Skip to main content

kosmik2.jpg

Pada awal 2002 saat memutuskan untuk tinggal di Jakarta karena kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Ciputat, beberapa teman mendorong saya untuk membuka sebuah forum diskusi yang diharapkan mampu melahirkan gagasan alternatif di tengah dua arus pemikiran Islam literal (wahabi dan derivatnya) dan Islam liberal yang pada masa itu sangat menggebrak.

Perlahan-lahan berdirilah sebuah kelompok studi yang didanai oleh para partisipan secara sukarela dengan nama KOSMIC (Komunitas Muslim Inklusif). Lembaga non formal ini bediri di atas visi inklusifitas, egaliterianisme dan keindonesiaan. Alhamdulillah selama beberapa waktu, visi itu terjaga dan diskusi-diskusi rutin, terutama Jumat malam, berjalan lancar, dengan menghadirkan secara bergantian tokoh-tokoh yang menonjol dalam bidangnya.

Namun di penghujung 2004, banyak kendala muncul, terutama soal konsistensi dan lagi-lagi dana. Saya pun harus mencari sedikit uang demi membiayai kuliah S3 dan biaya hidup. Teman-teman yang lain juga begitu. Akhirnya Kosmik pun mengalami cuti panjang, meski tidak pernah dinyatakan bubar secara resmi.

Sejak saat itu banyak teman yang mendorong saya menghidupkan kembali lembaga yang unik itu. Kini suara-suara ajakan itu makin kencang. Saya pada dasarnya sangat setuju, namun saya lebih menurut saya, yang menjadi aktornya haruslah teman-teman eks Kosmik atau teman-teman yang memiliki visi yang sama. Saya harus tahu diri dan hanya akan berposisi sebagai pendukung. Regenerasi harus berjalan. Figurisme dan patronisme tidak semestinya dirawat.

Nah, saya sangat mendukung bila ada pertemuan awal semacam reuni atau sharing awal yang menghimpun semua masukan dan ide untuk menghidupkannya. Menurut saya, nama lembaganya tidak mesti Kosmik, karena yang lebih penting adalah semangat dan visinya, bukan nama dan simbolnya. Bagaimana menurut anda ‘Kosmic Reloaded’?