‘Megahnya’ Kezaliman

Saking banyaknya telepon genggam yang berjajar di meja ruang tamu, sepintas ruangan itu mirip dengan counter selular. Karena banyak orang bertampang angker yang duduk-duduk atau hilir mudik—entah karena memang sibuk atau sekedar memberi kesan ‘seram’—rumah megah di kawasan elite itu tak ubahnya posko suatu partai atau ormas spesialis ‘hit and run’.

Pemiliknya, yang disebut ‘Yang Mulia’, tak henti maggut-manggut atau melenggak lenggokkan batang lehernya (agar tekesan bak ‘unusual man’) setiap kali orang-orang di sekelilingnya membisikkan sesuatu.

Selain selebritas yang sedang meminta doa dan jampi-jampi agar popularitasnya tidak redup, para tamu yang diterima ‘Yang Mulia’ tak kurang dari para pebisnis kelas kakap, yang tengah diburu karena melarikan uang rakyat, atau mantan pejabat level tinggi yang menunggu vonis untuk menjadi penghuni hotel prodeo.

‘Yang Mulia’ adalah pribadi yang mahir memainkan seni kezaliman yang samar sekaligus canggih. Alhasil, ia terlihat sebagai sebuah ‘representasi’ kesalehan dan kewajaran bagi banyak awam.

Ia selalu mengawali konsultasi privatnya dengan sebuah pertanyaan kepada para pasiennya, “Apakah di rumah Anda ada pohon kelapa?” Sebuah pertanyaan sederhana tetapi ‘diharapkan’ mampu menyulitkan dan membuat objek dalam posisi under pressure. Ada dua jenis respon yang telah ia siapkan untuk dua jawaban afirmatif atau negatif. Bila yang ditanya menjawab, “Oh, ya ada, Yang Mulia,” maka ia akan berkata seraya menengadah ke atap, “Saya tidak menebak, tapi memang telah menerawang jauh ke rumah Anda.” Bila dijawab, “Tidak ada, Yang Mulia,” maka ia akan segera menanggapi, “Tanamlah pohon kelapa karena dapat mendatangkan rezeki.” Selanjutnya, ia pun akan menuntaskan lakonnya.

Lakon di atas membutuhkan ketekunan tingkat tinggi dan kemampuan akting prima karena sang pelaku membungkusnya dengan sampul indah bernama ‘konsultasi spiritual’. Profesi ini tidak hanya mengandalkan kebeningan wajah, lebatnya jenggot, dan getaran mulut yang berkomat-kamit, tapi juga ‘ketegaan’ maksimum karena pelaku perlu memanfaatkan kedangkalan dan kebingungan orang yang sedang dirundung masalah. Inilah contoh sebuah ‘megahnya’ kezaliman sebab semua keburukan hadir di dalamnya.

Setiap orang yang berakal sehat dan berjiwa bugar pasti menentang kezaliman dan kesewenang-wenangan. Karena itulah, kritik, penentangan, dan perlawanan terhadapnya selalu saja disuarakan dalam sejarah manusia. Kezaliman memiliki dimensi dan anatomi yang ‘megah’. Ia bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk terhadap diri sendiri.

Bertindak zalim berarti ‘meletakkan sesuatu pada selain tempatnya’. Karena keburukan adalah ketidakselarasan, maka kezaliman merupakan sentra keburukan. Begitu megahnya kezaliman, sehingga ia memiliki dua fakultas: intelektual (pikiran) dan aktual (perbuatan). Kezaliman intelektual adalah berpikir zalim, atau meletakkan pikiran pada selain tempatnya, seperti meyakini yang salah sebagai benar, dan sebaliknya, serta meyakini sesuatu bukan karena kebenarannya, tetapi karena sesuatu yang lain.

Terdapat dua macam kezaliman intelektual, berdasarkan akibatnya: kezaliman intelektual non-teologis, yaitu pemahaman nir-bukti tentang masalah-masalah yang tidak berpengaruh secara tidak langsung terhadap spiritualitas dan nasib kita di akhirat; dan kezaliman intelektual teologis, yaitu pemahaman yang irasional tentang masalah-masalah yang sangat berpengaruh terhadap ‘karir’ kehambaan kita. Puncak kezaliman intelektual adalah penolakan terhadap wujud Tuhan dan syirik: Sesungguhnya syirik benar-benar kezaliman yang besar. Allah juga menganggap orang-orang yang menolak kebenaran (kufur) sebagai pelaku kezaliman, dan orang-orang kafir adalah orang-orang yang aniaya (zalim).

Seseorang yang berpikir zalim akan dengan mudah berlaku zalim (kezaliman aktual). Implikasinya, pikiran zalim bisa melahirkan perbuatan zalim. Bertindak zalim berarti meletakkan tindakan pada selain tempatnya, seperti mendistribusikan dusta demi meraih simpati atau mengalihkan perhatian orang dari keburukan dirinya, membunuh binatang yang tidak menganggu karena iseng (just for fun), merusak lingkungan hidup, menghina orang dengan kedok ‘bergurau’, dan yang paling gres, menyetujui konspirasi yang bertujuan memasung hak kedaultan sebuah bangsa.

Kezaliman aktual, ditilik dari sasarannya, dapat dibagi dua. Pertama, kezaliman internal (kezaliman terhadap diri sendiri), yaitu kezaliman berupa perbuatan dosa yang tidak melibatkan pihak lain. Kita selalu dianjurkan untuk memulai doa dengan pengakuan telah berbuat aniaya terhadap diri sendiri. Inilah password untuk memasuki ruang pengampunan Tuhan: Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menzalimi diri kami. Andaikan Engkau tiada mengampuni kami, maka niscaya kami menjadi orang-orang yang rugi.

Kedua, kezaliman eksternal, yaitu kezaliman berupa perbuatan aniaya terhadap pihak di luar dirinya, seperti perusakan lingkungan, pemborosan sumber daya alam, penindasan hak-hak asasi manusia, dan lain sebagainya. Kezaliman jenis ini tidak identik dengan status atau pihak tertentu: penguasa terhadap rakyat atau sebaliknya, majikan terhadap buruh atau sebaliknya, anak terhadap orang tua atau sebaliknya, serta suami terhadap istri atau sebaliknya.

Mengapa manusia dianggap telah berlaku zalim terhadap diri sendiri ketika melakukan perbuatan dosa? Menurut para ahli filsafat etika, setiap perbuatan dosa, pada hakikatnya, adalah penganiyaan diri. Ia memaksa dirinya melakukan perbuatan yang tidak selaras dengan karakteristik jiwanya, dan secara sengaja menceburkan diri ke dalam siksa Allah. Manusia zalim melakukan perusakan diri (self destruction). Ketika melakukan dosa, maka ia memang berencana untuk melakukan ‘aksi mogok’ di depan pintu surga-Nya. (Copyright majalah ADIL edisi 17. Sumber: www.adilnews.com)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed