Mencari Habib Sejati

Sejumlah kata mengalami inflasi makna. Habib adalah salah satunya. Sekarang ini setiap orang keturunan Arab seakan-akan berhak menyandang gelar habib itu.

Dari mana habib berasal? Tentu dari bahasa Arab. Hubb, ahabbah–yuhibbu–hubban, menurut Kamus Arab-Inggris-Indonesia terbitan Al-Maarif, Bandung (1983), berarti cinta atau mencintai. Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka (2005) mengartikan habib sebagai yang dicintai atau kekasih. Bisa juga panggilan kepada orang Arab yang artinya tuan atau panggilan kepada orang yang bergelar sayid.

Sayid berasal dari saadah, ya siidu, siyadah yang berarti pimpinan atau ketua yang melayani (ummat). Kamus Besar mengartikan sayid sebagai tuan atau sebutan untuk keturunan Nabi Muhammad. Kamus Besar memperjelas kata itu dengan sayidani yang berarti tuan yang dua–sebutan untuk dua cucu Nabi, yaitu Hassan dan Hussein.

Berkaitan dengan dua kata tadi, ada kata syarif yang berarti orang yang mulia. Kata ini juga berarti bangsawan, sebutan bagi keturunan Nabi Muhammad yang langsung dari garis Hussein. Yang perempuan disebut syarifah.

Dengan begitu, habib disematkan sebagai bentuk kecintaan umat terhadap guru yang mengajarkan kebaikan dan akhlak. Ini sama dengan gelar kiai atau ajengan di Jawa.

Sejarah Islam menjelaskan, habib merupakan gelar mulia untuk keturunan Hussein bin Ali bin Abi Thalib. Cucu Nabi Muhammad ini dibunuh secara kejam di Karbala. Anaknya, Ali Zainal Abidin, karena tekanan penguasa khalifah “Islam”, hanya bisa menjadi ahli ibadah, maka di belakang namanya ada gelar abidin.

Semua khalifah “Islam” memusuhi keturunan Hussein karena takut pengaruh keilmuan dan ketinggian asal keturunannya. Keturunan kedelapan, Ahmad bin Isa, akhirnya pindah dari Basrah di Irak selatan ke Hadramaut di Yaman. Ia wafat pada 345 Hijriyah. Cucu Ahmad bin Isa, Alwi bin Ubaidillah, yang menetap di Hadramaut, dan keturunannya kemudian dinamai Alawiyin.

Penetapan nama itu, menurut Tharick Chehab (1975)–yang ditulis kembali oleh Kurtubi (10 Januari 2007) dalam Sejarah Singkat Habaib (Alawiyin) di Indonesia–dilakukan karena di Hadramaut berlaku undang-undang kesukuan. Setiap keluarga harus punya nama suku. Beberapa suku besar dan ningrat di Yaman saat itu disebut Qabili. Mereka memusuhi keturunan Sayidina Ali bin Abi Thalib itu.

Karena tekanan masyarakat semakin kuat, keturunan keenam Alwi bin Ubaidillah, Muhammad al-Faqih al-Muqaddam, meninggalkan mazhab ahlul bait yang dianutnya. Secara kompromis ia menerima mazhab Muhammad bin Idris al-Syafi-i al-Quraisyi atau mazhab Syafi’i. Setelah Al-Muqaddam wafat di Tarim pada 653 tarikh Islam, keturunannya pun menyebar ke Afrika Timur, India, Malaysia, Thailand, Filipina, Tiongkok, juga Indonesia.

Di Indonesia, keturunan Hussein masih membawa nama keluarga karena pengaruh kehidupan di Hadramaut. Kita mengenal Al-Attas (yang berarti bersin atau bangkis), As-Saqaf (atap/langit-langit), Al-Haddad (hadid, besi/pandai besi), Al-Habsyi (nama tempat di Afrika, Habsyah), Al-Jufri, dan sebagainya. Nama belakang itu berasal dari panggilan, profesi, atau asal-muasal, seperti nama marga di Tapanuli, Makassar, atau Jawa.

Di beberapa negara, alawiyin bisa dikenali lewat sebutan sayyid, syarif, ayib, atau sidi di depan nama mereka. Misalnya bekas Menteri Luar Negeri Malaysia, Syed Hamid Albar, atau pemimpin tertinggi Iran, Sayyid Ali Khamenei.

Masyarakat kita mengenal orang-orang mulia, tinggi ilmu agama, dan terpuji akhlaknya seperti Habib Sholeh bin Muchsin Alhamid dari Tanggul, Habib Abdurahman Alaydrus dari Luar Batang, Jakarta Utara, dan Habib Ali Alhabsyi dari Kwitang, Jakarta Pusat. Artinya, sayyid atau habib hanya pantas disandang orang dengan tingkat ketakwaan, kezuhudan, dan keilmuan yang tinggi serta berakhlak mulia.

Gelar habib itu bukan gelar untuk keturunan Arab yang hanya cakap memakai sorban dan jubah tapi jauh dari akhlak mulia. Itu bukan gelar untuk mereka yang suka memakai kekerasan, apalagi mengatasnamakan agama.

(ditulis oleh Ahmad Taufik, Wartawan. Sumber: Majalah Tempo edisi 9-15 Februari 2009)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

37 comments

  1. Tulisan ini sangat menarik. Akan lebih menarik lagi kalau sejarah tentang tokoh-tokoh alawiyin di abad pertengahan yang di Yaman berpindah mazhab ke mazhab syafii ini dibukukan secara ilmiah. Sebab beberapa penulis ahlussunah menolak bahwa nenek moyang para habaib bermazab Syiah. Lalu sebelum adanya Imam Syafii mereka bermazab apa? Saya rasa para peneliti sejarah habaib dari ahlussunah pun layak untuk diminta pendapatnya.

    Dan juga seperti di Yordan, Mesir, Syuriah, serta negara-negara lainnya apakah mereka tetap bermazhab ahlilbait atau mengikuti mazhab setempat.

  2. salam ustad, kalo gelar tubagus yang di banten? kanon masih keturunan dari pangeran syarif hidatullah alias salah satu wali songo yang konon juga alawi?? Bisa diterangkan, jazakallah..

  3. Salam,
    Sebelumnya trims untuk Habib Labib atas jawaban comment saya di posting “Al-Kisut” :).
    Ini memang tema yang menarik di pikiran saya Ustadz, memang sulit mencari Habib Ideal, yang bisa menyamai “ajdaduna wa aslafuna” (maaf saya pinjem istilah dari teman2 di kumpulan maulud). Sayangnya, saya sering kali melihat orang2 yang memang layak menjadi Habib malah sembunyi dan seakan tidak mau menjadi tokoh ummat ini. Contohnya (maaf sekali) ustadz2 kita yang dari saadah ini sering enggan di-“Habib”-kan. padahal menurut saya mereka yang lebih layak dipanggil “Habib”. sedangkan kami yang awam ini perlu tokoh yang mudah dikenali. tidak mungkin kami yang ilmunya dangkal bisa menilai tokoh2 tsb dari ilmunya (wong kami lebih bahlul kok). Jadi saya sangat mengharap para Habib dari Ahlulbait ini berkenan tampil dengan khas “habaib”-nya. karena kami yang dangkal ini hanya mampu mengenali dari sisi tsb.

    wallahu a’lam..wal ‘afwu minkum..

  4. 1) Mau tau seperti apa HABIB sejati??
    Dalam kitab Uyun Akhbar Ar-Ridha, dari Imam Ja’far Ash-Shadiq as diriwayatkan kisah yang berikut ini:
    Setiap kali hendak bepergian jauh, Ali (Zainal Abidin As-Sajjad as) putra Sayidina Husain as selalu mencari teman-teman seperjalanan (dalam sebuah rombongan kafilah) yang tidak mengenalnya. Dia pun selalu mensyaratkan kepada mereka bahwa dialah yang berperan sebagai pelayan rombongan kafilah tersebut hingga mereka tiba di tempat tujuan. Suatu saat ia mengadakan sebuah perjalanan bersama sekelompok kafilah yang tidak mengenalnya.
    Di tengah jalan, kafilah lain menjumpai rombongan Ali bin Husain tersebut. Salah seorang dari mereka yang mengenal cucu Rasulullah saw itu menegur kafilah yang dijumpainya seraya berkata, “Tahukah kalian, siapakah orang yang menjadi pelayan di tengah kalian?” “Tidak” jawab mereka. “Ini adalah Ali putra Al-Husain” tegas sang pecinta Ahlul Bait Nabi (saw) itu.
    Mereka pun bergegas bangkit melompat dan menghampiri Ali putra Al-Husain sambil menciumi tangan dan kakinya seraya berkata, “Wahai putra Rasulullah, apakah engkau bermaksud menjerumuskan kami ke dalam api Jahannam? Akibat ketidaktahuan kami, engkau kami biarkan menjadi pelayan kafilah ini. Sungguh, kecelakaan pasti menimpa kami hingga akhir masa apabila sepanjang perjalanan ini kami mengeluarkan ucapan atau tindakan yang tidak berkenan. Apa gerangan yang menyebabkan engkau menyembunyikan jatidirimu, wahai putra Rasulullah?”
    PERHATIKAN BAIK-BAIK JAWABAN HABIB SEJATI, IMAM ALI ZAINAL ABIDIN AS-SAJJAD:
    “Pernah suatu ketika, aku bepergian jauh ditemani oleh orang-orang yang mengenalku dengan baik. Mereka lalu memperlakukan aku secara berlebihan lantaran keagungan kakekku Rasulullah (saw). Mereka menghormati aku dengan penghormatan yang tidak selayaknya aku terima. Karena itulah, kali ini sengaja aku merahasiakan jatidiriku agar aku tidak menerima keuntungan dari kebesaran kakekku berupa penghormatan berlebih kalian yang tak pantas aku terima.”

    2) Masyarakat Arab yang telah akrab dengan semangat perjuangan dan pengorbanan Ahlul Bait Nabi saw memaknai kata sayid (pemimpin) sebagai sayyidul qaumi khaadimuhum, yang artinya pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.

  5. Ust. kalo boleh ana ingin tanya bagaimana pandangan ust. Labib tentang sebagian Habaib yang tidak mengakui Imam Musa Kadzhim As sebagai putra Imam Jafar Shodiq as ? mereka mengatakan bahwa Musa khadzim (as) adalah saudara Imam Jafar Shodiq As

    kebanyakan yang berpadangan begini adalah para Habaib dari nasabnya Ali Uraidhi (Hadramaut Yaman) dengan kecenderungan mencela Imam Khomeini (Nasab ke Imam Musa Khadzim As) .

    Umumnya mereka tidak tahu Imam Khomeini adalah Dzurriyah Rasul Juga, bada Tahu ‘weis kadung isen’ jadi diam saja.

    mohon tanggapannya, apakah tidak ada upaya meluruskan jalur nasab Rasulillah Saww di Indonesia diantara internal Habaib sendiri agar makin solid dalam track yang ‘sesungguhnya’

    afwan…

  6. Kapan dan mengapa istilah HABIB muncul di Hadhramaut?
    Dalam sejarah Hadhramaut disebutkan bahwa Sayid pertama yang memperoleh panggilan akrab HABIB adalah Al-Habib Umar bin Abdurrahman Alatas, setelah masyarakat merasakan betul kontribusi beliau di bidang sosial.
    Sebelum generasi beliau, para keturunan Rasulullah saw biasa akrab dengan panggilan sayid. Istilah ‘syekh’ juga berlaku untuk mereka di zaman Syekh Abu Bakar bin Salim. Ada juga panggilan ‘imam’ di zaman Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir
    Seperti kakeknya, Imam Ali Zainal Abidin as, Al-Habib Umar ini dikenal dengan kebiasaannya yang selalu membantu fakir miskin di malam hari secara diam-diam, dengan membagi-bagikan makanan ke rumah-rumah mereka. Kebiasaan beliau ini baru diketahui setelah bantuan untuk fakir-miskin Hadhramaut terputus pada saat Al-Habib Umar wafat.

    HABIB identik dengan pelayanan terhadap umat.
    Tapi habib-habib sekarang maunya dilayani.

  7. menurut saya ada beberapa hal atau alasan yang membuat beliau2 bersembunyi atau mungkin tidak menampakkan diri secara terang2an:
    1.karena keadaan yang tidak menjamin keamanan dan keselamatan keluarganya (mereka berhak untuk melakukan ini, mereka akan keluar jika memang sangat2 perlu, mengenai kapan?, tdk dapat kita ketahui secara pasti karena sesungguhnya mereka lebih tahu hak dan kewajibannya dari pada kita), anda mungkin bertanya ada apa dengan keselamatannya?? jawabnya anda sendiri tahu karena sudah bisa melihat dinegeri kita sendiri walaupun menurut orang2 indonesia adalah negara yang termasuk damai dan tentram tapi tidak dengan masalah keyakinan, masalah ini begitu rentan karena rapuhnya pondasi keimanan bangsa sehingga mudah untuk dijadikan alasan untuk menyerang sisi atau kelompok lain, 2.karena sesungguhnya mereka adalah manusia2 mulia yang jauh dari riya atau niat untuk menonjolkan diri sehingga saat mereka perlu turun di tengah2 kita mereka tetap melakukannya dengan begitu hati2.
    untuk mengetahui siapakah kekasih2 ini bisa kita lihat langsung dari wajah2 mereka, saya yakin anda bisa melihat perbedaan mereka dengan lainnya karena mereka diliputi cahaya dari Allah tapi itupun untuk melihatnya anda tidak hanya memerlukan pandangan mata tapi anda jg perlu dgn pandangan hati anda.
    saya pernah mendengar ada seorang Habib kasar (fisik) terhadap istrinya, saya meyimpulkan (secara objektif tentunya) bahwa beliau pastilah bukanlah seorang habib karena habib jauh dari sifat buruk itu.

  8. salam,

    untuk dwickoian, menjawab pertanyaan sdr, apkh ada upaya meluruskan jalur nasab Nabi SAWW di Ind? sebenarnya di Ind sejak dahulu kala (bahkan sejak zaman penjajahan dulu), sudah ada lembaga khusus yg mengurusnya, nama lembaga tsb adalah Rabithah Alawiyin. Rabithah ini ada di kota-2 besar di Ind, bahkan diluar Ind. Tugas lembaga tsb salah satunya adalah mencatat para keturunan Nabi SAWW.

    Mengenai ketidak tahuan bahwa Imam Khomeini RA adalah seorang dzuriyah Nabi SAWW, sebenarnya bukanlah mereka tidak tahu, tetapi pura-2 tidak tahu atau lebih tepatnya tidak mau mengakui. Padahal kalau ukurannya adalah ketinggian ilmu & kemuliaan akhlaq (untuk bisa mengaku sebagai sayyid), maka jelas Imam Khomeini jauh..10x lebih berilmu & berakhlaq dibanding dg mereka-2 yg tidak mengakui kesayyidannya.

    Adapun ttg kecenderungan adanya segilintir habaib yg mencela Imam Khomeini RA, yg kebetulan nasabnya bersambung dg Sayyidina ‘Ali al Uraidhi RA, mohon janganlah membuat anda berkesimpulan bahwa : kebanyakan yang berpadangan begini adalah para Habaib dari nasabnya Ali Uraidhi (Hadramaut Yaman), karena itu hanyalah ulah segelintir orang, yg tidak mencerminkan begitu banyak keturanan Sayyidina ‘Ali al Uraidhi RA lainnya, yg tidak pernah berpandangan sekonyol itu.
    Karena hingga saat ini Nasab Keturunan Nabi SAWW-lah satu-2nya nasab yg begitu terjaga, apalagi untuk generasi-2 awal. Sehingga hanya orang bodoh & orang-2 yg ingin terus menjadi bodoh saja yg tidak tahu jika Imam Kazhim AS adalah putra Imam Shadiq AS, sebagaimana Sayyidina ‘Ali al Uraidhi RA (yg merupakan salah satu ulama mazhab Ahlul Bait) adalah putra Imam Shadiq AS.
    Itu semua karena enggan & malas untuk belajar.

  9. Keturunan Rasulullah bukan hanya ada di yaman and indonesia saja mreka tersebar hampir di seluruh penjuru dunia. Bukan pula yg tertempel gelar ‘Al’ dibelakang namanya.seperti kta tahu gelar khan di india merupkan keturunan nabi Saaw pula.klaim meng klaim memang sudah biasa terjadi di indonesia. afwan

  10. keturunan Rosul ( SAYID/SYARIF) di irak dan iran sudah ada lebih dulu sebelum keberadaan para habib di yaman atau indonesia.

  11. —————————————————————————-/
    Alang-alang Says:
    February 12, 2009 at 4:42 pm

    berarti Qabili seiring sejalan dengan majalah “Kabili” ya
    —————————————————————————-/

    Tidak juga lang alang, apakah anda akn menghina para Anshar…
    Silahkan anda tanya kepada Seluruh bangsa alawi itu…. Siapakah yang lebih baik kepada mereka dibanding orang2 yemen itu… Adakah bangsa arab lain yang lebih dekat baik nasab darah dan kekerabatan dibanding mereka ahlu yemen???? Ketahuilah Qohthan lebih mulia dibanding bangsa Yahudi….

  12. Ana punya ide, bagaimana GoBlog membuat topik baru lagi… yang lebih seru. Supaya blog ini rame… topiknya “mana lebih mulia, Qohthan/Joktan atau Yahudi”…

    Ana ingin tau… knapa topik Habib dan Masyaikh ini dibentur benturkan. Seolah olah antara kami dan mereka terlibat permusuhan yang dalam. Kepada Habaib-habaib… ana mau beritahu sedikit hal yang terlupakan… Tidak ada bangsa arab manapun didunia ini yang lebih baik kepada anda dibanding kami bangsa kami, arab asli Hadhrami…

    Siapakah yang menolong Rasul saw ketika terusir?… KAUM ANSHAR!
    Orang-orang Iraq mencincang-cincang tubuh hussain…. adakah Husain dicincang2 di Hadhramaut????
    Al-Muhajir memilih Hadhramaut dan bukan Nejed….

  13. Saya kok jadi bingung yaa ngebaca komen sdr al-Amri… sampe bolak-balik baca artikelnya, nyari-2 dimana ada tulisan “Habib dan Masyaikh dibentur benturkan”… ???

  14. Ha..ha..ha
    Mungkin ini yang membuat saudara kita itu tersinggung, “berarti Qabili seiring sejalan dengan majalah “Kabili” ya”

    Majalah Kabili itukan Wihibi. Dan Saudara kita itu mungkin tidak suka disebut Wihibi 🙂 Hmm.. mengenai “Habib dan Masyaikh” itu mungkin… Hmm itu mungkin akumulasi dari fikiran yang sudah lama dipendam. Topik-topik serupa kan banyak 🙂 Mana ada orang Yaman yg asalnya Ilmu Hikmah ini menjadi Wihibi.. 🙂 Wihibi itukan tempatnya di Nijid.

  15. Assalamualaikum, WR. WB
    Mohon penjelasan? Saya pernah membaca biografi Ali Zainal Abidin Bin Husain Cucu NAbi.
    Salah seorang Putera ‘Amar bin Yasir meriwayatkan bahwa: pada suatu hari Ali bin Husein kedatangan suatu kaum, lalu beliau menyuruh pembantunya untuk membuatkan daging panggang, Kemudian pembantu itu dengan terburu buru sehingga besi untuk membakar daging terjatuh mengenai kepala anak Alin bin usein yang masih kecil sehingga anak tersebut meninggal. Maka Ali berkata kepada pembantunya,’ kamu kepanasan, sehingga besi itu jatuh’. Setelah itu beliau sendiri mempersiapkan untuk memakamkan anaknya.”. Menunjukan kesabaran dan kepasrahan beliau, dimana seorang pembantu telah menyebabkan kematian anaknya. sehingga ia membalas kejelekan dengan suatu kebaikan.
    Pertanyaan saya ada berapa putra Zainal Abidin ?
    Smoga Allah SWT melimpahkan rahmatnya pada kita semua, Amin!

  16. bersukurlah saudara2 yang telah ditakdirkan dgn keturunan sayid dan syarifah berarti kita semua harus menjadi contoh kepada umat manusia yg tidak ditakdirkan seperti kita semua, maka setiap langkah sekecil apapun yang dilakukan selalu dalam sorotan yg bkn ahlul bait, mohonlah kiranya kita sbg keturunan ahlut bait contohkanlah yang terbaik dlm pergaulan dimasyarakat, karena saya sendiri merasakan setiap yang dilakukan negatif oleh kerturunan ahlul bait selalu diambil yang negatifnya aja mereka besar-besarkan. sekali lagi contohkan yang disunnah kan Rasulullah SWT …… inilah tanda sukur kita kepada Nabi besar Muhammad SWT, semoga kita dalam berkumpul dgn Nabi Besar Kita Muhammad SWT diakhirat nanti amin …

  17. salam, saya ingin meluruskan ttg masalah imam musa al-kazim. tidak ada satu pun habaib yg menyatakan. bahwa beliau bkn anak imam ja’far. imam musa adalah kaka dari imam ali al-uraidhh. yg ktrunan nya bnyk di hdrmut dan indonesia. untuk bp DR MUHSIN LABIB bisakah bp carikan info tentang nasab/silsilah imam khumaini yg jalurnya bersambung ke imam ja’far. sebab bagi kami, setiap org yg keturunan nabi harus mempunyai sambungan nasab. hal ini adalah sangat penting bagi kami. nasab bani alawi tersimpan rapi dan menjadi rujukan setiap habaib. saya sudah cari di google nasab imam khumaini tapi tidak ada yg saya temukan silsilah beliau yg sampai kpd imam musa. saya hanya lihat beliau hanya sampai 3 bin. padahal minimum 5 bin bru bisa di telusuri nasab nya. sekali lagi saya mohon kiranya ustad bisa mencarikan info ini. mungkin di iran ada juga maktab urusan nasab sperti di jkt. maaf atas semuanya. salam.

    1. seperti telah ditulis dalam artikel, keturunan ahlul bait kebanyakan menetap di yaman terus menyebar ke negara-negara asia. kalau orang iran kebanyakan merupakan keturunan bangsa persia (iran saat ini). jadi kebanyakan pemimpin mereka di nasab kepada garis keturunan kaisar persia.
      kalo berbicara mengenai Syiah yang mencintai ahlul bait itu juga masih tanya tanya. karena kebanyakan ahlul bait adalah ahlus sunah wal jamaah (madhzab safi’ie). atau jangan-jangan syiah hanya mencatut nama ahlul bait untuk kepentingan duniawi/politik mereka saja, seperti pendiri syiah yang menginginkan persia bangkit kembali. (sejarah: raja-raja persia berdarah yahudi).

