KILAS BALIK DEKLARASI GHADIR

KILAS BALIK DEKLARASI GHADIR

Setelah melakukan pembersihan kota kelahirannya, Mekah, pada 24 Dzul-Qa’dah atau 25, 10 / Februari tahun 632 Masehi, Nabi pergi dengan tujuan berhaji dari Madinah ke Mekah bersama ribuan sahabatnya (beberapa periwayat bahkan menyebutkan jumlah ini lebih dari 120 ribu orang). Haji Nabi ini juga disebut Haji al-Wada ‘, Haji al-Islam, dan Haji Al-Balagh.

Pada bulan itu, Imam Ali berada di Yaman dalam misi memperkenalkan Islam. Ketika diberitahu tentang haji Nabi, ia pun bersama timnya pergi ke Mekkah dan bergabung dengan Nabi sebelum ritual dimulai.

Seusai melaksanakan ibadah haji, Nabi SAW meninggalkan Mekah menuju Madinah bersama umat Islam lainnya.

Pada kamis Dzul Hijjah 18, (10/19) atau Maret tahun 632 Masehi, saat melintasi tempat bernama Ghadir, malaikat Jibril menyampaikan “Ayat Tabligh” kepada Nabi yang berisi perintah kepada Nabi SAW agar memperkenalkan Ali AS kepada publik sebagai wakilnya dan pemimpin setelahnya.

Setelah pewahyuan ayat tersebut, Nabi SAW memerintahkan kafilah untuk berhenti dan memerintahkan orang-orang yang telah melewati Ghadir Khum kembali dan menunggu sampai mereka yang belum sampai di sana bergabung dengan mereka.

Setelah melakukan shalat, Nabi SAW berpidato yang dikenal dengan Deklarasi Ghadir. Dalam pidato tersebut, Nabi SAW berkata, “Pujian hanya milik Tuhan dan kami meminta bantuan-Nya dan kami percaya kepada-Nya dan berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri dan keburukan kami atas tindakan kami … Tuhan, Yang Maha Penyayang dan Maha Tahu memberitahuku bahwa aku akan dipanggil menghadapNya (untuk Dia) segera dan aku pasti memenuhi panggilan-Nya … Aku akan datang ke telaga Kautsar sebelum kamu melakukannya dan kamu mendatangiku di sampingnya, maka berhati-hatilah dengan sikap kalian terhadap Thiqlayn (dua pusaka agung), yaitu Kitab Allah dan keluaraku. ”

Kemudian, Nabi SAW mengangkat tangan Ali supaya orang bisa melihat dia seraya berkata, “Wahai manusia, bukankah saya lebih pantas untuk perwalian kamu daripada kamu sendiri?” Orang-orang menjawab, “ya, wahai Nabi!” Kemudian, Nabi SAW bersabda, “Tuhan adalah waliku dan aku adalah penjaga orang-orang yang beriman dan saya lebih pantas untuk perwalian kamu daripada kamu untuk diri kamu sendiri. Oleh karena itu, siapapun yang mengimaniku sebagai wali, maka Ali adalah walinya. ” Nabi SAW mengulang kalimat ini tiga kali dan berkata, “Ya Tuhan, jadilah wali bagi yang mengimani Ali sebagai wali dan jadilah musuh bagi orang-orang yang memusuhinya. Bantu siapapun yang membantu dia dan tinggalkan orang yang meninggalkannya. ”

Beliau mengakhiri ceramahnya dengan anjuran, “orang-orang yang hadir di sini haruslah menyampaikan pesan ini kepada mereka yang tidak hadir.”

Bersambung…

News Feed