Mencari Mahasederhana

Setiap detik adalah gerak partikular maupun molekuler. Aku adalah titik yg terus bergerak, bahkan aku adalah gerak, krn itulah pembeda antara aku dan Dia.

Setiap menit adalah adalah transformasi kosmik dari sebuah potensi ke aktus. Aku adalah lintasan kedua entitas itu, aku bahkan nirada tanpa dua pasang itu.

Setiap jam adalah etape yang menyisakan kematian partikular yg terus disusul kehidupan partikular berikutnya dalam alur yang tak berujung.

Setiap hari adalah kematian molekuler yang menghimpun kematian-kematian partikular dengan segala tawa dan tangisnya.

Setiap pekan adalah kematian molekuler yang lebih besar dg semua nista dan cinta di dalamnya yang disusul dengan kehidupan dengan ritme sama.

Setiap bulan adalah kematian molekuler yang lebih besar, lebih terasa dan lebih membekas, yangg kadang disusul dengan kehidupan yang semerbak laksana kesturi, kadang berhenti dalam jerit sesal.

Setiap tahun adalah perjalanan dengan ritme yang lebih pelan. Molekul-molekul yang berenang di dalamnya mulai kehilangan imunitas, ketabahan dan konsistensi. Ia mencari sandaran molekul, namun gagal karena mereka juga limbung dengan nasib yang sama. Hanya Dia Maha Sederhana yang menjadi tujuannya.

Ia kini berusaha memasuki kehidupan tanpa partikularia dan universalia! Doakan saudaramu yang rapuh dan lusuh luar dalam, Muhsin Labib.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed