MEMBAKAR LOGO SPARATISME

MEMBAKAR LOGO SPARATISME

Simbol adalah penanda sesuatu yang ditetapkan dan disepakati oleh sekelompok orang demi mewakili spirit tertentu berupa bendera atau lainnya.

Bendera adalah benda berupa kain atau kertas dalam bentuk tertentu dan warna tertentu dengan sejumlah cirikhas berupa gambar atau tulisan.

Tulisan adalah kata atau kalimat berupa rangkaian huruf yang mengandung makna tertentu.

Tulisan dalam bendera adalah adalah logo atau ciri khusus yang ditetapkan oleh sebuah negara, partai, organiaasi dan institusi tertentu sebagai simbol ideologi dan nilai-nilai yang diyakini atau cita-cita yang diperjuangkan.

Kalimat tauhid dengan pola tertentu (jenis font) dan warna tertentu dalam bendera adalah logo yang mewakili sabuah ideologi dan cita-cita politik sekelompok orang yang meyakininya, bukan tulisan dengan tujuan umum. Kalimat Tauhid dengan makna umum dan pola penulisan umum bukanlah benda.

Kata tauhid dengan makna cita-cita politik yang dianggap sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan atau properti tertentu adalah perlengkapan dan bagian dari aksesoris benda. Ia bisa dianggap sebagai logo.

Membakar bendera berarti membakar benda berupa kain atau kertas yang memuat semua tulisan yang mengandung makna khusus dan cita-cita khusus.

Membakar bendera dengan tujuan menolak makna Tauhid yang umum bisa dianggap sebagai penghinaan. Meski demikian tuduhan penghinaan hanya bisa ditujukan kepada orang atau pelaku yang tak mengimani makna umum Tauhid.

Salah satu modus marketing yang mudah menarik konsumen dan kaki tangan atau jelata patuh adalah mengakuisisi, mencatut dan menjadikan teks-teks yang dimuliakan semua umat Islam sebagai “merek dagang” dan logo khusus kelompok yang pada hakikatnya karena pemaknaanya yang irrasional terduga penista asli maknanya.

Terlepas dari tujuan positif menumpas ekstremisme dengan mimpi khilafah dan tujuan mulia melindungi NKRI dari ideologi transnasional, aksi bakar bendera sepatutnya perlu dihindari karena justru inilah yang digoreng dan dijadikan oseng-oseng demi membangkitkan militansi para jelatanya yang shock akibat pelarangan.

Meski demikian, aksi pembakaran bendera organisasi yang secara sadar didirikan demi mengganti produk kesepakatan bisa dipahami sebagai ekspresi pembakaran sparatisme.

Menegakkan kebenaran dengan aksi yang bisa menjauhkan orang dari kebenaran adalah tindakan kontraproduktif. Orde Baru pernah menjadikan Asas Pancasila sebagai doktrin yang dipaksakan sehingga banyak yang salah paham dan curiga. Padahal Pancasila dan NKRI adalah pilihan logis, bukan doktrin yang hanya bisa diterapkan dengan pemaksaan dan konflik. Kemestian asas Pancasila yang menjadi benang merah masyarakat majemuk ini bisa dijelaskan dengan argumen valid dan aksiomatis. Yang menolaknya hanyalah limbah yang harus ada sebagai ekses produktivitas dan layak didaur ulang dengan ketelatenan dialog dan edukasi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed