Kronologi Krisis Program Nuklir Iran

Selama beberapa tahun ini AS dan beberapa negara Barat melancarkan propaganda tidak adil dan sepihak melalui media mass mereka yang kuat dan telah menyalahgunakan masalah energi nuklir sebagai instrumen untuk menggunakan tekanan atas Iran.

Negara-negara ini di bawah preteks ingin mencegah Iran dari mengembangkan senjata nuklir, berupaya mencabut hak Iran menggunakan pengetahuan vital seputar teknologi nuklir. Sementara itu mereka memiliki banyak kontradiksi dalam berurusan dengan masalah energi nuklir Iran. Pertama, negara-negara ini tidak tunduk pada komitmen mereka sendiri terkait masalah ini. Kedua, mereka menggunakan standar ganda dalam berurusan dengan negara-negara berkembang. Ketiga, dan lebih aneh, mereka mengimplementasikan standar-standar yang berbeda dalam berurusan dengan negara yang sama dalam kesempatan yang berbeda. Misalnya, dalam kasus Iran sebelum kemenangan Revolusi Islam, negara-negara Barat tidak menganggap program energi nuklir Iran sebagai ancaman terhadap perdamaian dan keamanan dunia, malah mereka mendorongnya. Tapi setelah kemenangan Revolusi Islam, negara-negara Barat yang sama menganggap aktivitas nuklir damai Iran sebagai ancaman terhadap perdamaian dan keamanan dunia.

Jelas bahwa Iran telah memulai program nuklirnya beberapa tahun sebelum Revolusi Islam. Waktu itu negara-negara Barat tidak menentang aktivitas nuklir Iran, malah membantu Iran mengembangkan programnya. Tapi setelah kemenangan Revolusi Islam, mereka berupaya keras untuk mencegah perkembangan program nuklir damai Iran.

Latarbelakang Program Nuklir Iran

Langkah pertama menuju teknologi nuklir di Iran dimulai dengan pendirian “Pusat Atom Universitas Tehran” pada 1956. Itu terjadi tiga tahun sesudah peluncuran Eisenhower Plan tentang “Atom untuk Perdamaian” pada 1953. Dalam mempromosikan rencananya, Presiden AS itu menyerahkan reaktor nuklir kepada Iran dengan kapasitas 5 MW. Reaktor itu biasa bekerja dengan uranium yang diperkaya hingga 93% yang diberikan oleh AS. Harus dikatakan bahwa uranium yang diperkaya di atas 90% dapat digunakan untuk membuat bom atom. Lebih jauh, Pemerintahan AS mengirim kepada Iran fasilitas-fasilitas sel panas untuk memisahkan uranium.

Pada 1974 Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) didirikan. Sesudah itu, pemerintah menginvestasikian sejumlah besar uang untuk pertumbuhan cepat ilmu pengetahuan nuklir. Tujuan utama pemerintah adalah membangun 23 reaktor atom dengan kapasitas 23.000 MW. Jumlah tenaga kerja pada AEOI meningkat drastis dan ratusan ahli dikirim untuk pelatihan ke AS, Jerman, Inggris, Perancis, Kanada, Italia, dan Belgia.

Pada 1974 Iran membayar US$ 1 milyar kepada Perancis untuk membangun fasilitas uranium pengayaan tricastin dan membeli 10% saham ORDIF. Pada waktu itu Iran seharusnya membayar US$ 4 milyar setiap tahun selama 15 tahun untuk membangun Pabrik Listrik Tenaga Atom.

Selama tahun 1974-1978 kontrak-kontrak atau persetujuan-persetujuan untuk membangun 8 pabrik listrik tenaga atom ditandatangani oleh AEOI dan kontraktor-kontraktor asing, termasuk pabrik listrik tenaga atom Bushehr (Iran I dan II) oleh Jerman, pabrik listrik tenaga atom Karun (Iran III dan IV) oleh Perancis, pabrik listrik tenaga atom Isfahan (Iran V dan VI) oleh Jerman dan pabrik listrik tenaga atom Saveh (Iran VII dan VIII) oleh Jerman. Selama tahun 1974-1976 Iran menandatangani kontrak 10 tahun yang bisa diperpanjang untuk putaran bahan bakar dengan AS, Jerman, dan Perancis.

Pada waktu itu negara-negara Barat biasa bersaing untuk memberikan alat pemutar bahan bakar ke Iran. Hal aneh adalah bahwa ketika itu tidak ada pembicaraan mengenai energi nuklir Iran sebagai negara yang memiliki sumber minyak dan gas, dan tidak ada pembicraan mengapa Iran yang memiliki sumber minyak dan gas yang besar mencari bahan bakar nuklir. Perlu diketahui, bahwa selama 30 tahun terakhir populasi Iran telah meningkat dua kali lipat, dengan permintaan yang continues meningkat akan energi dan mempertimbangkan keterbatasan sumber energi fosil dan pengeluaran yang tinggi untuk mengeksploitasikannya, maka wajar bahwa Iran mencari sumber energi lain yang dapat diandalkan.

Bagaimanapun, perbandingan antara program nuklir Iran sebelum dan sesudah revolusi membuktikan bahwa standar ganda dengan motivasi politik telah dikenakan kepada Iran oleh negara-negara Barat.

Setelah kemenangan Revolusi Islam, Pemerintah Iran memutuskan melanjutkan program nuklir damainya. Tapi itu dihadang dengan keberatan keras oleh AS dan negara-negara Barat. Iran bergerak ke depan dalam kerangka regulasi-regulasi Pakta Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan menyandarkan diri pada kemampuan Iran yang menghasilkan pencapaian-pencapaian yang besar.

Ketika Barat menuduh Iran mencari sasaran militer, Iran memutuskan menjawab keprihatinan Barat dan bekerja sama dengan E3 (Inggris, Perancis, dan Jerman) untuk membuktikan bahwa program nuklir Iran hnya bertujuan damai. Pada tahap awal negosiasi mereka meminta Pemerintah Iran menunda aktivitas pengayaan di Natanz yang mana Iran memenuhinya. Kemudian mereka meminta Iran untuk menangguhkan semua aktivitas nuklirnya, termasuk penelitian. Lagi-lagi Iran menyetujuinya untuk menunjukkan niat baiknya.

Pada Desember 2003 Iran menangguhkan aktivitas pengayaan. Penangguhan ini tidak didasarkan pada komitmennya, tapi bersifat suka rela dan sementara. Tak lama kemudian Iran memahami bahwa mereka menginginkan penangguhan diubah menjadi komitmen yang mengikat bagi negaranya. Kemudian Iran menandatangani Protokol Tambahan dan mulai mengimplementasikan, bahkan sebelum protokol itu diratifikasi di parlemen. Iran kemudian mulai negosiasi dengan E3.

Perundingan itu diladeni engan anggapan bahwa mereka mempunyai keprihatinan sah yang sebenar-benarnya tentang aktivitas nuklir damai Iran dan mereka juga percaya bahwa teknologi nuklir damai adalah hak mutlaknya. Iran berunding dengan E3 selama tiga tahun. Tapi kemudian Iran menyimpulkan bahwa Iran hanya membuang-buang waktu dan energi selama tiga tahun. Pada Maret 2005 Iran menyerahkan proposal kepada Uni Eropa (EU) tapi setelah lima bulan mereka menolak proposal itu.

Pada Agustus 2005 mereka memberikan Iran paket proposal mereka dan sayangnya serta di samping mereka meminta penangguhan penuh dan tanpa batas aktivitas pengayaan uraniumnya. Setelah tiga tahun perundingan, Iran menyimpulkan bahwa dengan cara ini Iran tidak akan mendapatkan haknya. Maka Iran memulai kembali aktivtas pengayaan.

Pada 1 Juni 2006, mereka mengajukan paket baru dan Iran menjawab bahwa, walaupun terdapat beberapa kemenduaan, Iran akan memperlajarinya secara positif dan akan menjawabnya pada 22 Agustus. Iran melakukan demikian, tapi pada 31 Juli 2006 mereka meloloskan Resolusi No 1969 di DK PBB. Walaupun resolusi ini, pada 22 Agustus Iran menjawab kepada proposal E3.

Pada 23 Desember 2006 mereka meloloskan resolusi 1737 di DK PBB, menerapkan sanksi terhadap Iran termasuk larangan-larangan pada pribadi-pribadi dan perusahaan Iran. Pada 23 Maret 2007 mereka mengeluarkan resolusi No 1747 untuk mengintensifkan lebih banyak tekanan pada Iran.

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

  1. mengembangkan teknologi nuklir adalah hak stiap bangsa termasuk iran..klw iran dilrg mngmbangkan kmampuannya harusnya mereka jg berhenti mngembangkan nuklir mreka khususnya AS

News Feed