‘Kota Injil’, Fundamentalisme Kristen?

Keinginan Pemkab dan DPRD Manokwari menyusun rancangan peraturan daerah (raperda) pembinaan mental dan spiritual berbasis Injil menuai kritik dari banyak kalangan, termasuk Kristen. Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Dr. Richard M Daulay, mengatakan, sebuah kota haruslah terbuka dengan memberikan ruang publik yang luas. Tidak boleh ada perda yang hanya berlaku untuk satu etnis, agama, atau suku tertentu.

Ketua MUI, Umar Shihab, menyarankan agar Pemkab Manokwari mengganti istilah ‘Kota Injil’ yang berpotensi menimbulkan perpecahan karena daerah lain bisa menuntut hal serupa. Menurut Hidayat Nur wahid, jika rancangan peraturan daerah (raperda) di Manokwari itu disahkan, sehingga misalnya akan melarang pemakaian jilbab di tempat umum dan pendirian mesjid, maka itu berlebihan dan bisa memecah belah bangsa kita. Sementara itu, Ketua Dewan Syariah PBNU, KH Ma’ruf Amin mengemukakan pendapat yang lebih longgar. Ia menganggap reperda itu sah-sah saja, bahkan tidak berkeberatan dengan klausul larangan menggunakan pakaian yang mencerminkan simbol agama dan larangan pendirian tempat ibadah di dekat gereja. Namun, itu semua dengan syarat bahwa Manokwari harus menjadi kota khusus yang tertutup, tidak menjadi ibu kota Provinsi Irian Jaya Barat.

Sementara sejumlah pakar tata negara menganggap usulan dan rancangan tersebut tidak proporsional meskipun berasakan undang-undang otonomi daerah. Prof Eko Prasojo, Guru Besar FISIP Universitas Indonesia (UI), menilai upaya itu sebagai bentuk pelaksanaan otonomi daerah (Otda) yang kebablasan, sebagaimana dikutip Republika, (24/3).

Dari sisi lain, sebagian kalangan menilai mencuatnya usulan ini bisa ditafsirkan sebagai indikasi nyata bahwa fundamentalisme dan fanatisme tidak hanya terjadi dalam komunitas Muslim, tetapi juga berkembang dalam masyarakat Kristiani Fenomena ini sejak lama telah menjadi objek keprihatinan sejumlah tokoh dan intelektual Kristen yang rasional. Adakah ini memang pertanda maraknya Kristen fundamentalis yang berkarakter agresif dan anti-pluralitas?

Menurut Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat, gerakan fundamentalisme Kristen adalah gerakan yang sangat modern; mereka memanfaatkan teknologi modern untuk menyebarkan doktrin-doktrin dan visi-visi mereka ke seluruh dunia (internet, televisi satelit, televisi kabel, dan lain-lain.); mereka menerapkan ilmu manajemen modern untuk menggalang dana secara massif dan mengelola ekspansionisme gerakan dan organisasi mereka; mereka mempelajari dan menerapkan insights yang diperoleh dari kajian-kajian modern antropologi sosial-budaya untuk bisa masuk dan beradaptasi dengan suku-suku asing dan terasing di dunia demi upaya kristenisasi, melalui program dunia “evangelism explosion” mereka; mereka mempelajari peta politik, ekonomi, dan bahasa-bahasa penduduk lokal dalam wilayah negara-negara yang sudah masuk ke dalam daftar upaya tersebut; mereka membekali, melalui metode-metode modern, para “gerilyawan” mereka dengan keterampilan-keterampilan praktis-efektif untuk bisa masuk ke kawasan-kawasan “lawan” yang sedang menjadi target misi proselitisme mereka; mereka mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan modern untuk bisa berpolemik demi mempertahankan “keilmiahan” teks-teks Alkitab; dan lain sebagainya. Hal-hal ini menunjukkan bahwa mereka adalah organisasi modern, yang dikelola secara profesional dan memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapai melalui sarana-sarana modern.

Setelah menggambarkan masa depan manusia yang terancam oleh bayang-bayang kemusnahan dan annihilation sebagai akibat dari fundamentalisme dalam Kristen, ia menghimbau gereja-gereja arus utama untuk mengenali lebih dalam fundamentalisme Kristen agar dapat disikapi. Lebih lanjut, ia menyebutkan sejumlah ciri khas fundamentalisme Kristren kontemporer dalam sebuah artikel panjang. Namun, yang paling menonjol adalah tiga ciri khas berikut:

Pertama, Kristen fundamentalis menganut ‘literalisme biblikal’. Para fundamentalis Kristen, dengan berpijak pada doktrin sesat “inerrancy of the Bible”, menekankan bahwa apa pun yang tertulis dalam Alkitab cukup diterima dengan iman saja, bahwa apa pun yang sudah ditulis di dalamnya adalah kebenaran mutlak yang melampaui segala zaman, berlaku kekal, berwibawa untuk segala tempat dan manusia. Jika seluruh pesan dalam Alkitab dilaksanakan secara literal, dalam dunia kita sekarang ini, maka menurut Rakhmat—mengingat Alkitab juga memuat pesan-pesan kekerasan—dunia akan senantiasa berada dalam bayang-bayang maut kehancuran semesta, seperti yang diinginkan para literalis biblikal fundamentalis Zionisme Kristen di Amerika Serikat, yang berpengaruh dalam penentuan kebijakan politik luar negeri Amerika dan kemunculan fundamentalisme Kristen di berbagai belahan dunia.

Kedua, Kristen fundamentalis bermental triumfalistik ekspansionistik. Menurutnya, para penganut fundamentalisme Kristen memandang versi Kristen mereka sebagai versi agama yang paling unggul, paling benar, dan paling baik, jika dibandingkan dengan agama-agama lain non-Kristen dan versi-versi lain Kristen; dan, karena keunggulan ini, mereka memandang versi Kristen mereka sebagai ajaran yang harus disebarkan ke seluruh penjuru bumi, dengan mengeliminasi agama-agama lain non-Kristen dan menjadikan orang-orang non-Kristen bertobat dan melakukan konversi agama ke versi Kristen mereka. Mereka memiliki keyakinan bahwa pada akhirnya di dunia ini hanya akan ada agama tunggal yang benar, yang tampil sebagai sang pemenang tunggal, yakni agama Kristen fundamentalis.

Ketiga, Kristen fundamentalis berkolaborasi dengan kapitalisme Barat. Kalau gerakan-gerakan Islam militan di Indonesia sering dikaitkan dengan Saudi Arabia yang merupakan pusat wahabisme dan salafi, maka fundamentalisme Kristen di Indonesia berafiliasi dengan kapitalisme global yang berpusat di Inggris dan Amerika, yang menjadi penyuntik dana besar gerakan-gerakan Kristen yang mempunyai misi ekspansif di wilayah mana pun di dunia.

Keempat, gerakan fundamentalisme Kristen di Indonesia berlangsung tidak terbatas hanya di kalangan kelompok-kelompok mereka sendiri (yang berbentuk “inborn” atau melalui “conversion”) sebagai sub-sub kultur atau ghetto dalam kultur-kultur yang lebih besar, tetapi juga sudah dan sedang dengan agresif, lihai, dan tanpa nurani menyusup ke gereja-gereja arus utama yang anti-fundamentalisme. Mereka memakai strategi dan taktik penyebaran secara “diam-diam” (sebagai para gerilyawan religius yang umumnya diutus untuk menyusup ke kalangan muda gereja arus utama) atau secara “terang-terangan” ketika menemukan diri mereka sudah cukup kuat dan berakar di dalam organisasi-organisasi gereja-gereja arus utama—yakni ketika mereka sudah berhasil menempatkan atau bersahabat kental dengan para “pelayan” gereja yang kemudian (anehnya) terlibat secara penuh dalam gerakan fundamentalisme Kristen dan rela menjadi para warrior untuk memperjuangkan perluasan pengaruh kekuasaan dan teritori mereka.

Keenam, para penganut fundamentalisme Kristen dihinggapi suatu gejala mental eksesif, atau yang biasa disebut sebagai “narsisme radikal”—yakni rasa cinta diri dan maniak diri, yang sangat mendalam dan berlebihan dan membuta, baik terhadap apa yang mereka persepsikan sebagai kebenaran maupun terhadap ideologi-ideologi religius, politik, ekonomi, dan kebudayaan yang sudah berhasil mereka bangun dan pertahankan.

Yang jelas, fundamentalisme, baik dalam Islam maupun Kristen, mesti disikapi dengan serius dan diantisipasi para tokoh kedua agama agar kekerasan yang merugikan bangsa ini tidak makin merembet ke daerah lain.


Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

37 comments

  1. ADA APA DENGAN BANGSA INI? KATANYA DEMOKRASI? MENGAPA ADA PEMBATASAN. BUKANKAH PENETAPAN SYARIAH ISLAM DI INDONESIA DAN SUDAH DIKEMBANGKAN DIBEBERAPA DAERAH JUGA ADALAH berpotensi menimbulkan perpecahan karena daerah lain bisa menuntut hal serupa dan bisa memecah belah bangsa kita. JANGAN LANGGAR HAK AZASI??

  2. Kalo negara pengen aman dan tentram.. kita harus bisa bekerjasama. Caranya yaitu dengan tidak memaksakan kehendak kita… Ini Negara Mayoritas Muslim.. jadi yg non Muslim Jangan memaksakan kehendaknya untuk mengubah negara ini menjadi Kontra dengan jati dirinya… Jangan disalah kan kalo banyak yg protes masalah perda tersebut…sebab itu pemaksaan kehendak bukan demokrasi.

    1. krn indonesia Mayoritas Islam, jdisemua harus ikut aturan islam jga? sbnrnya gw jg gk setuju ama peraturan ini! tapi di Aceh kok semua org harus pake jilbab dan kopiah?? trus yg agama laen gmn??

  3. ankal yahudu wanasor hatta tatabia milatahum jadi tidak akan rela orang yahudi dan nasraniter hadap umat islam sebelum mereka{umat islam}mengikuti ajaran,prilaku,agama mereka.jadi ketika mereka melarang kita dalam urusan ibadah dan kita mampu untuk melawannya maka kita wajib berjihat untuk melawanmereka.karena itu merupakan salah satu perbuatan yg mengganggu ketentraman kaum muslimin dalam beribadah

  4. sedikit memberikan perenungan bersama, bagi kaum muslimin dalam menyikapi kebijakan perda yang seakan-akan menganak tirikan sebagian masyarakat nya(umat islam)maka hendaknya kita tetap menjaga ketentraman yang sudah terbina selama kita merasa tentram dalam melaksanakan ibadah, salah satu bentuk demokrasi di dalam ajaran islam adalah tetap menjaga hubungan harmonis antar agama(bagi kamu agama mu dan bagiku agama ku)di sinilah bentuk demokrasi agama islam yang tidak memaksa hak asasi manusia di dalam menjalankan perintah agama. Di dalam ajaran islam dan merupakan keistimewaan nuntuk kaum dhimi (kaum nasroni yang hidup di pemerintahan islam)merupakan tanggung jawab pemerintah tersebut mengenai jaminan ketentraman dalam beribadah dan keadilan terhadap hak nya. Adapun kaum nasroni yang mayoritas hendak nya bisa saling bekerja sama saling memberikan imbal balik menghargai umat yang minoritas.

  5. Bagi saya, sah-sah saja. Toh negara ini telah membuka peluang bagi agama tertentu untuk menerapkan hal yang sama maka bila terjadi reaksi dari agama lain jangan di vonis dunk….dengan demkian saya kira Umar Shihab, Prof Eko Prasojo, Hidayat Nur wahid perlu lebih arif melihat hal ini dan jangan gembar-gembor tentang memecah belah bangsa. Terlalu naif, beranikah mereka mengkritisi tentang Syariat? Betapa susahnya sebuah rumah ibadah dibangun di daerah mayoritas agama tertentu.Untuk Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat, Pdt. Dr. Richard M Daulay..bunng bukan orang sini dan lagipula bung tidak pernah merasakan seperti yang dirasakan kami. Jadi bung berdua lebih baik rasakan dulu baru ngomong.

  6. raperda kota injil berbasis sara. ini bisa memancing konflik antar sara. mohon pemerintah pusat tuk meninjau dan mempertimbangkan lagi. & jangan tanggung2 tuk mencegah ini. ingat pancasila dasar negara kesatuan bukan negara agama tertentu.

  7. apakah memang ini aspirasi warga lokal, apa saja item2 nya yang membuat ke’khusus’an ini berbeda…?
    mungkin mereka pengen membuat hal yg sama dgn kekhususan Nanggroe Aceh Darusaalam dan beberapa daerah/kabupaten di Indonesia yg memberlakukan perda syariat Islam….

    menurut saya, kalo hanya sekedar ‘simbolisasi’ kesalehan dan ketaatan masyarakatnya akan agama nya, why not, tapi kalo pada implementasi dan praktisnya justru kontraporduktif dan menghambat hak pemeluk agama lain untuk beribadah sudah tentu hal ini perlu di kritisi…

  8. Makanya, sudahlah gak usah bikin perda berbasiskan ini atau itu yang bikin orang lain ngeri. Bikin aja perda yang langsung berdampak pada pengentasan kemiskinan dan mencerdaskan kehidupan rakyat. Ingat lho, negara ini milik bersama; bukan milik salah satu golongan saja.

