“MEMAAFKAN PENGHINA NABI SAW”?

 
Beredar video yang menayangkan seorang komedian spesialis kontroversi yang mencoba menyederhanakan persoalan penghinaan oleh Charlie Hebdo dan para pendukungnya juga menyalahkan kecaman kepada Macron atas pernyataannya dengan mengatakan bahwa Nabi sebagai pribadi sangat mulia memaafkan orang yang menghinanya. Anehnya, komedian yang biasanya mendukung sikap Pemerintah kali ini jadi “oposisi” karena Pemerintah juga mengecam pernyataan Macron.
 
Dilumuri kotoran oleh badui, diam. Dihujani dengan batu dan krikil oleh bocah-bocah di Thaif, memaafkan. Padahal kedua aksi itu adalah penghinaan yang nyata. Nabi memaafkan penghinaan personal karena keunggulan moralnya di atas semua manusia. Meski bersifat personal dan dimaafkan oleh Nabi, umatnya berhak dan patut mengecamnya. Tapi beliau dan umat takkan memaafkan penhinaan terhadap misi kenabiannya.
 
Mengapa tak memaafkan?
 
  1. Pembuatan dan penyebaran karikatur yang menghina Nabi bukan masalah satu orang tapi lebih dari satu milyar orang. Kalau harus dimaafkan, maka semua orang yang tersinggung harus memaafkannya.
  2. Ini bukan penghinaan person kepada person, tapi penghinaan beberapa person kepada keyakinan dan sosok yang disakralkan oleh banyak orang.
  3. Mengecam penghinaan kepada Nabi SAW bukan ekspresi dendam dan amarah. Justru ini adalah sikap logis sebagai bagian dari responsibilitas moral dan teologis karena penghinaan adalah agresi dan pelanggaran terhadap hak asasi manusia.
  4. Penghinaan oleh Charlie Hebdo bukan kali pertama dilakukan. Memaafkannya hanya merendahkan pihak yang memaafkan
  5. Bila setiap penghinaan dimaafkan tanpa mencabut pernyataan dan karilkatur penghinaa itu, akan jadi preseden buruk.
  6. Karena aksi pemenggalan dan penusukan adalah kejahatan yang juga harus dikecam tidak logis dianggap sebagai kejahatan yang sama dan setimpal dengan penghinaan kepada Nabi sehingga kasus penghinaan ini dianggap selesai tanpa pencabutan dan permohonan maaf karena telah melebarkan islamphobia.
 
Memaafkan perlakuan buruk tak selalu baik dan mulia bila maaf justru tak membuat pekakunya jera.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed