Komentar Sableng Soal ‘Mairil’

Saya dapat comment sableng atas posting bedah buku ‘Mairil’. Saya bingung, mau meloloskan atau tidak. Bayangkan pengirim yang pake e-name Kang Haji nulis sebagai berikut:

budaya mairil ada sejak dahulu kala, di pesantren salafiyah sepertinya sudah menjadi “tradisi” santri senior mairilan dengan santri yunior.

saya sendiri mantan mairil, waktu saya “bahlul alias bego” tentang sempetan yang dilakukan ustadz saya.

saya menyadari setelah kejadian itu berulang kali. waktu itu saya sih.. diam saja wong belum ngerti.

Eh.. enggak tahunya akhirnya saya merasakan juga “sempetan” dengan ustadz saya. sampai sekarang sama2 sudah keluarga kadang-2 saya masih melakukan “sempetan” dengan beliau.

Mungkin ada diantara para Ustadz, kyai yang sudah setengah baya (45-60 th) yang ingin shering tentang kehidupan “mairil” atan mantan “mairil” bisa :call me….xxxx

Sampai disini saya cut alamat emailnya, nomer telpon dan hpnya. Saya tidak tahu harus bersikap bagaimana. Yang jelas, ini comment yang sableng…

Pada paragraf akhir, dia sempat berterimakasih : atas segala attensinya menghaturkan Jazakumullah.

kang Haji

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 comments

    1. gelar haji itu di berikan kepada siapa saja yang berhaji … baik yang mabrur/ yang tidak ….. jadi postingin aja … sipa nama nya … bira jelas dan masyrakatpiun tak memukul rata bahwa semua haji seoperti itu …

  1. fenomena pak haji jangan2 bersentuhan dengan teori gunung es,jangan-jangan masih banyak lagi haji-haji tiarap berkedokan religius bahkan tokoh…..ada apa denganmu….??kasian kaum hawa nya dia juga butuh sentuhan

  2. Mungkin kita yang sableng…la wong kita hidup di zaman edan gini. di sana-sini orang edan berkeliaran….kita hidup di negeri orang-orang edan yang tentu tak mau menganggap diri mereka orang edan. jadi, karen kita masih melihat meril sebagai hal yang tak masuk diakal….mungkin kita yang sableng

  3. kalo info itu bener………….
    kayaknya pesantren harus menambah satu lagi bahan ajar : HARIMOLOGI

    biar tau beda harim sama rejal….

    miskin………… itu kang haji,
    ahsan die belajar tamattu’ tinimbang mairilan

    ML: kalau dia mah sudah terlanjr keenakan jadi “maf’ul”.

  4. fenomena meril memang benar2 ada,apalagi di pesantren yang jumlah santrinya banyak.saya sendiri ga abis pikir kenapa hal ini sekarang malah jadi tradisi di kalangan pesantren (maaf),tapi anehnya justru semua elemen pesantren terkesan merahasiakan hal tersebut,dan saya perhatikan tidak ada upaya tegas untuk menghilangkanya.
    saya aktifis LSM untuk HIV/AIDS di jakarta,setelah saya melakukan survey kepada para kucing (sebutan pelacur cowo untuk cowo) sebagian dari mereka adalah mantan anak pesantren.ini yg jadi pertanyaan saya,mengapa bisa anak yg pernah di pesantren bisa terjun di dunia prostitusi gay,apakah sekiranya ada hubunganya dengan fenomena meril itu,
    maaf sekiranya komentar saya ini sedikit membongkar tabir dunia pesantren,tapi tujuan saya insyaallah untuk kepentingan kita semua terimakasih…. wasalamualaikum…..

  5. para pembaca Mairil, penasaran bagaimana novel mairil disiapkanuntuk bahan tulisan Mairil, kalo aja para pembaca Mairil tahu bagaimana tahapan risetnya, pasti dah tidak duga, bahwa tulisan Novel Mairil disiapkan dengan riset yang jitu dan memakan waktu lama…..Yang jelas per-risetnya bukan pelaku mairil, ini menurut cerita penulisanya, karena waktu bedah buku Mairil, sang penulis cerita panjang lebar di luar forum bedah buku.

  6. banyak detail ttg kampung Sittah Ayyam, Sungai Berantas, pesantren imajiner, serta tokoh Ajengan tambur Sirulloh, yang sebenarnya, hingga kini makam Ajengan Tambur belum diketahui dimana (ini menurut perisetnya, tapi keturunan Ajengan Tambur banyak yang jadi kiai), tentang Nyai Sinto Nabila (haqul yakin) memang benar-benar masuk penjara, ada datanya. Kiai Berambut Gondrong dalam novel ini juga masih ada, memiliki pesantren di kaki gunung berapi, juga riil masih ada. Andai saja, cerita Mairil bisa di-filemkan ih serem, tapi setiap detail dari cerita dalam novel ini, HAQUL-YAQIN lilahi ta’ala, kata penulisnya masih ada, sekalipun ada juga yg sifatnya diimajinerkan.

  7. seharusnya memang kita tidak tutup mata atas hal tersebut… tapi apa iya, kita sebagai sesama mahluk yang bisa berfikir hanya mengomentari dengan kata- kata “tobat dan HIEXXSSS JIJEEYYY” lakuhkan sesuatu dunzz.. jangan hanya menulis seperti itu, cari tau sebab dan solusi…….. gak adil dunkzzz… untuk orang2 yang bersih dari hal tersebut… apalagi sebagai warga yang pernah nyantri……..

  8. ini yang harus kita rubah!sistem yang diterapkan ponpes sudah tdak sesuai dengan perkembangan zaman.pembinaan santri di ponpes juga harus memperhatikan kondisi psikologis santri,yang mau tidak mau akan mengalami masa puber.Pada masa ini seorang anak akan memiliki keinginan untuk berkenalan dengan lawan jenis,dan ini wajar, lalu kenapa ponpes mengekang merka.Kalau begini ponpes bisa jadi ponpes akan melahirkan ahli agama yang mempunyai kelainan seksual

  9. itulah akibat … globalisasi dan pondok pesantren terkena imbas , saat ada santri yang mungkin dah rusak ( suka onotn film porno,ada kelainan sex lainyya) masuk pondok sedang pengawasan kurang maka hal inipun bisa terjadi … dan perlu i tegaskna ini adalah sebuah penyimpangan karena di pondok gak ada pelajran mailril atau sebgaianya……. yang mana situs porno gamapang di dapat .. sbenere , tanpa adanya pengaruh tontonan porno saya yakin itu gak bakal

    saya harap siapa saja terutama pengpload / pempoting tulisan ini agar meluruskan .. dan seobyektif mungikn sehingga tulisan ini lebih bermanfaat , dg memberikan solusi atas maslash ini ( mengadakan kajian, kenpa ini bisa terjadi , dan bagaimana penanggulangannya…) dari pada akan merusak nama besar pesantren … yang cuma bikin sensasi dan membesarbesarkan masalh banyak ( dan mungkin dia senriri si penulis bagian darinya )tapi yang bisa ngasih solusi itulho yang penting

News Feed