KETURUNAN ARAB BUKAN ORANG ARAB

“Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam jangan jadi orang Arab. Kalau jadi Kristen jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini,” (Bung Karno dikutip Megawati Soekarno Putri).

Saya tidak pernah mengagumi Megawati kecuali karena mengagumi dan merasa berhutang budi kepada ayahnya. Tapi pernyataan yang berkualitas mengutip pernyataan ayahnya yang membuat saya yang sejak kecil di-arab-arab “murtad” dari politik identitas dan mencampakkan doktrin primordialisme sektarian dan tribal.

Bagi saya, keturunan Arab bukan orang Arab dan bukan orang Yaman. Mereka adalah salah satu dari sekian banyak suku di Indonesia. Ia berdiri sejajar dengan setiap warga dari suku Jawa, Batak, Melayu dan lainnya dalam satu identitas bersama, yaitu bangsa Indonesia. Orang-orang keturunan Arab (alawi dan yamani) harus sadar itu. Warga dari suku-suku lainnya juga perlu menyadari itu.

Atas dasar kesadaran itu, saya yang kebetulan pernah menjadi anak angkat pria yang dituduh simpatisan PKI berusaha merawat pandangan yang seimbang tentang agama dan kehidupan.

Setelah belajar agama lalu menjelajahi dunia filsafat yang membuka mata akal, saya membaca banyak karya dalam negeri dan luar negeri, Muslim dan non Muslim termasuk karya para pemukir ateis. Saya melahap pidato-pidato Bung Karno dan dan pandangan-pandangan Tan Malaka juga lainnya, saya mereset mindset diri sendiri. Saya memulai segala sesuatu dari nol. Semua atribut sektarian dan etnik kami hilangkan agar anak-anak tumbuh dengan identitas baru. Mereka bahkan baru sadar menanggung takdir minoritas etnis dan mazhab setelah dibully teman-teman sekolah dan komplek. Tak ada simbol-simbol khas primordial dalam rumah. Semuanya dipersiapkan untuk menyongsong masadepan yang lebih modern dan beradab.

Dalam komunitas pun saya berusaha konsisten menyampaikan pandangan-pandangan seputar toleransi dan kebangsaan juga otokritik yang kerap ditentang oleh sebagian teman seetnis dan semazhab.

Betapapun stigma minoritas sulit dihilangkan, kami bangga mengaku Muslim toleran dan bangga mengaku warga Indonesia.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed