Masya Allah! Demi Pengakuan UE, Puluhan Ribu Warga Turki Demo Antijilbab

Puluhan ribu warga Turki berhaluan sekuler menggelar demonstrasi menentang rencana pencabutan larangan berjilbab di universitas. Mereka meneriakkan kata-kata, “Turki adalah negara sekuler dan akan tetap sekuler” sembari melambai-lambaikan bendera nasional dan berbaris menuju makam Mustafa Kemal Ataturk, Senin (4/2/2008).

Sebelumnya, awal pekan silam ini Partai Keadilan dan Pembangunan yang berkuasa di Turki didukung Partai Gerakan Nasional Sayap Kanan Turki mengusulkan kepada Badan Legistif agar mencabut larangan berjilbab di seluruh universitas di Turki.

Menteri Luar Negeri Turki Ali Babacan mengatakan, kebijakan itu merupakan bagian dari reformasi demokratis untuk memuluskan langkah Turki menjadi anggota Uni Eropa. (okezoneSenin, 4 Februari 2008 – 15:44 wib )

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 comments

  1. Kapada Yth,
    Turkey (bukan ‘Kalkun)

    Sudah lama aku melihatmu bergeliat dan berjuang agar kulitmu yang putih bisa “lekas” diakui oleh tanah kelam di abad pencerahan.
    Terasa perih dadaku melihat kau seolah-olah negeri tanpa arah, yang karam kecewa setelah dinasti yang kau bangun sendiri sebelumnya, ternyata rusak bukan karena “angin luar” yang dingin, tapi oleh tanah “berlumpur” di halaman sendiri.

    Tidak sedikit waktuku yang “geram” menyaksikan tingkah polahmu seakan tak pernah bosan meng-ekor jejak mereka dalam upaya mengecilkan “api-api” Tauhid di teritori yang tak terlalu jauh dari mu.
    Kau tumpangi tanahmu buat mereka untuk membungkam saudara-saudaramu di Selatan, Timur dan Tenggara.

    “Aku negeri besar, aku bagian Internasional untuk “keamanan Dunia” Teriakmu pongah kepada saudara-saudara kecilmu yang pucat melihat langkah-langkah “barat”mu. Saat pesawat-pesawat raksasa itu masuk pekaranganmu, terpikir bayangan kematian oleh saudara-saudaramu. L
    Sungguh kau telah menakut-nakuti mereka dengan caramu itu.

    Betapa terkejutnya aku manakala, kau usir sebagaian saudaramu ke tempat yang tidak pernah tenang, penuh mara bahaya, sementara kamar-kamarmu cukup luas untuk saudaramu bernaung. Yang membuatku tak habis pikir adalah kau injak-injak “nasabmu” dan kau bakar ia hingga sulit lagi dikenali bentuknya. Kau seperti ingin menggantinya dengan sertifikat ras baru dari Benua Utara itu….

    Padahal,….
    Jikalau mereka mengundangmu untuk bertemu, kursi kecil diteras sajalah yang diberinya untukmu. Sementara sesama mereka menikmati kehangatan yang hanya dapat kau saksikan dari depan beranda rumah mereka. Atau jikalau mereka berbaik hati padamu, ruangan dipojok bawah tangga yang pengap disuguhkannya untuk “tetangga baru” sepertimu.

    Hingga Akhirnya jantungku seperti mau lepas dari tempatnya, tatkala menyaksikan tak henti-hentinya kau merombak ini dan itu dirumahmu, hingga mungkin menyebabkan saudaramu untuk kesekian kali merasa tidak lagi kerasan dan kepayahan untuk bisa istirahat walau sejenak saja.

    Sementara Akupun mulai merasa bosan melihatmu kerap hadir, dengan topi merah, jubah panjang, … entah apa artinya … bersama perwakilan kaum muslimin lain, di seminar-seminar, di pertemuan negara-negara Islam, konferensi ini dan itu, …
    Tak jelas mau-mu.

    Buat negara yang mimpi hari2-nya menjadi bagian dari Tanah Eropa.

  2. Paradoks ! Hanya untuk bisa duduk bersama musuh yang menginginkan kehancurannya ; pemerintahan, rakyat dan peradaban negeri ini rela diberikan kepada musuh yang tak akan pernah menggapnya teman… Kebodohan diatas kebodohan manalagi yang sanggup memahami ?

  3. Gampang aja sih, deklarasikan aja udah bukan Islam lagi, alias keluar, alias murtad, pasti langsung boleh gabung ke Euro-zone, disambut pake karpet merah, kalung bunga, dsb dsb.
    Tapi, ternyata mayoritas warganya gak mau tuh, masih cinta sama ajaran Islam.
    Lagian, apa yakin yang namanya Euro-zone ini bakal tetap kokoh? Terus, otomatis langsung maju?
    Ide bahwa menjadi Barat adalah syarat untuk kemajuan adalah ide kuno yang muncul dari keterbelakangan idiotik rendah diri bangsa-bangsa terjajah. Buktinya, banyak orang yang tetap menjaga tradisi dan budayanya namun tetap maju. Liat aja Cina, Korea, Jepang. Mereka udah jadi raksasa ekonomi yang bahkan bila digabungkan akan jauh mengalahkan Uni-Eropa dan AS. Dan liat negara yang menerapkan pemerintahan Islami, Republik Islam Iran, yang telah mencapai banyak kemajuan spektakuler.
    Sekulerism? Itu bukannya ide yang muncul di tengah kefrustrasian bangsa Eropa yang jengah dengan perang antar mereka sendiri yang menggunakan agama sebagai alasan? Gak ada dasar sekulerisme dalam masyarakat Islam, walaupun memang di sisi lain belum pernah ada pemerintahan Islam universal yang sejati dalam sejarah setelah Rasul SAAW(Kecuali mungkin 4 tahun masa Amirul Mukminin).

  4. Alhamdulillah aku hidup di Indonesia. Klo di Turki bisa dianggep aneh lantaran berjilbab. yah maklum lah Turki kan nggak pingin menganggap dirinya Asia tapi juga gak diakui sebagai bagian dari Eropa. mungkin mereka tetap berpikir warga Asia adalah kelas kesekian dalam strata kelas dunia makanya jadi lebih bangga kalau dianggap sebagai negara Eropa. lagian inikan warisan kebijakan Kemal Ataturk. jadi heran motivasi di balik kebijakan ini sigh—

  5. Kasihan rakyat turki yang sekuler, sepertinya linglung tanpa identitas nasional, tanpa kebanggaan nasional, kalau jadi eropa mungkin eropa kelas 3.

  6. Ya ALLAH ya tuhanku ampunilah dosa mereka dan tunjukilah mereka jalan benar, dan bahwa sesungguhnya mereka tidak mengetahui kebesaran y ALLAH, ALLAH HU AKBAR…..!!!!!!!

News Feed