Mbah Ronggo… Mbah Marijan dari Gunung Kelud

Rumah Mbah Ronggo mudah dicari. Berada di tepi jalan raya, tidak jauh dari pintu masuk kawasan wisata Gunung Kelud. Namanya juga sudah dikenal sejak masuk Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar ini.

Tapi, jangan membayangkan rumah juru kunci Gunung Kelud ini seperti rumah Mbah Maridjan yang lekat nuansa etnik. Rumah Mbah Ronggo sudah tersentuh nuansa modern. Meskipun tetap sederhana.

Lantai rumah itu sudah berkeramik semua. Walaupun rumah itu relatif luas tapi hanya dua set sofa menghiasi ruang tamu. Selebihnya, dibiarkan kosong tak berperabot.

Kemarin, Mbah Ronggo tengah asyik membersihkan motor. Honda Supra X itu menjadi kesayangan suami Mulyasih ini. “Kagem tindak dateng Kelud (Untuk pergi ke Gunung Kelud),” ucapnya.

Berbeda dengan medan Gunung Merapi, menuju kawasan Gunung Kelud jalannya relatif mudah dicapai. Seluruh jalan sudah beraspal. Sehingga cukup menggunakan sepeda motor. Siapapun sudah bisa mendekati kawah gunung yang sudah meletus 28 kali sejak tahun 1000 hingga 1990 ini.

Selasa lalu, ketika seluruh warga sekitar Kelud panik, dan hendak mengungsi, kakek 64 tahun ini justru menuju kawah. Tidak takut? “Mboten, urip ning gunung, mati yo ning gunung (tidak, hidup di gunung, mati ya di gunung),” bebernya.

Bagi pemilik nama asli Warsito ini, hidup dan mati sudah ada yang menentukan. Dia juga tidak percaya jika Gunung Kelud bakal meletus. “Saya sempat mengitari gunung sampai tiga kali. Tetap aman,” ucapnya dalam bahasa Jawa seraya tersenyum.

Dia memang merasakan udara panas menyengat, kawah juga berubah warna. Tetapi, hatinya tetap tenang. “Saya yakin tidak berubah. Belum waktunya,” tambahnya. Makanya, ketika dia mendengar status Gunung Kelud naik jadi waspada, Mbah Ronggo tidak lagi bingung.

Apa yang dirasakannya saat itu diakuinya memang jauh berbeda dengan yang dirasakannya pada 1990 lalu. Ketika Gunung Kelud benar-benar meletus. Tapi, dia mengaku tidak akan menyebut kapan gunung itu akan meletus. “Kulo mboten saged ngeramal (Saya tidak bisa meramal),” ujarnya merendah.

Seandainya tahu, lanjut Mbah Ronggo, dia tidak akan menyampaikan ke siapapun. Sebab, dia khawatir masyarakat panik. Dia hanya meminta agar masyarakat tetap waspada.

Memang, sejak ada perubahan status, rumah Mbah Ronggo sering didatangi oleh masyarakat sekitar. Hanya sekadar menanyakan kondisi gunung yang sebelumnya menelan korban puluhan ribu orang ini.

Seandainya Gunung Kelud benar-benar meletus, Mbah Ronggo mengaku akan tetap bertahan di rumahnya. “Kalau semua mengungsi, terus siapa yang menjaga desa?” ucapnya dalam bahasa Jawa.

Sebenarnya, Mbah Ronggo baru jadi juru kunci selama dua tahun ini. Diangkat oleh lebih dari 40 sesepuh Desa Sugihwaras. Diakui Bejo Utami, mantan Kepala Desa Sugihwaras yang memimpin pemilihan juru kunci, hanya Mbah Ronggo yang layak menjadi juru kunci.

“Sudah lama, setiap ada masalah, selalu Mbah Ronggo yang dipanggil,” terang Bejo yang kemarin mendatangi rumah Mbah Ronggo. Seperti ketika ada korban tenggelam di kawah, kecelakaan hingga hanya meminta doa.

Akhirnya, Bejo yang saat itu masih menjadi kepala desa memutuskan perlunya juru kunci. Dia lalu mengumpulkan seluruh sesepuh Desa Sugihwaras di SD Sugihwaras III. Hasilnya, dengan suara bulat, seluruh sesepuh memilih Mbah Ronggo.

Sayang, terbatasnya dana desa, sampai saat ini, membuat mereka tidak bisa memberi honor. “Saya berharap (dinas) pariwisata yang membantu,” harapnya.

Namun, hingga sekarang, Bejo mengaku kondisinya tidak jauh berbeda. Tidak ada yang memperhatikan Mbah Ronggo. “Padahal, kalau ada masalah, selalu Mbah Ronggo yang dipanggil. Tetapi, kalau tenang, ditinggalkan,” keluhnya. Lelaki yang berencana maju dalam pemilihan kades November nanti ini mengaku ingin Mbah Ronggo diakui oleh pemkab dan, tentu saja, mendapat honor.

Kecewa. Memang perasaan inilah yang dirasakan Mbah Ronggo. Selama ini janji-janji kalau dirinya akan diakui Pemkab Kediri tidak juga terwujud. “Nggih gelo. Tapi kulo ikhlas (Ya kecewa, tapi saya ikhlas),” ucapnya.

Untuk penghidupan sehari-hari, dia mengaku mengandalkan hasil pertanian. Meski itu diakuinya pas-pasan. Apalagi, satu anaknya masih kecil. Berladang akhirnya menjadi aktivitasnya sehari-hari selain mendatangi Gunung Kelud.

 

Nama asli    : Parjito

Nama sebutan    : Warsito

Nama terkenal    : Mbah Ronggo

Alamat        : Dusun Margorejo, Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kab Kediri.

Tanggal lahir    : Tahun 1943 (Mbah Ronggo lupa tanggal dan bulan)

Pendidikan    : Tidak tamat SD

Istri pertama    : Mulyasih, 58, tahun tidak dikaruniai anak

Isri kedua    : Mulyatin, 32, tahun

Anak        : dua masih balita

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

  1. Mbah Ronggo mengingatkan kepada legenda Reden Ronggo sang putra Panembahan Senopati di era awal Mataram…….
    Mugo wae sedulur kabeh ing sak kiwo tengene Kelud tansah pinayungan ing Pangeran.

News Feed