  18. @lilbet

    setau saya Imam Ali Al Uraidhi adalah kakak dari Imam Musa Al Kadhim (a.s), keduanya adalah putra Imam Ja’far (a.s) bin Muhammad al Baqir (a.s)

    Imam Khomeini (r.a) adalah keturunan Rasulullah melalui Imam Musa Al-Kadhim (a.s) mungkin detailnya bs diterangin lebih lanjut nanti sama ustad sayyid Muhsin Labib

  19. apakah kalau takdirnya habib terus takdir hidupnya akan baik, tidak perlu susah2 berusaha jadi orang baik – godaan hidup hanya sedikit.

    Subhanalloh – lindungilah hamba — Amiiin

  20. PENGERTIAN QABILI

    Rupanya ada yang belum tau apa yg dimaksud qabili oleh orang arab.
    Sebenarnya kata qabila (suku) tidak hanya merujuk kepada kelompok kekerabatan tetapi juga untuk kategori status: keluarga qabili mengklaim keturunan dari salah satu dari dua leluhur Arab eponim, Adnan atau Qahtan, dan merasa diri mereka berbeda dan lebih unggul daripada khadiri nontribal, freeborn orang-orang yang tidak bisa mengklaim keturunan tersebut. Khadiri mencakup sebagian besar pedagang, seniman, pedagang, dan masyarakat arab yang tidak tahu asal-usul mereka. (Jadi ingat lho, ada juga orang arab tampa kabilah alias tidak memiliki asal usul yang jelas).

    Status kaum qabili membelah diri menjadi unggul dan inferior. Suku-suku arab yang mengklaim memiliki kemurnian dalam darah dan asal (asl) dan yang paling menonjol adalah Qahtan, Utayba, Dawasir, Sahul, Manasir, Bani Yas, Sibay, Aniza, Shammar, Harb, Mustayr, Ajman, Dhafir, Bani Khalid, Bani Hajir, al-Murrah, Qawasim, Bani Yam, Za’ab, Bani Hamdan, Qois Aylan, Quraisy dan Bani Tamim. Bani Alawi Hakikatnya adalah Qabili juga namun tentunya mereka merasa lain sendiri 🙂 sebap mereka adalah keturunan langsung dari Rasul saw melalui fatimah.. oleh sebap itu cukup disebut Bani Alawi saja..

    Adapun suku-suku yang dibawah itu yang dianggap lebih rendah adalah Awazim, Rashayda, Hutaym, Aqayl, dan Sulubba. Sulubba, yang bepergian gurun sebagai tinkers dan pengrajin logam dalam pelayanan untuk Badui yang lebih kaya. Mereka berada di bagian bawah skala sosial suku.

    Perkawinan antara individu dengan status qabila dan khadiri, dan antar individu yang unggul dan inferior suku, disukai. Karena klaim qabili yang menjaga kemurnian keturunan melalui garis dari ayahnya.

    Adapun perkawinan antara anak wanita dari kaum qabili yg tehormat menikah dengan laki-laki dari khadiri nontribal sangat tidak disukai. Sebap anak-anak dari perkawinan tersebut akan menderita noda darah campuran dan merefleksikan status dari suku laki-laki secara keseluruhan. Jadi hal-hal semacam ini terjadi bukan hanya untuk golongan Alawi saja. Tradisi seperti ini yg tdk dimengerti oleh orang diluar bangsa arab.

    1. asalamualaikum, wahai saudara ku semoga allah melimpahkan rahmat dan berkahnya untuk mu, ana slama ini sangat penasaran dengan suku bani hajir, klo antum tidak keberatan sudikah antum menjelaskan sejarah asal usul bani hajir untuk ana? alafu jika ada salah kata dari ana maskur ya akhi

      wasalam
      Fahmi Al Hayaza’

  21. Kaum Khadiri nontribal banyak juga ditanah arab. Sekalipun punya fam (marga) mereka tidak memiliki asal usul yang jelas. Jadi jangan sangka kalau orang arab semuanya punya catatan silsilah ke Adnan maupun Qahtan.. 🙂

    Sebagai contoh marga-marga Hadhramaut yang ada di indonesia ini. Itu tidak semuanya Qabili.. ada yang khadiri nontribal..

