Kontrak LNG Tangguh, Buah Kebodohan

Kontrak gas Tangguh ditandatangani pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Saat itu, Yudhoyono menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan dan Kalla sebagai Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Tim negosiasi Tangguh dipimpin Taufik Kiemas, suami Megawati.

 

Untuk negosiasi ulang itu, Presiden menugaskan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sri Mulyani membentuk tim yang kuat bersama tim teknis terkait.

 

Akhir pekan lalu, sesaat sebelum menghadiri penutupan Olimpiade Beijing, Wapres Yusuf Kalla bertemu Wapres China Xi Jinping. Menurut Kalla, keduanya sepakat menegosiasi ulang kontrak gas Tangguh. Tidak ada satu keterangan pun dari pihak China soal hasil pertemuan atau konfirmasi soal pernyataan Kalla.

 

Karena pernyataan Kalla, persoalan kontak gas Tangguh kembali hangat dibicarakan. Pembicaraan ini tidak lepas dari rivalitas yang tidak pernah padam antara Pemerintah dan Oposisi di DPR. Pemerintah diwakili Yudhoyono-Kalla dan Oposisi diwakili Megawati. Saat ini Oposisi di parlemen tengah menyelidiki sejumlah kasus soal kebijakan energi termasuk kebijakan kenaikan harga BBM oleh pemerintahan Yudhoyono-Kalla.

 

Bola liar bernama LNG Tangguh terus bergulir. Saling serang antara pemerintah dan PDIP selaku pihak oposisi pun terjadi. Apa kata pengamat?

 

Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Andrinof Chaniago, tidak melihat isu LNG ini merupakan upaya pemerintah untuk menyerang pihak oposisi. Alasannya, isu ini muncul bersamaan dengan naiknya harga komoditas primer sehingga wajar jika menarik perhatian publik.

 

“Saya tidak melihat isu ini sebagai serangan terhadap PDIP. Karena isu ini kan muncul bersamaan dengan naiknya harga komoditas primer. Tentu itu membuat orang merasa kaget. Mereka sadar bahwa dalam kontrak yang dibuat kita dirugikan,” jelasnya.

 

Andrinof pun mendukung jika debat publik digelar antara PDIP dengan pemerintah terkait dengan isu ini. Dengan adanya debat itu, kata dia, publiklah yang akan menilai dan menjadi hakim dalam perkara ini.

 

“Baguslah, supaya terbuka ke publik. Agar publik menjadi hakim yang menilai,” ujarnya

 

Sementara itu, menurut Amien Rais, dari kontrak tersebut negara dirugikan ratusan triliun. Dan dia berharap langkah JK bisa ditindaklanjuti oleh pemerintah. “Dengan langkah Pak JK ini semoga bisa ditindak lanjuti dan dikuti elemen pemerintah yang lain,” ujar Amien.

 

Amien mengatakan, jalan pembuka oleh JK ini bisa menjadi motivasi bagi pemerintah agar ke depannya lebih mempetimbangkan kepentingan rakyat dalam hal investasi, terutama investasi yang menyangkut SDA. Dan memang sudah seharusnya pemerintah melakukan renegosiasi tersebut.

 

Amien lebih berharap lagi jika pemerintah melakukan hal yang sama terhadap kontrak-kontrak investasi lainnya. Selain itu, pemerintah harus berani menyatakan kebijakannya terhadap harga-harga yang disetarakan dengan harga pasar dunia.

 

 

Kontrak LNG Tangguh disetujui pemerintah pada tahun 2002. Saat itu pemerintah setuju dengan tawaran kontrak seharga 2,4 dolar AS per mmbtu dan merupakan nilai kontrak terendah sedunia. Selain itu, harga yang ditetapkan tersebut bersifat tetap atau flat selama 25 tahun. Sedangkan saat ini harga LNG dipasaran international berkisar 20 dolar AS per mmbtu, dari data ini Amin mengungkapkan negara merugi ratusan triliun rupiah pertahun.

 

 

“Seperti Free Port, Newmont, Cevron dan yang lainnya itu harus direvisi lagi kontraknya, sesuaikan harganya dengan harga pasar international. Jadi istilahnya dibalik,” ujar Amin.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 comments

  1. ini bukan lagi rahasia, siapapun yg berkuasa pada akhirnya akan susun strategi bagaimana bisa menarik harta karun bangsa ini, ketika dia sudah mental dari singgasana jabatannya ; dia buat ‘bonus royalti’ untuk tujuh keturunannya (fassive income abadi), atau modal untuk merebut kembali kekuasaan yang pernah dipegangnya, sejak orde baru tumbuh lingkaran setan ini dah menjadi sebuah sistem yang sangat sulit untuk dibongkar… semoga pemimpin NKRI 09 menjadi gerbang bagi bangsa ini untuk menancapkan pondasi menuju Negara Gemahripah lohjinawi…

  2. Permasalahannya simple:

    1. Pada saat kontrak itu dibuat nilai minyak belum se-sexy sekarang ini
    2. Pikiran simple spt no.1 di atas tidak masuk diakal di dunia perminyakan dengan alasan simple juga, tidak ada kemungkinan kalau minyak bumi itu akan turun nilainya, yang ada naik, logika sederhananya emangnya cadangan minyak ga akan habis….!yang ada supply berkurang demand meningkat
    3. Kebetulan yang menjadi ketua tim negosiasi kala itu adalah suami tercinta ibu presiden.
    4. Gas adalah subtitusi minyak, jika minyak naik maka gas akan terdorong naik, akan tetapi kenyataannya nilai gas dipatok flat…!
    5. Kita adalah pembuat kontrak kerjasama terhebat di dunia. Seluruh dunia yang memakai azas manfaat bagi kemaslahatan rakyatnya menganut filosofi kontrak perminyakan dan gas milik Indonesia. Nah kontrak itu tidak dipakai pada saat negosiasi dengan Cina….

    simple as that !!!

  3. sepenuhnya langkah JK ini benar dan bagus…
    cuma tema ini buat saya terindikasi dalam rangka campaign 2009 buat lawan politik PDI P. dan ini sah2 sah saja…
    cuma khawatirnya isu ini cuma diharapkan menggelinding di lokal bukan target pencapaian renegoisasi harganya.

    selain itu…Proyek EPC kontrak ini di lakukan di LN
    sehingga keterlibatan kontraktor lokal sangat minim sebagai akibatnya potensi pendapatan dari pajak lokal dan multiplier efek roda ekonomi tdk jalan..uang itu hanya berputar di USA…

    Masalah lain… yang sebenarnya juga urgent adalah….
    bgmn kasus blok cepu…knp saat harga minyak sedang tinggi tdk produksi2 juga…bukankah ini potential loss…
    dan knp pemerintah terkesan adem ayem tdk menekan EMOL, bahkan early production yg diajukan EMOL harganya sangat fantastis…
    kenapa SBY JK diem aja…
    apakah karena USA ownernya….

  4. Sebenarnya yang salah itu bukan cuma Megawati sebagai presiden, tapi seluruh jajaran pemerintahan waktu itu, saya yakin bukan cuma LNG tangguh saja yang jadi ‘dosa’ Megawati terhadap negeri kita ini, masalah penjualan aset2 negara strategis seperti Indosat yang lagi lagi ada Taufik kiemas sebagai RI-0 nya Indonesia yang merupakan biang dari kehancuran terhadap anak pertama mendiang proklamator kita yaitu Eyang Soekarno.
    Nah, sekarang saya juga ga sepenuhnya sependapat dengan statement bahwa JK dan SBY bersih dari ‘dosa’ terhadap negeri ini, bahwa mereka mencoba untuk mengusut/renegosiasi kontrak Tangguh ini hanya sebuah Lipservice aja, Mana mungkin Cina mau merubah Kontrak yang sudah ditanda tangani didalam hubungan bilateral yang terjadi pada tingkat Presiden! dan ini sudah pernah dilakukan pada tahun 2006 dan hasilnya tetap saja tidak berubah.. oleh karena itu janganlah kita ini dibodohi terus. Untuk kita sebagai masyarakat yang sudah mengerti bahwa ini hanya permainan para elite untuk saling menjatuhkan dan mencari simpati dengan cara2 yang kotor seperti ini maka sudah sewajarnya kita saling mengingatkan bahwa kedepan kita harus memilih pemimpin2 yang bersih, jujur dan punya kemauan yang kuat didalam memajukan negeri ini. Namun siapa orang itu hanya Allah SWT yang tahu. semoga kita selalu diberikan kekuatan untuk melakukan yang terbaik bagi negeri kita tercinta ini.. amiin

News Feed