“LOGIKA TUHAN” DAN KEPATUHAN

“LOGIKA TUHAN” DAN KEPATUHAN

Disebut patuh kepada hukum karena menerimanya meski tak menyukainya.

Disebut Patuh kepada agama bukan karena menyukai hukumnya tapi karena menkonfirmasi supremasinya.

Menerima hukum karena menyukainya adalah menyetujuinya, bukan mematuhinya.

Setuju tak seberat patuh

Kepatuhan adalah menerima hukum karena meyakini supremasi agama meski tidak (belum) melaksanakannya.

Kepatuhan bersifat komprehensif (menyeluruh, sepaket), bukan sporadis.

Disebut patuh kepada agama karena meyakini otoritas penyampainya, bukan karena menyetujui produk hukum yang disampaikannya.

Iman adalah kepatuhan rasional. Kepatuhan rasional adalah meyakini otoritas, kredibilitas dan kompetensi penyampainya.

Kepatuhan tidak bersumber dari kecocokan dengan produk hukumnya, kemudahan melaksanakan produk hukumnya dan kemudahan mengaksesnya

Seseorang disebut dokter karena kompetensinya, bukan karena manfaat resep yang diberikannya.

Resep bermanfaat dari seseorang tanpa kompetensi dalam pengobatan tak cukup alasan untuk dipatuhi dan diterima sebagai dokter

Meyakini shalat sebagai ibadah wajib karena bermanfaat bagi peregangan dan penyembuhan rematik bukanlah kepatuhan.

Setiap Muslim dewasa adalah mukallaf (pelaksana hukum), bukan konsumen.

Hukum agama ditetapkan untuk mengukur kepatuhan, bukan untuk menyenangkan.

Hukum agama bukan hasil tampungan aspirasi.

Sebelum berobat kepadanya, gunakan nalar kritis untuk memastikan kompetensinya sebagai dokter terpercaya dan mematuhi anjurannya. Setelah memastikannya sebagai dokter terpercaya melalui analisa kritis dan verifikasi, tak perlu lagi mengkritisi resep dan meminta bukti ijazah juga sertifikat IDI. Itulah kepatuhan rasional. Inilah LOGIKA AGAMA dan AGAMA LOGIKA.

Pahala menjadi bernilai karena diberikan kepada orang yang melawan kehendak dan kesukaannya.

News Feed