MENCARI BERKAH LAIN DI BALIK PANDEMI

Sejak dua bulan lalu saya mendekam dalam rumah kontrakan karena memang tak punya kantor yang menjadi tempat meniti karir atau tempat bedagang kios. Saya hanya pengajar sehari dalam seminggu di sebuah perguruan tinggi swasta. Baru Selasa kemarin saya keluar karena harus melakukan sesuatu yang tak bisa ditunda dan tak bisa diwakilkan, yaitu mengurus sim card yang hilang demi memperoleh yang baru. Karena tak punya gambaran sama sekali tentang situasi di jalan, sebelum pergi saya menutupi kepala dengan topi, wajah dengan masker dan kedua mata dengan kaca minus di wajah sangar asli.

Kami meluncur meninggalkan kampung memasuki jalan raya mengikuti arahan navigasi Google. Ternyata itu kantor utama perusahaan milik Negara itu. Kata satpam, memang ini kantor pusat tapi tidak membuka pelayanan pelanggan. Dia menyarankan saya mendatangi kantor pelayanan di Condet dan memberikan penjelasan detail alamatnya. Jauh terlihat jelas logo perusahaan telekomunikasi seluler itu.

Hati saya senang dan membayangkan pelayanan cepat karena susana dalamnya sangat sepi. Ternyata itu bukan kantor pelayanan konsumen. Hedueh.

Kami putar balik dan bergerak ke sebuah mall yang tak jauh dari situ. Mall tak tergolong wah dan biasanya tak ramai pengunjung. Ternyata orang yang muter-muter mencari kantor pelayanan bukan hanya saya. Antrian mengular dari depan pintu kaca kantor itu. Setelan dua jam menghimpun pahala sabar, saya nomer antrian 154.

Selama dua jam ngantri, saya merasa nyaman. Sikap semua orang terlihat bersih, ramah dan tenang. Tak terlihat kepanikan dari raut muka mereka meski tetap menjaga jarak. Luar biasa. Bangsa ini benar-benar luar biasa. Dibandingkan AS dan negara-negara Eropa yang maju dan kaya yang sedang dilanda stress massal karena penyebaran cepat dan luas virus ini, di negara yang berpenduduk sekitar 300 juta warga ini angka kematian masih di bawah banyak negara masih di bawah. Ini fenomena tawakkal dan kesabaran yang tak bisa diukur dengan matematika.

Pandemi ini memang merusak tatanan ekonomi dan kehidupan banyak orang. Efeknya tak terlukiskan. Tapi ini bukan akhir dari kehidupan spesies manusia. Seganas apapun, virus bukanlah makhluk bersubstansi. Ia bergantung kepada substansi lain untuk bertahan. Bila menempel pada substansi yang imun, ia mengalami kejenuhan dan kehilangan potensi dan proses aktualisasinya berhenti.

Sambil menanti para pemegang kewenangan dan para ahli menemukan solusi dalam mengkahiri kemandekan relatif kehidupan, kita perlu menyeimbangkan kewaspadaan dengan optimsme agar bisa menikmati berkah tersamar (blessing in disguise) di balik bencana sains ini.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed