KOMUNISME

 
Sebelum berdirinya Uni Sovyet dan disahkan sebagai ideologi negara oleh Lenin, Komunisme hanyalah mimpi siang bolong tentang kepemilikan bersama dan hilangnya hak individu yang menghapus jurang menganga antara juragan dan buruh.
 
Komunisme, yang terinspirasi oleh gagasan Karl Marx, telah dijadikan sebagai ideologi yang telah dicoba untuk diterapkan di Uni Sovyet oleh Lenin setelah berhasil menumbangkan Pemerintah Rusa dalam Revolusi Bolshevik pada 25 Oktober 1917 atau dikenal juga dengan Revolusi Oktober.
 
Manifesto Komunis yang dicetuskan Karl Marx bersama Frederick Engels dan menjadi “mimpi mulia” Lenin dilanjutkan oleh Stalin dengan pemaksaan dan represi yang justru bertentangan dengan substansi dan tujuan Komunisme itu sendiri.
 
Marx memberikan preskripsi berdasarkan analisis histomat, Lenin menjadikannya imperatif tatanan politik berpijak pada sentralisme demokrasi sementara Stalin membangunnya melalui pemerintahan tangan besi dan sentralisme birokrasi.
 
Komunisme bukanlah Marxisme semata. Marx memang punya andil besar tapi banyak tokoh yang ikut mempengaruhi Komunisme, seperti Friedrich Engles, Leon Trotsky, V.I Lenin, Joseph Stalin dan lainnya.
 
Terinspirasi dari gagasan dialetika Hegel, Karl Marx bercita-cita mengubah kekacauan sistem ekonomi maupun sosial menjadi kesekjahteraan melalui penentangan dan perubahan secara keseluruhan dan radikal seperti revolusi, kudeta, dll. Pemikiran Marx inilah yang kelak sangat berperan melahirkan sosialisme dan komunisme.
 
Para tokoh yang terinspirasi oleh ajaran Marx mengembangkan Marxisme dengan penafsiran yang berbeda-beda. Lenin, misalnya, beranggapa bahwa elemen perlawanan kelas bukan hanya kaum buruh tapi seluruh kaum proletar, termasuk kaum petani. Lenin berpendapat bahwa komunisme hanya bisa mewujudkan revolusi melalui sistem poliltik yang dipimpin seorang revolusioner berupa partai politik. Inilah yang dikenal dengan Marxisme Leninisme.
 
Sepeninggal Lenin, kendali revolusi Bolshelvik dipegang oleh Stalin. Beberapa pandangan Lenin ditolaknya. Meskipun keduanya mendukung diktatorisme proletariat sebagai pengontrol para proletar, Stalin tidak hanya mendukung kontrol politik melalui partai tetapi menganggap represi sebagai sarana penting mengawal revolusi. Konon Stalin juga tidak mendukung ekspor revolusi ke seluruh dunia.
 
Selain Leninisme dan Stalinisme, salah satu submazhab Marxisme adalah Maoisme. Mao, seperti Stalin, menganut revolusi dengan represi demi menghapus kepemilikan tanah. Karena mayoritas rakyat China adalah petani, Mao memberikan peran penting kepada para petani sebagai elemen proletar untuk mengendalikan revolusi. Karena itulah, “dari desa (petani) mengepung kota” menjadi jargon Maoisme.
 
Karena Marx membangun gagasannya dengan dialektika, maka menyenggol Hegel menjadi “wajib”. Mungkin banyak orang bingung mencari hubungan Marxisme, yang merupakan cabang materialisme, dengan Hegel yang dikenal sebagai filsuf idealis dan metafisikawan penentang empirisisme.
 
Akal sehat menerima kekayaan dan kemiskinan sebagai keniscayaan dan dinamika. Agama Islam dan agama-agama lain menetapkan norma-norma dan cara manusiawi bagi setiap individu untuk bertahan hidup dengan memperhatikan hak individu lainnya. Komunisme berangan-angan menghapus hak kepemilikan individual. Itu jelas ditolak oleh akal sehat.
Untuk menjadi penentang monopoli, oligarki dan konglomerasi serta kolusi tak perlu jadi komunis dan PKI. Menentang kezaliman para industriawan tamak tidak identik dengan komunisme. Setiap manusia berakal sehat dan berhati bugar, apapun keyakinannya, pasti menolak kezaliman.
Komunisme di tempat kelahirannya sudah mati. Tak mungkin ada orang yang punya kesadaran memimpikannya hidup di Indonesia yang sudah punya Pancasila.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed