“LAKUM CAPRESUKUM”

Karena rasa kepo tentang reaksiku, seorang friend mengirimkan via inbox satu dari sekian banyak meme dan tulisan yang mencantumkan namaku sebagai orang yang pro seorang gubernur DKI yang dipenjarakan bukan karena nilep duit rakyat. Tentu aku malas menanggapi sampah sosmed seperti itu. Tapi karena mendesak, maka kujawab:

Begini pren! Aku bersikap karena dasar dan argumen yang kupertanggungjawabkan. Aku tak pernah mendukung tokoh politik yang berkuasa atau yang ngebet jadi berkuasa karena kita dididik untuk memihak apa, bukan siapa. Tapi pandangan-pandangan khasku soal pemimpin non Muslim, pasal penodaan agama, ekstremisme, agamisasi politik juga politisasi agama, pemisahan negara dan agama dan semacamnya sangat jelas dan tegas. Ini tak ada kaitannya dengan pilpres, pilgub dan pil-pil lainnya. Aku lebih memfokuskan perhatian terhadap gerakan ekstremisme dan eksklusivisme. Ini juga bukan taqiyah karena tak ada yang perlu disembunyikan. Biasa ajaah.

Dalam menentukan sikap politik, aku tak punya waktu dan kemampuan untuk menganalisa data dan info-info terkait kinerja pemimpin yang sedang berkuasa.

Standarku gampang; pihak yang dibenci takfiris dan intoleran itulah yang harus didukung. Ini tak bisa ditawar atau digugurkan dengan hasil survei tentang elektabilitas atau isu asengan atau asongan. Ini berlaku bagi calon lain yang lebih baik dan dibenci takfiri, kalau ada…

Jadi, tak perlu lagi berpolemik tentang siapa yang akan memimpin Indonesia. Yang perlu dipikirkan bagaimana menjaga Indonesia dari takfirisme, intoletransi radikalisme, ekstremisme dan pemutlakan persepsi golongan.

Bila ada teman yang berbeda perspektif politik tentang sosok pemimpin, selama tetap menentang ekstremisme serta mendukung demokrasi Pancasila, maka harus dihargai sembari meyakini bahwa pilihan politik dan identifikasi sosok pemimpin sebagai hak asasi. Lakum capresukum…

News Feed