Lost In Translation: Ahmadinejad dan Media

Pertama-tama saya ingin membuat beberapa komentar mengenai pernyataan Presiden Ahmadinejad di Columbia University yang kini termasyur di dunia, “Kami tidak mempunyai homoseksual sebagaimana yang ditemukan di negeri Anda.” Media Amerika dengan nyamannya mengabaikan bagian kedua, dan yang paling penting, dari kalimat Ahmadinejad sebagai sesuatu yang tidak penting. Sungguh ia tidak sedang berkata, “Kami tidak mempunyai homoseksual apa pun di Iran”—sesuatu yang tidak akan dipercaya siapa pun di dunia ini, tidak juga di Iran. Dan implikasinya, ia tidak sedang mengatakan kepada para pendengarnya bahwa, “Saya adalah seorang pendusta!”—sesuatu yang dikonstruksi oleh para pendengarnya di Columbia dan media Amerika bahwa dia memang berkata demikian.
Apa yang ia sedang katakan adalah bahwa homoseksualitas di AS dan homoseksualitas di Iran adalah isu-isu yang sama jauhnya dari satu sama lain seperti jauhnya dua semesta budaya. Keduanya sangat berbeda sehingga upaya apa pun untuk menghubungkan dan membawa keduanya di bawah satu teks yang umum akan menyesatkan. “Homoseksualitas bukanlah isu di Iran sebagaimana ia menjadi isu di tengah masyarakat Amerika kontemporer.” Inilah mungkin apa yang ia katakan dalam terminologi yang moderat.
Homoseksualitas adalah suatu isu sosial dan politik yang omnipresent di AS, yang muncul di dalam hampir setiap diskursus dan debat yang bersinggungan dengan masyarakat dan politik Amerika. Alhasil, menurut saya ini adalah isu utama, jika bukan faktor penentu, dalam dua pemilihan presiden terakhir yang meratakan jalan Bush ke Gedung Putih dan menimpakan kekalahan bagi Demokrat, karena bagian besar dari apa yang disebut sebagai publik konservatif Amerika mengkhawatirkan Partai Demokrat yang pro-kebebasan kaum gay.
Sebaliknya, homoseksualitas bukanlah sebuah isu di Iran dan dipandang sebagai satu perbuatan yang tidak wajar (terkecuali seperti sebuah topik lelucon mengenai suatu kota tertentu). Dari sudut pandang undang-undang hukum pidana, ia juga tidak menyita banyak perhatian karena persyaratan-persyaratan bagi sebuah vonis (empat saksi mata yang sungguh-sungguh telah melihat rincian perbuatan tersebut) sangat ketat hingga membuat hukuman nyaris mustahil. (adalah juga menarik untuk mengetahui berapa banyak orang yang telah dituduh melakukan homoseksual selama dua dekade terakhir.)
Sebaliknya juga, perzinaan dan homoseksualitas adalah bentuk-bentuk perilaku yang sah di sebagian besar Eropa dan Amerika, dan dipandang bukan sebagai tindakan kriminal tetapi sebagai bentuk-bentuk perilaku seksual yang benar-benar bisa diterima dan sebagai hak asasi manusia yang sah dan mesti diajarkan, bahkan juga kepada seluruh masyarakat Asia dan Afrika.
Juga terdapat isyarat yang sulit dipisahkan di dalam pernyataan Ahmadinejad itu, bahwa ia ingin melangkah dari topik ini ke hal-hal yang lebih serius dan relevan, sebuah maksud yang akan terlihat jelas bagi siapa pun yang akrab dengan bahasa dan kultur Persia (seperti juga isyaratnya yang lain tentang perilaku memalukan presiden Columbia, yakni ketika secara formal mengundang para akademisi Columbia ke Iran dengan menambahkan, “Anda harus yakin bahwa kami akan memperlakukan anda di Iran dengan seratus persen rasa hormat.”
Orang-orang Iran, yang secara linguistik amatlah kompleks, berbicara dalam banyak isyarat yang tidak tampak bagi orang asing. Orang Amerika, sebagai perbandingan, cenderung bersifat langsung dan tidak jarang primitif.
(secara umum, Persia, seperti juga banyak masyarakat berperadaban lainnya, telah mengembangkan seni bagaimana menanggapi pernyataan-pernyataan yang kasar dalam kata-kata yang lembut dan ramah.) Orang Amerika, seperti dibuktikan Prof. Bollinger, masih harus banyak belajar dari bangsa-bangsa yang berperadaban mengenai adab pertentangan yang berbudaya.)
Kurang simpatiknya Bollinger kepada Presiden Ahmadinejad jelas telah dipupuki oleh penerjemahan-penerjemahan dan penafsiran-penafsiran sesat terhadap pernyataan-pernyataan Ahmadinejad sebelumnya—juga populer di dunia—tentang Israel dan Holocaust. Sepertinya, sebagaimana dinyatakan seorang komentator, sang profesor hanya menyaksikan CNN dan Fox News.
Sayangnya, lebih daripada satu tahun, pernyataan-pernyataan Ahmadinejad itu telah memberikan suatu dalih yang dibuat-buat kepada para kritikusnya untuk mendemonisasinya dan menyerang kebijakan-kebijakan luar negeri Iran. Meskipun Ahmadinejad sudah berupaya berulangkali untuk mengklarifikasi dirinya, kita, yang mendengar pernyataan-pernyataan tersebut, juga mempunyai tugas ilmiah bagi diri kita sendiri dan bagi yang lainnya untuk melihat apa persisnya yang ia maksud.
Sudah merupakan suatu prinsip dasar ilmu linguistik mengenai diskursus budaya bahwa sepanjang ada satu interpretasi yang bisa diterima dan lurus bagi pernyataan seseorang, maka haruslah tidak diberikan kepada pernyataan tersebut maksud lain yang menyimpang. Lebih daripada itu, adalah mudah untuk menolak dan mengecam pernyataan-pernyataan orang lain, namun adalah tugas mulia bagi setiap peneliti yang cerdas untuk mencoba memahami orang-orang yang memiliki pendapat-pendapat yang berbeda. Hal ini, secara khusus, menjadi lebih penting ketika pernyataan-pernyataan itu datang dari suatu wilayah budaya dan linguistik yang berbeda.
Ketika Ahmadinejad mengulangi kata-kata Ayatullah Khomeini,  bahwa “Israel baayad az bayn beravad,” (yang secara harfiah berarti bahwa Israel akan menghilang), apa yang penting dalam memahaminya adalah dengan melihat bagaimana orang-orang Iran memahami kata-kata tersebut dari presiden mereka. Menurut saya, setiap orang Iran dewasa dengan kesadaran politik regional sama sekali tidak berpikir bahwa pemimpin mereka yang lalu (Ayatullah Khomeini), atau presiden mereka saat ini, sedang mempersiapkan semacam serangan militer terhadap Israel. Dengan mengutip contoh tentang Uni Soviet dan rezim Apartheid di Afrika Selatan, Ahmadinejad juga sudah memperjelas apa yang ia maksud dari “Israel yang lenyap.” Menurut ketentuan-ketentuan diskursus budaya, setiap klarifikasi sang pembicara mengenai apa yang ia maksudkan bersifat otoritatif sebagaimana ia diberi hak, di hadapan semuanya, untuk menyatakan dan mengklarifikasi apa yang ia maksudkan melalui pernyataan-pernyataannya. Dalam hal ini, Ahmadinejad bahkan telah menjelaskan bagaimana ia memikirkan apa yang seharusnya terjadi: sebuah referendum umum di Palestina yang belum terbelah dengan keikutsertaan penuh dari Arab, Yahudi, dan Kristen.
Perihal pernyataannya bahwa Holocaust itu adalah mitos, kita semua mengetahui bahwa kata “mitos” mempunyai beberapa makna di dalam kamus. Salah satu maknanya adalah “suatu fiksi atau setengah kebenaran, terutama dalam kaitan dengan hal-hal yang membentuk bagian dari suatu ideologi” (The American Heritage Dictionary of the English Language). Jadi, dengan demikian, sebuah mitos bukanlah sesuatu yang niscaya tidak benar dan Ahmadinejad sama sekali tidak menolak bahwa Holocaust telah terjadi, meskipun ia terlihat mempunyai—apa yang ia pandang sebagai sah adanya—keraguan mengenai level kepastiannya dan keraguan yang cenderung diperkuat dengan adanya upaya-upaya untuk menganiaya atau menuntut para ilmuwan yang riset-riset mereka mengarahkan mereka kepada kesimpulan-kesimpulan yang berbeda dari penulisan sejarah arus utama. Apa yang pada dasarnya ia pertanyakan adalah bahwa Holocaust telah dijadikan sebagai alat ideologis demi memburu sasaran-sasaran yang tidak manusiawi dan tidak adil—sesuatu yang kebanyakan dari kita akui telah dan sedang terjadi di Palestina. Mengapa orang-orang Palestina harus dibuat membayar harga rasa bersalah dan kegagalan Eropa? Ia bertanya. Menurut saya, ini adalah suatu pertanyaan yang sah.
Orang-orang pintar dari media bebas untuk menginterpretasikan pernyataan Ahmadinejad dengan tujuan mendemonisasinya dan menghujat Iran, tetapi ada jalan alternatif yang lebih baik bagi mereka yang menghendaki pengertian dan perdamaian di antara bangsa-bangsa, dan kepada tujuan seperti inilah, lembaga dan institusi seperti universitas, termasuk Columbia, harusnya berkontribusi.
Saya berharap Tuan Bollinger secara ksatria akan meminta maaf kepada Ahmadinejad dan mengambil manfaat dari kedatangannya bagi keberlanjutan pertukaran gagasan-gagasan dengan lingkaran-lingkaran akademik di Iran. Orang-orang Iran secara umum orang-orang yang berhati besar, sebagaimana juga kebanyakan orang Amerika, dan saya berharap kepahitan yang muncul dari peristiwa yang patut disayangkan itu akan segera dilupakan melalui upaya-upaya yang tulus dari kaum intelektual dan pejabat-pejabat yang bermaksud baik dari kedua pihak. Saya tidak bisa membayangkan cara lain untuk menyelamatkan kehendak baik di antara bangsa-bangsa ini, seperti juga reputasi baik dari suatu lembaga pendidikan tinggi terkemuka seperti Columbia.
Ali Quli Qarai adalah ilmuwan Iran. Dia telah menulis beberapa buku, termasuk menerjemahkan al-Quran. Sumber: informationclearinghouse.info (diterjemahkan oleh Irman Abdurrahman, staf ICC Jakarta)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 comments

  1. Satu model terorisme baru yang sering digunakan AS melalui media massanya adalah menggunakan eufomisme untuk mengemas kejahatan yang mereka buat, mereka memberi makna baru terhadap tindakan yg jelas2 merugikan pihak lain. Hal serupa mereka kemas sehingga memberi arti negatif terhadap perbuatan baik yang dilakukan oleh musuh zionis dan Amerika. Dalam konteks global upaya ini memberikan hasil yang sgt signifikan dalam pembentukan opini dunia terhadap personifikasi Iran dan Ahmadinejad karena hampir semua media dunia merasa belum kridibel sebelum mengutip reuters, UPI, BBC etc yang notabene corongnya zionis…

News Feed