Livni: Two Face

evil-ivni

Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni bagai sosok Two-Face dalam komik Batman. Dia memiliki dua “wajah,” baik dan jahat.

Baru-baru ini Livni menampilkan dua pribadinya itu ketika berpidato. Saat itu, dia menegaskan bahwa perdamaian dan kekuatan militer dapat berjalan beriringan.

“Tema utama pemilihan umum adalah perdamaian,” kata Livni dalam sebuah konferensi pertahanan. Namun, tak lama kemudian, ia menambahkan, “teror harus dilawan dengan kekuatan, kekuatan yang sangat besar.”

Selama kampanye menjelang pemilihan umum yang diadakan pada Selasa (10/2), Livni yang selalu bersuara lembut ini menampilkan diri sebagai pembawa perdamaian di Israel. Namun Livni juga berjanji akan menindak keras militan Palestina seperti apa yang ia lakukan ketika merancang serangan Israel ke Jalur Gaza, akhir 2008 lalu. Serangan itu menewaskan sekitar 1.300 warga Palestina.

Perempuan 50 tahun ini terpilih menjadi pemimpin partai Kadima dalam musyawarah nasional, September 2008. Ia menggantikan posisi Perdana Menteri (PM) Ehud Olmert yang mundur untuk menghadapi dakwaan korupsi. Jika Livni berhasil memenangi pemilu, ia akan menjadi perempuan perdana menteri kedua setelah Golda Meir yang memimpin Israel pada periode 1969 hingga 1974.

Namun, Livni terlihat masih jauh mencapai kursi kekuasaan. Sejak menggantikan Olmert sebagai pemimpin Kadima, Livni tak kuasa meredam kepentingan faksi-faksi di parlemen yang memaksa Israel melakukan pemilu lebih awal.

Livni pertama kali menjadi anggota legislatif pada 1999. Sejak itu karirnya melesat. Dia pernah memimpin enam kementerian, termasuk kementerian hukum dan luar negeri.

Dalam ketentaraan, Livni terakhir menjabat sebagai letnan ketika mengikuti wajib militer. Ia juga pernah bergabung dengan agen mata-mata Mossad. Namun ia melepas semua itu untuk menjadi pengacara korporasi dan berumahtangga.

Ibu dua anak ini masuk dalam daftar seratus orang paling berpengaruh pada 2007 versi Majalah Time. Ia juga menempati peringkat ke-52 di daftar perempuan berpengaruh majalah Forbes.

Kekurangan pengalaman militer membuat Livni bereaksi keras ketika merancang balasan serangan roket Palestina, akhir 2008 lalu. “Israel akan terus bertindak dan menyerang jika diperlukan,” kata Livni.

Ayah Livni, Eitan Livni adalah tokoh besar gerakan Zionis sayap kanan yang melawan Inggris sebelum negara Israel terbentuk. Eitan Livni percaya Israel harus memperluas daerah kekuasaan hingga perbatasan Arab.

Awalnya Livni juga mengikuti impian ayahnya itu. Namun Livni menyimpulkan bahwa pertumbuhan pesat warga Palestina akan menghambat realisasi impian itu. Saat ini ia memprakarsai pembentukan negara Palestina di Gaza dan wilayah Barat Israel. (AP)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

  1. LIVNI ITU :
    APAPUN BENTUKNYA,
    APAPUN YANG DILAKUKANNYA,
    TIDAK LEBIH DARI “PELACUR MURAHAN YANG PALING HANCUR SEPANJANG SEJARAH”

News Feed