LAGI-LAGI “HABIB”…

Jagad medsos kerap dihebohkan oleh ulah segelintir orang yang mengklaim diri agamawan dan selalu memajang gelar habib berperilaku arogan, melanggar peraturan, mengais keuntungan dan menyebarkan intoleransi. Ironis, gelar yang menghembuskan aroma semerbak cinta kasih malah jadi pusat penyebaran kebencian.

Karena aksi dan ulah negatif itu mengundang kontroversi dan polarisasi antara generalisasi pemujaan dan generalisasi kecaman yang sebagian mengandung ungkapan rasial, beberapa orang yang juga secara sosiologis berhak menyandang habib (meski tidak memamerkannya) terusik.

Terlepas dari polemik dan polarisasi ekstrem antara pemuja dan pembenci, yang jelas, kata “Habib” berasal kata dasar _al-Hubb_ dalam bentuk kata modus _fa’il_ (فعيل), yang memiliki arti objek semakna dengan _ism maf’ul_ (اسم مفعول), yaitu yang dicintai atau kekasih.

Secara kebahasaan, _al-Hubb_ (cinta) adalah bentuk generik dari _al-Habb_ yang berarti inti hati. Kata _mahabbah_ berasal dari kata _habbah_, yang berarti “benih-benih yang jatuh di padang pasir”. Ia adalah sumber kehidupan; laksana benih-benih yang ditebar di gurun pasir, lalu menyelusup ke dalam tanah kemudian menumbuhkan ilalang untuk dimakan onta dan satwa sahara lainnya. Betapa pun hujan turun mengguyur, matahari menyinari, dingin dan panas menerpa, biji-biji itu tetap lestari, tidak rusak oleh perubahan musim, malah tumbuh, mekar, berbunga, dan berbuah.

Ada yang mengatakan bahwa kata _mahabbah_ yang berasal dari kata _hubb_, memiliki arti “tempayan yang berisi penuh dengan tenang.” Dikatakan demikian karena cinta memenuhi relung hati dan menghapus lainnya. Kata _hubb_ dapat pula berarti “empat keping kayu pipa air,” karena pecinta dengan sukacita menerima apa saja yang dilakukan sang kekasih terhadap dirinya. Kata _mahabbah_ dapat pula dikaitkan dengan asal kata _habab_, yang berarti gelembung-gelembung air yang meluap tatkala hujan lebat menyiram dedaunan dan persada, karena cinta merupakan luapan hati yang merindukan penyatuan dengan sang kekasih.

_Hubb_ adalah kata bahasa Arab yang bermakna cinta. Secara ontologis cinta hanyalah bermakna hubungan vertikal. Cinta dengan makna hubungan horisontal bersifat metafora dan tak sejati. _Habib_ adalah kata Arab semakna dengan _mahbub_ yang berarti dicintai. Pada makna primer, Tuhan adalah Yang Dicintai. Dialah Pemilik Tunggal sifat _Habib_. Inilah makna _*Tauhid fil Mahabbah*_.

*Cinta vertikal* _bermakna kebergantungan akibat (makhluk, hamba) kepada Tuhan dan hamba-hamba suci pilihanNya_. *Cinta horisontal* _bermakna saling membutuhkan antar sesama makhluk_.

Cinta vertikal dari sisi Tuhan sebagai Kausa Prima, dan entitas termulia di bawahNya, berupa pelimpahan cahaya dalam kewenangan mutlak dari sisi hamba, cinta vertikal berupa pencerapan cahaya dalam kepatuhan mutlak karena cahaya Allah hanya dipancarkan oleh cahaya terdekat.

Dalam syair-syair Arab klasik maupun dalam lirik lagu-lagu romantis Arab modern, _habib_ berarti pacar, kekasih dan yang disayang. Dalam tradisi Islam, _habib_ adalah gelar pujian Muslim saat memanggil dan mengucapkan nama Muhammad saw. Muhammad _habibullah_, kekasih Allah, begitu juga Hasan dan Husain, kedua cucu beliau. Pujian dan pemberian gelar penghormatan ini berlangsung generasi demi generasi, sebagaimana tercermin dalam kasidah-kasidah dan teks-teks maulid.

Karena penghargaan abadi kepada para tokoh Ahlul Bait itulah, setiap _Alawi_ atau yang memiliki garis keturunan kepada Ali bin Abi Thalib, yang terbukti membimbing umat juga dipanggil dengan predikat ‘habib’. Ia adalah manifestasi dari harmoni dan relasi cinta yang santun yang terjalin secara natural, bukan hak paten (semacam merek dagang yang dipatenkan). Namun ia adalah atribut yang disandangkan oleh masyarakat.

Dengan kata lain, _Habib_ adalah predikat _dzati_ (li nafsihi) bagi Allah, dan predikat _arazhi_ (li ghairihi) bagi Nabi SAW kemudian bagi orang-orang suci secara gradual yang ditetapkan oleh Nabi sebagai pemegang kewenangan vertikal. Pemegang wewenang adalah panutan yang dicintai karena wajib dipatuhi.

*Nab SAW, sang _habib_ utama adalah album semua budi pekerti*. Dia bukan hanya tak suka disanjung tapi selalu tenggang rasa dan rendah hati. *“Hai orang-orang beriman, jika kau diundang (Nabi), masuklah*. *Dan setelah makan, pulanglah tanpa asyik memperpanjang obrolan*. *(Karena) sesungguhnya itu merepotkan Nabi, tapi ia malu (menyuruhmu pulang)…”* (QS 33:53).

Sedangkan orang-orang yang secara determinan terlahir dalam garis biologis yang bersambung dengan _Habib_ Muhammad SAW bukanlah _habib_ sejati. Mereka adalah _habib i’tibari_, yang dipanggil _habib_ bukan karena kewenangan, tapi karena “diharapkan” mengikuti jejak Nabi dan para manusia suci yang terhubung secara nasab dengannya.

Semula predikat _habib_ hanya disematkan pada sebagian dzuriyat Nabi yang dinilai berperan penting di tengah masyarakat alim, guru agama, pendakwah, pesuluk dan tokoh masyarakat. Artinya tak semua dzuriyyat atau orang-orang yang dikenal sebagai cucu Nabi SAW dipanggil _habib_.

Ada beberapa tipe ‘habib’ di Indonesia;
*pertama*, yang berdakwah secara tradisional. Biasanya tipe ini kurang memperhatikan politik. Yang penting, acara pengajiannya semarak, meski kadang memacetkan jalan dan ukuran spanduk-spanduknya berlebihan.

*Kedua*, yang memberikan kontribusi nyata dalam berbagai bidang, terutama dalam bidang agama dengan pendekatan yang santun dan bisa diterima oleh semua kalangan. Tidak sedikit di antara mereka yang dikenal sebagai pejuang dan pahlawan kemerdekaan. Habib tipe kedua ini umumnya tidak mencantumkan gelar ‘habib’. Prof. DR. Quraish Shihab mungkin bisa dijadikan contoh tipe kedua ini.

*Ketiga*, yang secara sengaja memasang gelar ‘habib’ di depan namanya lalu dengan semangat amar makruf dan nahi mungkar menggalang massa dan melakukan tindakan-tindakan yang sensitif sehingga menimbullkan kekhawatiran gangguan sosial dan politik.

*Keempat*, yang memilih hidup umumnya warga lain, egaliter, berwawasan modern malah cenderung antimainstream seperti mengidolakan Nietszche dan Marx, tidak menampilkan simbol-simbol, relijius standar seperti shalat wajib, anti ekstremisme mazhab, suka nongkrong di cafe, gemar nonton, pakai celana jeans dan sebagainya. Banyak artis film, iklan dan lagu juga penyiar tv dari kalangan _habib_ dan _syarifah_. Bahkan dilaporkan ada yang menjadi pemuka agama non Islam.

Tipe kelima adalah mereka yang masih memiliki jalur DNA _habib_, tapi dari sisi struktur fisik dan wajah sudah tidak mencitrakan karakter fisik timur tengah alias ras Arab/Parsi. Karakter fisik mereka sudah sangat kondisional tergantung daerah domisili saat ini sebagai efek dari pembauran lewat pernikahan leluhur mereka sebelumnya dengan penduduk lokal. Gus Dur dan Eros Jarot mungkin salah satu contohnya.

Namun kini gelar mulia itu seolah identik dengan agamawan yang menjadikannya sebagai sarana mengais harta bagi segelintir orang yang tak memenuhi syarat keteladanan dan tak punya kiprah positif di tengah masyarakat. Beberapa pemajang gelar _habib_ bukan hanya tak layak menyandangnya tapi tak layak disebut _sayyid_ bahkan _dzuriyyah_ karena gagal menjaga kehormatan gelar dan atribut _habib_, _sayyid_ dan _dzuriyah_ Nabi. Meski demikian, banyak orang berhak dipanggil _sayyid_ dan _habib_ mamun menyembunyikannya karena menganggapnya sebagai beban moral yang berat.

Ujaran kebencian, provokasi, dan agresi, yang dilakukan secara sengaja maupun tidak, didasari dengan tujuan mulia maupun nista, bertentangan dengan substansi yang ada di balik kata ‘Habib”, yang berarrti ‘tercinta’ dan ‘pecinta’. Artinya, kita mesti memberikan atribut sejuk ini kepada yang menebar cinta, bukan kepada yang menjadikan kekerasan dan represi sebagai cara berdakwah.

Penyalahgunaan gelar dan posisi juga kegemaran pamer adalah prilaku purba sebelum kesayyidan dikenal. Prilaku negatif ini juga tak hanya terjadi dalam urusan kesayyidan. Tak sedikit _sayyid_ yang berprilaku rasional dan anti pamer justru mengalami diskriminasi dan perlakuan rasial yang menimbulkan trauma sekeluarga berkepanjangan. Generalisasi adalah falasi paling jorok dan membinasakan.

Gelar nasab berbeda dengan gelar pendidikan. Ia adalah sesuatu yang determinan. Ia bukanlah prestasi dan bukan pula gawang aneka cemooh berbalut kritik. Siapapun, bergelar _sayyid_ atau tak bergelar tak perlu disanjung juga tak usah disinggung. Tak membahasnya secara subjektif saja sudah cukup meringankan beban orang-orang yang muak dengan pagelaran. Yang bergelar berpotensi sombong, dan tak bergelar berpeluang dengki. Proporsional saja!

Dalam sejarah Indonesia sebelum dan setelah kemerdekaan banyak tokoh _dzuriyah_ yang sukses menjaga kehormatan gelar _habib_ dalam pandangan dan tindakan. Masyarakat mencintai mereka karena keteladanan mereka

Dengan nalar sehat dan hati yang bugar, kecerobohan sopir mikrolet yang mengakibatkan kecelakaan mesti dilihat sebagai sebuah peristiwa partikular, sebuah fragmen ketidakdisiplinan, bukan kesalahan yang mesti ditimpakan atas semua orang yang kebetulan memiliki kesamaan suku atau daerah dengannya. Nalar, sebagai wahyu _inheren_, terlalu berharga untuk diganti dengan luapan fanatisme dan kepongahan atas nama agama, suku dan himpunan himpunan artifisial lainnya.

Sungguh menyedihkan, frase yang semestinya menyemburkan semerbak cinta dan menebar kesejukan, malah diakuisisi atau diasosiasikan dengan intoleransi oleh segelintir orang sama sekali tidak mencerminkan substansi dan maknanya. Itulah paradoks “habib penebar benci”.

Semoga prilaku nista beberapa individu _habib_ tidak mencoreng para _habib_ lain yang toleran, santun dan cinta persatuan. Mari bersama mengutamakan akal sehat sebagai juri. Bila seseorang dikenal _habib_ berperilaku baik, maka _habib_ adalah gelar atau prestasinya. Bila perilakunya buruk, maka “habib” hanyalah panggilannya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed