Skip to main content

Komentar Terpilih: Seoharto, Marsinah dan Munir

By January 12, 2012One Comment

Banyak komentar yang masuk ke ke blog saya menanggapi posting-posting seputar Soeharto. Yang paling menarik adalah kiriman ‘hot’ dari Mas Trixi. Silakan membacanya, meski tidak mesti menyetujuinya.

Yang perlu dipersoalkan adalah: Apakah perlu memaafkan Suharto?? Ataukah menobatkan dia menjadi Pahlawan??Kenapa makhluk2 di sana berkoar-koar soal perkara itu?

Apanya yang perlu dimaafkan? Bukankah dia sudah dijadikan “pahlawan”? Kenapa pahlawan perlu dimaafkan? Apalagi kalau melihat prosesi penguburan Sang Jenderal Bintang Lima ini, lebih daripada prosesi pemakaman Munir, atau Marsinah. Bukankah dia telah menjadi “pahlawan” nasional yang agung?

Bapak Pembangunan? Kalau iya, maka apa yang perlu dimaafkan? Apakah karena jiwa-jiwa yang dituai pada masa DOM di Aceh selama 20 tahun itu? Atau korban-korban yang “tak disengaja” terbunuh di Papua? Orang-2 yang disangka PKI? Atau aktivis-aktivis yang menghilang itu? Atau korban gugur di Tanjung Priok? Lampung? Atau perang suku yang timbul setelah rejim ini mundur di Ambon, Sampit? Atau mereka yang gugur terbakar hidup-hidup di Pusat Perbelanjaan Klender selama kerusuhan Mei 98? Kenapa Suharto perlu dimaafkan? Bukankah nama dia telah diabadikan dalam sejarah negeri ini yang banyak bersimbah darah para pahlawan dan korban tak bersalah?

Kalau dia memang tidak berlaku zalim, apa yang perlu dimaafkan?Kalau dia pahlawan, kenapa warisannya hancur lebur seperti sekarang ini dan kekuasaannya dahulu sangat berbau darah? Apakah Orde Baru sudah dilupakan begitu saja? Ingatkah ketika kita “dibina” untuk mencoblos parta tertentu dahulu? Ingatkah kita kepada kawan-kawan kita yang hilang tanpa ketahuan dimana sekarang, atau tertembak tentara “elit” negara Indonesia?

Ingatkah kita seribu trilyun rupiah yang dikucurkan untuk “menafkahi” para konglomerat yang dahulu bangkrut namun kini telah menjadi semakin kaya dan berkuasa, dan tagihannya ada di tangan anak-cucu kita untuk melunasinya? Atau tidakkah kita sadar kalau masa lalu mempunyai keterkaitan dengan masa sekarang, sehingga kesulitan saat ini sangat banyak dipengaruhi oleh “kebijakan” masa Suharto, si Pahlawan Pembangunan itu, tanpa melupakan “sumbangsih” elit sekarang?

Dahulu kala, sekitar 1000 tahun yang lalu, negara kita adalah negara yang paling ditakuti di wilayah ini, penguasa lautan, penjaga keadilan…Namun sekarang belum pernah ada bangsa yang lebih lemah, lebih miskin, lebih memalukan, daripada diri kita. Kenapa tidak ada bangsa yang tertarik menginvasi negara kita? Karena kekuatan militer kita, yang Insya Allah bahkan akan kalah menghadapi tentara Nazi Jerman era Perang Dunia II? Ataukah karena sudah sedemikian besarnya kekacauan di ranah kita sehingga hanya orang gila yang tertarik menginvasi negeri ini?

Apa yang kita miliki? Minyak? Gas? Emas? Minyak Sawit? Bukankah semuanya telah dikapling oleh segelintir kecil warga negeri ini, dan hasil nya pun akan dihabiskan di negara luar tanpa ada kesempatan bagi yang termiskin di negara ini untuk mengambil sedikit berkah darinya?