    1. he he he jgn memutar balikan fakta ya ust,
      aqidah para habaib hadromaut dan aqidah ahlul bait adalah AHLUSSUNNAH WALJAMAAH bukan syiah

  22. antum baca semua karya ulama-ulama habaib hadromaut jgn baca al-kafi saja.
    lihat bukti dlm sejarah di yaman semenjak sy ahmad bin isa hijrah ke hadromaut sampai skrg kemeurnian aqidah terjaga dgn baik krn aqidah ahlussunnah diridhoi allah.bukan berkiblat pd IRAN syiah
    lihat dlm hadis wasiat nabi muhammad tatkala umatku akhir zaman terpeceh-pecah maka kata nabi muhammad peganglah Ahlussunnah waljamaah yaitu yg berpegang pada ku dan para sahabatku dan dlm hadis lain tatkala umatku tercerai berai dgn kelompok maka ikutilah yang terbanyak dan alhamdulillah sampai akhir zaman ini aqidah yang terbanyak adalah AHLUSSUNNAH WALJAMAAH.
    bukti nyata dlm aqidah ahlussunnah waljamaah masih murni silsilah keilmuan dan keguruan spt imam 4,imam ahmad bin hambal berguru pd imam syafii,imam syafii berguru pd imam maliki,imam maliki berguru pd imam abu hanifah,imam abu hanifah berguru pd imam jakfar shodik cucu nabi muhammad SAW dan terus sampai keatas jd semua ulama yg mengikuti ulama-ulama tsb tersambung sampai baginda nabi muhammad SAW

  23. APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT?

    Dalam Al Quran yang menyebut kata ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.

    Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal terdiri dari:

    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg ‘nabi’ dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.

    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan ‘nasab’-nya, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

    Bagaimana tentang pewaris tahta ‘ahlul bait’ dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam.

    Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah?. ya jika merujuk pada Al Quran maka anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.

    Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka untuk selanjutnya yang seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Fatimah dan juga Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya.

    Dengan demikian sistim nasab yang diterapkan itu sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari atau kembali lagi ke nasab laki-laki, kalau mau konsisten seharusnya tetap diambil dari nasab perempuan dan seterusnya.

    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر
    بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار ))، رواه
    البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري

    “Tidak ada seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau bukan ayahnya), melainkan telah kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum, padahal bukan, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

    Kesimpulan dari tulisan di atas, maka pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya Saidina Hasan dan Husein bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

    http://origins-truth.blogspot.co.id/2015/07/apakah-ada-keturunan-ahlul-bait.html
    https://www.islampos.com/riwayat-duka-ahlulbait-dalam-sejarah-nabi-166039/

  24. IMAM KHOMEINI PUN SAYID!

    Ada baiknya terlebih dahulu kita membahas tentang buyut kami sebelum membahas yang lainnya. Buyut kami adalah Sayid Din Ali Shah. Beliau adalah keturunan Rasulullah dan bertempat tinggal di Kashmir. Tambahan kata “Shah” di akhir namanya berarti “Sayid”. Sebelumnya saya tidak mengetahuinya. Tapi teman-teman kami yang berasal dari Kashmir mengatakan, “Kakek anda mencapai syahadah di sana. Beliau merupakan ruhaniwan dan tokoh agama di sana.” Teman-teman kami ini mengatakan bahwa para ulama dan masyarakat Kashmir mengetahui tentang masalah ini.

    http://www.hajij.com/id/ethics/moral-advices/item/39-imam-khomeini-keturunan-sayid-kashmir-

News Feed