  9. Maaf saya juga pingin ikutan… Boleh doooong..!!

    Kenapa semuanya jadi perang kata-kata begini…?
    Coba buktikan apa yang sudah anda semua lakukan terhadap agama dan diri kalian masing-masing hah…? Apakah anda-anda semua sudah menjadi orang yang saleh dan taat dalam hal memuliakan TUHAN…? Apakah anda semua telah menjadi ” MANUSIA yang BERSERAH DIRI “…? Yang satu mau bikin kota INJIL… Yang lain mau berjihad melawan usulan tersebut… Dan yg pasti kita perang melawan saudara sebangsa dan setanah air. Semua punya kelebihan dan kekurangan. Yang begini di urusin… Kita semua aja selama 42 tahun di bohongin masalah G.30S PKI tapi biasa aja tuh… Lha kok yang begini malah di bikin masalah…?
    Peristiwa gereja-gereja di bom pada malam natal saja gak di besar-besarkan oleh mereka lalu kenapa harus pada ribut…? Ahhhhh capek deh..

  10. manusia bisa buat segala komentar, bangsa ini sudah diambang kehancuran. jika para pemimpin tidak bertobat apapun jenis peraturannya, siapapun pemimpinnya, ia tidak dapat berbuat apa-apa selain ngomong doang. itu makanya jangan hanya beragama pastikan diri anda masing-masing sudah menjadi milik TUHAN. Kalau hanya beragama semua orang sudah punya agama. tapi yang punya Tuhan belum tentu karena agama tidak membawa kamu-kamu ke Sorga, makanya bansa ini hancur akibat ketidak tegasan pemerintah dan semua pejabat negara.

  11. Hal terbaik yg harus kita lakukan adalah saling menghargai. Bukan Agamanya tetapi buah dari keberagaman yg akan dinilai dan dirasakan org lain. GBU

  12. ya saya pikir sah-sah saja semua orang boleh berkomentar tapi yang sedikit rasionallah, anda semua inikan orang pintar cobalah menyikapi dengan lebih arif dan bijaksana. jangan2 anda2 ini dibilang (bayi tabung-bayi prematur) yang kesemua alasan itu dibungkus dengan kepentingan2 yang sebenarnya bukan hak2 anda umtuk berkomentar. namanya perda inikan harus dibahas dengan waktu yang cupup dengan mempertimbangan semua aspek jadi yang di jawa sana cobalah urus daerahnya jangan ngoceh dengan ngawur dan harap di maklumi untuk tuan2 yang sangat sok alim

  13. Mari pakai Ilmu dan Iman.
    Islam benar menurut Muslim, Kristen benar menurut Kristiani.
    Keduanya punya kepentingan dan kemauan, hanya saja harus melalui jalan yg benar agar tidak saling bersenggolan. Musyawarah cukup bermanfaat, apalagi ini menyangkut tanggungjawab Ulil Amri Bijak. Akhlak dapat didahulukan. Yang tidak benar adalah Provokator, hati-hati….mereka musuh kita sesungguhnya!
    Pakai Ilmu dan Iman….

  14. bagi tuan adalah agama tuan, dan bagi kami adalah agama kami..
    kalo mo kasih nama daerah, terserah mau nama apa saja, asal melalui musyawarah. trus, jangan sampai memaksakan kehendak beragama orang lain. syariat Islam bukan untuk diperdebatkan, dipertentangkan, atw dilarang, tetapi mesti dilaksanakan.. karena syariat itu adalah jalan.

  15. Terserah anda kaum Kristen mau bikin apa saja. Bikin aja Kata injil, kota apa sajalah sesuka anda, tapi ingat. kalao anda tidak mau terganggu dalam beribadah dan menjalankan ketentuan agama kalian. jangan larang orang untuk beribadah dan menjalankan ketentuan agama nya juga dong. jangan larang muslimah berjilbab, jangan larang azan. toh jika di tempat itu ga ada muslimnya, mesjid juga bakal ga di bangun koq, otomatis azan juga ga bakal dikumandangkan koq. jadi kenapa kami kaum muslimin dibatas2i??!?! Kami juga bukan tipe umat yang mensamarkan ibadah kami. kami bukan umat yang menjadikan rumah kami mesjid terselubung, dengan membawa muslimin lain untuk sholat rame2 di rumah kami, trus tiba2 rumah kami jadi mesjid beneran juga koq. kami bukan umat seperti itu!!!!
    Syariat islam jalan di Aceh, wajib berjilbab jalan di Sumatera Barat. tapi disana tidak dilarang mendirikan gereja koq, disana tidak dilarang buka2 aurat koq buat yang non muslim….
    bagimu agamamu bagiku agamaku….itu baru namanya hak azazi…jangan artikan hak azazi dengan persepsi dangkal yang selama ini digembar-gemborkan dong…..

    bagi rekan muslim…udah saatnya kita menjadi mukminin, bukan cuma muslimin. jadikan sesama rekan muslimmu seperti seperti saudaramu sendiri. seperti yang di contohkan Rasulullah SAW dan sahabat2nya kaum muhajirin dan anshar. sudah saatnya kita rapatkan barisan seperti shaf shlat kita. saatnya memberikan bukti, bukan cuma kata2. jangan sampai kita cuma berikap reaksioner saja.
    InsyaAllah Allah menolong kita umat-Nya.

  16. Jika umat islam di sana disakiti…..akan ada perang, umat islam bukan pengecut dan ini sdh terbukti. Mohon nggak usah aneh2, hidup yang wajar saja, kenapa banyak orang takut kepada Islam, apa karena di dalam hati kecil mereka sebenarnya menyadari bahwa Islam memang agama yang benar. Mereka takut untuk menerima kebenaran, mereka takut bahwa menerima kenyataan apa yang mereka yakini selama ini sebenarnya salah. Terima kasih.

  17. Mohon Kita semua mencermati dengan dada yang lapang dan ke arifan. Jangan jadikan pemberlakuan syari’at islam dijadikan sebagai bahan pembanding dalam hal. Pemberlakuan syari’at Islam sama sekali bukanlah berarti melarang agama lain melakukan aktifitas ke agamaan mereka. Sekarang Coba bayangkan bagaimana kalau seandainya kota atau propinsi lain yang mutlak mulim memberlalukan hal sebaliknya…? Apa yang akan terjadi dengan negara Ini…? Wallahu’alam.

  18. Mungkin ini salah satu kemajuan Indonesia 🙁 …
    Cobaan apalagi yang akan kita hadapi selain bencana dan bencana…
    Indonesia sudah cukup hancur dengan propaganda dan efeknya…
    Episode apalgi ni ya…??!

  19. Assalaam..Oei..ente-ente yang menganggap lumrah hal diatas dan mengatasnamakan kebebasan. Ente lihat dulu fakta sejarah, semasa khilafah Islamiyyah dan syariah ditegakkan dengan benar, orang-orang Nasrani, Yahudi, atau bahkan penganut agama-agama lainnya yang kagak keitung dengan jari, tidak pernah dilarang melakukan ritual ibadah agama mereka. Dalam doktrin syraiah Islam tidak ada penindasan penganut agama lain, tidak ada pemaksaan kepada mereka untuk masuk Islam, tidak ada larangan terhadap penganut agama lain untuk menjalankan ibadah. Jangan memperbandingkan syariah dengan perda pemda tersebut dengan berat sebelah. Kemukakan fakta, evidence, doktrin, dan teori yang dikandung oleh syariah. Jangan cuma melihat kulitnya atau bahkan melihat manusia yang belum tentu berbuat sesuai dengan doktrin yang diajarkan. OK?..Fatih, Sydney, Australia.

  20. Betul kata Fatih. Coba liat sejarah deh. Semua wilayah yang mayoritas Islam dan pemimpinnya adalah orang Muslim, pasti hak2 agama lain itu dilindungi dan dijamin. Dalam urusan kenegaraan, tidak ada perbedaan hak antara Islam dan non-Islam.

    Tapi kalau sampai raperda Manokwari itu disahkan, sudah JELAS TERBUKTI kalau Kristen yang memimpin, pasti dilakukan penindasan, pembatasan menjalankan ibadah, dan diskriminasi kepada agama lain, terutama Islam.

    Hei kamu yang mengatas namakan hak azasi. Coba pikir, masa’ orang make jilbab dilarang, trus yang bugil boleh berkeliaran gitu??? GIla apa??? orang mau sopan dan menjaga moral kok malah dilarang, eh malah yang gak bermoral dibelain mati2an sama kalian? APa itu yang namanya hak azasi??? Hah?

    Kenapa sih kalian demen banget menjajah dan mendiskriminasi??? Demen banget menindas orang2 yang minoritas? ga dulu ga sekarang, masih aja… DUlu bangsa eropa ke Indonesia buat ngejajah? orang Islam sampe mampus2an berjuang. Emangnya gelar penindas itu suatu kebanggaan ya buat kalian???

  21. Sebenar nya itu bagus juga, karena umat kritiani di indonesia ini amat sulit untuk membangun tempat ibdahnya(gereja), karena banyak larangan.
    Membangun gereja tidak semudah membangun Masjid di jakarta dan daerah2 lain nya

  22. Jangan samakan Perda sariah dengan kota Injil . Perda sariah hanya berlaku bagi umat Muslim tanpa mengganggu umat Lain, tapi kalau kota Injil jadi di undangkan , tertutuplah semua Agama lain untuk menjalankan ajaran nya, bukan hanya Masjid, Azan, Jilbab yang dilarang tapi Klenteng, bihara , pura dan lain juga ikut dilarang, Untuk itu kami umat Islam merasakan prihatin yang sangat dalam terhadap Kota Injil ini, ini sudah kebabblasan , silahkan buat aturan keagamaan tertentu namun jangan mengganggu umat lain nya, silahkan buat UU Syariah asal tidakk mengganggu Agama lain nya.

  23. kepada kristiani, di aceh diberikan otonomi khusus karena mayoritas islam 98,72 % dari jumlah penduduk. sedangkan dipapua sendiri hanya 78,6 % jumlah penduduk kristen + khatolik, jadi jumlah itu belum merupakan mayoritas sempurna seperti diaceh, dipapua sendiri jumlah muslim 21% , jadi hak orang islam ada dinegeri cendrawasih tersebut, kalo dirunut dari awal kemerdekaaan 1945, negara ini sebenarnya berlandasakan islam……

  24. ini pertanda dajal sudah mulai turun ke bumi , makadari itu marilah kita bertobat dg sungguh sungguh.karena kiamat sudah semakin dekat…………dan mari kita berjihat di jalan allah untuk satu tujuan untuk mendapatkan safaat dan rido nya .,.

  25. Aduh! Tolonglah ya! Jangan saling menyalahkan dan ngejek, terus kritik tanpa melihat prakteknya!! Aku gak setuju banget sama pendapat-pendapat yang bilang kalo Kristen gak tahu diri ato apa, juga sebaliknya.
    Saya harap saudara/i sudah tahu benar apa sistem negara kita bukan? Kita itu beranut DEMOKRASI! Seharusnya kita juga mampu berpikir dan mengerti arti demokrasi yang sebenarnya. Jangan malah ngejek sana-sini. Dewasa dong! Klo beribadah atopun soal masalah pendirian tempat ibadah, sendiri-sendiri sajalah. Maksudnya aku aku, kamu kamu. Jangan main nyolok sana, nyolok sini.

    Semua penganut agama juga rasa agamanya yang paling prihatin.
    Seharusnya kita menempatkan diri di tengah, sebagai pihak ketiga. Mengamati dengan teliti, dan tidak membela yang manapun lebih baik daripada menusuk punggung pihak lain.

    Kok pada fanatik semua sih?? Gak demokrasi banget. Penganutnya belajar dulu deh. Jangan gitu dong, masak semua mau agama gue yang benar, mau yang agama loe yang salah. Gah!!! Gak tahan banget.

    Agama loe kafirlah, apalah itulah. Klo bentrok begini lebih kayak gak punya agama aja.
    Mana ada istilah agama lain itu kafir, gue punya agama yang benar? Itu sebenarnya gak ada tauk! Sampe2 ‘gua perang sama agama lain buat Tuhan’, jotos2-san, sampe bunuh dan bakar tempat ibadah orang??

    Uh.. Kok bawa2 pula Tuhan sih. WOI!! Tuhan itu gak ada sangkut pautnya sama kalian bunuh ato nyiksa orang!
    Gak ada ya yang namanya Tuhan yang, Tuhan ini, Tuhan itu.
    Buat2 saja.

    Realita, realita. Lebih baik pikirkan soal negara dan koruptornya yang harus dibabat habis sampe ke akarnya demi kebahagiaan dan kesejahteraan bersama.

    Harus saling menghargai dong!!! Gimana sih!

News Feed