MEMINTA KARUNIA KEPADA TUHAN ATAU MENCARINYA DENGAN USAHA?

Selama beberapa hari di kota pegunungan ini saya diminta hadir mulai pukul 8 malam dalam beberapa kali pertemuan santai dengan beberapa pemuda untuk membahas beragam tema agama dan politik nasional.

Semua masalah dibicarakan dalam obrolan ringan. Semua yang hadir dalam ‘majlas’ (bukan ‘majelis’ yang nyaris identik dengan poster dan teriak-teriak provokasi) tertarik untuk mengajukan pertanyaan seputar isu politik terutama pilpres dan fenomena-fenomena viral seputar itu.

Namun di antara obrolan ngalor ngidul itu saya terkesima oleh sebuah pertanyaan yang tak mengandung politik tapi cukup berat dn krusial yang diajukan oleh teman yang menjadi tuan rumah. “Tuhan itu kan Maha Dermawan. Begitu diajarkan kepada kita semua. Kan begitu?” tanyanya sambil menunggu respon saya sebelum melanjutkan pertanyaan utamanya.

Waduh! Ini kok seperti jebakan. Begitu yang terlintas dalam benak saya yang terbiasa menganlisa kata dan ekspresi pertanyaan.

“Ya ya. Memang begitu,” sahut saya masih penasaran.

“Karena itulah kita juga berusaha membantu orang tanpa menuntut apapun dari dia, bahkan sebagian orang yang kita bantu adalah orang yang pernah merugikan kita.”

Saya menganggukkan kepala sambil menunggu kelanjutan pertanyaannya, “Lalu mengapa Tuhan selalu mensyaratkan karunia-karuniaNya dengan penyembahan, ketaatan dan perbuatan-perbuatan baik?” lanjutnya dengan pertanyaan yang menohok.

Selama beberapa detik saya terdiam mengumpulkan semua data teologi yang pernah singgah di benak.

“Bagaimana, ustadz?” Pertanyaannya menyadarkan saya.

“Mohon ulangi pertanyaan dengan ungkapan lain supaya saya bisa menanggapinya dengan jawaban yang sesuai,” pinta saya.

“Begini. Jika Tuhan itu Maha Pemurah, mengapa memilih-milih penerima kemurahanNya dengan syarat kepatuhan dan ibadah? Kita saja yang hamba lemah kadang membantu orang lain tanpa menetapkan syarat-syarat.”

Saya memberanikan diri untuk menjawab, “Saya akan mencoba untuk menjawab dengan beberapa poin yang perlu dijadikan sebagai pendahuluan.

Pertama, secara ontologis, selain Kausa Prima tak mempunyai eksistensi mandiri, bahkan eksistensi semua makhluk adalah kebergantungan abadinya kepada Tuhan sebagai pemilik tunggal wujud.

Kedua, pemilik wujud tunggal adalah pemegang tunggal kekuasaan. Karena Dia penguasa sejati, maka hanya Dialah satu-satunya pemilik. Kita dan semua ciptaanNya hanyalah pengklaim kepemilikan.

Ketiga, karena Allah adalah satu-satunya pemilik sejati dan tunggal, maka hanya Dialah pemberi tunggal dan sejati, sedangkan selainNya, karena tak punya kuasa, tak memberi. Pada dasarnya makhluk tak memiliki apapun termasuk dirinya sendiri.

Keempat, karena rendahnya kesadaran eksistensi, terutama tentang poin pertama, kedua dan ketiga, sebagian besar manusia yang merasa beriman menganggap apa yang diperolehnya dalam kehidupan adalah karunia Tuhan, padahal eksistensi dan kehidupannya, sebelum meminta dan memperoleh apapun, adalah karuniaNya. Karena sempitnya pandangan dunia, sebagian besar orang membatasi karunia Tuhan pada hal-hal yang diperoleh setelah hidup, seolah kehidupannya bukanlah karuniaNya. Padahal apa yang ada pada dirinya dan para makhluk, terutama eksistensi dan hidup, adalah karuniaNya. Banyak manusia lalai bahwa kemampuannya untuk meminta kepada Tuhan itupun merupakan pemberian Tuhan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed