Skip to main content

Ayatullah Uzhma Muhammad Baqir Sadr, filosof terkemuka pendukung utama Imam Khomeini, telah mencetak banyak murid isrimewa yang telah mencapai level tertinggi studi fikih dan dikenal mujtahid dan marja’, antara lain a) Ayatullah Mahmud Syahrudi, mantan Ketua Lembaga Yudikatif Republik Islam Iran dan Ketua Dewan Kemaslahatan dan Ketua Tim penghubung tiga Lembaga Negara, anggota Dewan Ahli (wafat); b) Ayatullah Muhammad Baqir HakimŲŒ putera marja’ agung Muhsin Al-Hakim, salah satu pendiri Partai Dakwah yang melakukan perlawanan politik terhadap Saddam dan mendirikan faksi militer Brigade Badr. (wafat); c) Ayatullah Muhsin Araki, mantan Sekjen Majma Taqrib bainal-Madzahib, anggota Asoaiasi Guru Besar Hauzah, ketua Komisi Ekonomi Dewan Ahli; d) Ayatullah Kamal Haidari, guru besar filsafat di Qom dan pemikir dan pembaharu kontroversial; e) Ayatullah Muhammad Sadiq , ayah Muqtada Sadr; f) Ayatullah Kazhim Hairi.

Pemilik nama terakhir santer dianggap sebagai suksesor tampuk marjaiyah Sayyid Muhammad Baqir Sadr. Konon Sayyid Muhammad Sadiq juga menganjurkan para muqallidnya mengikutinya.

Sayangnya, sepak terjang politik Moqtada putera Muhammad Sadiq Sadr yang menjadi kaki tangan rezim-rezim Arab Teluk sekutu AS dan gaya kepemimpinannya yang arogan menciptakan konflik internal masyarakat Syiah yang merupakan mayoritas penduduk Irak dan kevakuman kepemipinan negara.

Meski telah dihimbau mematuhi para ulama dan marja namun Muqtada yang dipandang tidak matang secara intelektual dan spiritual mengabaikannya dan terus memprovokasi para pemuda untuk menggagalkan proses pollitik negara tersebut dengan bermacam manuver dan aksi. Situasi Irak makin kritis.

Tiba tba beredar surat pernyataan Ayaullah Kazhim Hairi yang memuat empat poin utama, a) pengunduran diri dari tugasnya sebagai marja’ karena alasan kesehatan; b) menganjurkan para muqallidnya untuk mengikuti Imam Khamenei sebagai Wali Faqih; c) menyerukan dipertahankannya faksi-faksi resistensi dalam Hasyd Sya’bi sebagai organ yang terpisah dari struktur kewenangan militer negara; d) memberikan kecaman secara implissit atas sepak terjang Muqtada Sadr dan para pendukungnya.

Pernyataan ini cukup mengejutkan karena beberapa alasan, antara lain, a) belum pernah terdengar sebelumya seseorang mengundurkan diri dari posisi marja’; b) para marja” lain, terutama Sayyid Sistani, hingga saat ini tidak memberikan pernyataan sikap tegas terhadap sepak terjang Muqtada Sadr.

Respon negatif terhadap himbauan Sayyid Kazhim Hairi, marja’ yang merupakan suksesor Sayyid Muhammad Bagir Sadr, membuktikan bahwa sekadar berpenampilan relijius (berjubah dan bersorban), sayyid (habib), putera agamawan (gus) dan punya banyak pengikut fanatik tidak akan pernah bisa menggeser parameter logika dalam berpikir dan etika dalam bertindak.