan karena kekayaannya namun karena kesalehannya.

Ayat ini juga menegaskan bahwa kekayaan bukanlah bukti rezeki, karena rezeki sejati adalah sesuatu yang mendekatkan kepada Allah. Thalut yang tak punya harta adalah hamba yang mendapatkan rezeki sejati.

Dari ayat ini dapat pula disimpulkan bahwa money politic dan oligarki telah menjadi bagian dari prilaku negatif jauh sebelum KPK dan Bawaslu dibentuk.

Dalam masyarakat yang beragama tanpa pandangan dunia yang terstruktur, kapitalisme tak muncul secara ekspilisit dan vulgar tapi muncul dalam kemasan mindset doktrin.

Pandangan kapitalistik ini telah beraduk dengan ajaran-ajaran agama yang telah diajarkan secara temurun, terutama tentang rezeki dan kebahagiaan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed