Kontroversi Seputar Mukernas PKS di Bali

Maksud hati untuk promosi, ke Bali malah menuai kontroversi. Tetap Bersih dan Peduli, Semoga!

Ini kisah tentang kader PKS, saat itu dia sedang butuh uang untuk kepulangan saudaranya dari menuntut ilmu di negeri seberang. Dia mencoba meminjam dana ke anggota legislatif PKS. Hanya janji tapi tak diberi. Di lain kisah, ada kadernya yang dulu ikut sibuk membantu Pilkada, tetapi ketika isterinya sakit parah, tak ada tanggapan apa pun dari struktur PKS. Anda bisa bayangkan bagaimana perasaannya ketika dia mendengar PKS wisata eh Mukernas ke Bali?

Nyatanya krisis tak hanya milik kader PKS, tapi juga rakyat Indonesia umumnya masih megap-megap dihimpit krisis. Tak heran bila tuntutan untuk hidup sederhana begitu kencang disuarakan. Dengan jargon Bersih dan Peduli, partai berlambang sabit kembar ini memang menjanjikan. Lihat bagaimana Pak Hidayat yang menolak mobil mewah dan perjuangan mereka yang terangkum dalam buku, Bukan di Negeri Dongeng.

Tapi, cerita memang belum berakhir. Februari yang basah oleh hujan. Banjir di Jakarta menyebabkan penerbangan di bandara internasional Soekarno Hatta mengalami gangguan. Ini tak menyurutkan langkah PKS untuk Mukernas di Pulau yang berjuluk Pulau Dewata ini. Padahal di bulan sebelumnya, (27/1) gema takbir memekik langit Jakarta ketika PKS menggelar Munashoroh Palestina.

Kontroversi menghangat ketika situs eramuslim.com mengangkat di rubrik oaseiman di bawah judul Antara Bali dan Gaza. Tapi tayangan itu hanya berumur sehari. Ada tekanan? ”Ah enggak, supaya eramuslim.com aman saja,” kata Rizki Ridyasmara yang mempostingnya.

Lebih lanjut Rizki menjelaskan, bahwa itu bukan tulisan berita, makanya ditaruh di rubrik oaseiman. Dirinya hanya menceritakan pengalaman pribadinya. Rizki meyakinkan bahwa menulis tanpa bumbu tendensi apa pun.

Kenapa di Bali? Menurut Wakil Sekjen PKS, Fahri Hamzah, orang islam sudah 500 tahun bermukim di Bali. Bali termasuk wilayah Indonesia juga. Kemaksiatan di Jakarta juga tak kalah hebat dengan di Bali. Orang sering mengatakan Bali tempat maksiat. ”Tidak boleh memandang bumi Allah dengan cara seperti itu. Tidak boleh kita menghina bumi Allah bertentangan dengan ajaran Islam sendiri,” katanya.

Menurut Fahri beda pendapat hal yang wajar. Bali sekarang dipilih, besok bisa saja Medan atau Papua. PKS biasa keliling Indonesia mengadakan safari dakwah agar lebih menyeluruh. Harapannya bisa dikenal lebih baik lagi oleh masyarakat.

Pilihan Bali menimbulkan kontroversi dan ini membuat orang baik internal maupun eksternal PKS membicarakannya. Sangat bagus untuk promosi. Kalau kita tidak dikenal kita tidak akan dipilih. Jangan kalah dengan partai lain yang sudah puluhan tahun memperkenalkan diri.

PKS ke Bali juga sebagai penghargaan kepada kadernya di Bali, karena mereka juga berdakwah di sana. Kalau Bali disebut kota maksiat. Bagaimana dengan Jakarta, di kota ini juga maksiat sudah lengkap. Kalau kadernya tidak di support, mengapa harus mendirikan lembaga dakwah di sana.

Bali memang Pulau Wisata yang masyhur di mancanegara. Memang cocok untuk promosi partai. Secara taktik politik, PDIP dan Golkar juga PBR menggunakan provinsi ini sebagai alat promosi partai.

Tapi benarkah ada pergeseran visi di PKS? “Tidak!” tegas Fahri.

Lebih lanjut Fahri mengatakan bahwa dirinya optimis target perolehan suara pemilu minimal 20 persen dapat tercapai. Alasannya PKS merupakan partai yang solid. Tidak ada konflik internal mulai dari ranting hingga DPP. “Apalagi kualitas SDM juga bagus dan punya nilai lebih,” jelasnya.

Memang apa pun yang dilakukan partai tidak akan lepas dari kritik, ketika PKS seragam orang mengira PKS partai yang feodal. Tapi ketika ada riak perbedaan mereka juga tak sepi dari kritik.

Suara bijak diucapkan oleh KH Ahzami Samiun Jazuli, salah seorang yang tergabung dalam majelis syuro. Menurutnya ketika perbedaan itu dalam lingkup ijtihadiyah, dirinya menghormati. Kalau perbedaan itu upaya makar atau hal-hal yang tidak disepakati dalam dakwah ini, tentu tidak cukup dengan nasihat. “Ada langkah-langkah yang lebih bijak yang disetujui oleh kita semua,” katanya.

Kita lihat saja, kalau kelakuan orang-orang PKS di Bali sama dengan partai lain, berarti ya memang enggak beda. Menjadi bersih dan peduli memang harapan kita semua.

(Analisis Eman mulyatman)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 comments

News Feed