loading...
MENCARI MURSYID TARIQAT
MENCARI MURSYID TARIQAT. Di cafe yang didirikan oleh komunitas pelestari lingkungan saya disapa oleh Irfan, pemuda yang menjadi barista atau peracik kopi di situ.

MENCARI MURSYID TARIQAT

Di cafe yang didirikan oleh komunitas pelestari lingkungan saya disapa oleh Irfan, pemuda yang menjadi barista atau peracik kopi di situ.

Rupanya Iim, yang mengajaku ke cafe ini membisikinya dengan info tentang saya. Entah hoax apa yang diterimanya.

 

Singkat cerita. Pemuda itu memperkenalkan diri dan berbicara sekilas tentang kelana pemikirannya, termasuk mengaku sebagai mantan pengikut sebuah tariqah atau tarekat di Medan, kota kelahirannya sebelum mengenal sosok Imam Khomeini dan mengagumi spiritualitasnya. Maka bergulirlah perbincangan seputar mistisisme di ruangan serba kayu itu.

Karena latarbelakang tarekatnya, dia menggemari tema-tema irfan dan mempelajari tokoh-tokohnya, seperti Imam Khomeini dan Syekh Behjat.

Irfan mengeluhkan kecilnya perhatian para narasumber kepada tema spiritualitas atau irfan. Menurutnya, irfan harus menjadi tema sepenting fikih dan kalam. Meski memaklumi cetusan keprihatinannya karena memahami latarbelakang sufinya, saya berusaha memberikan penjelasan tentang fenomena minimnya perhatian kepada isu irfan.

Irfan atau tasawuf dalam khazanah literatur Ahlulbait bukan trend atau sebuah gaya hidup pilihan, tapi sebuah etape keberagamaan yang merupakan tahap pasca kalam dan filsafat. Karena itu, yang mencapainya bisa dipastikan lebih sedikit. Tak mengherankan bila dalam komunitas AB di Tanah Air terutama di kalangan para narsum atau ustadz ada semacam kehati-hatian maksimum untuk membahasnya.

 

Bila dalam tarekat-tarekat keberadaan mursyid menjadi semacam keharusan administratif, dalam masyarakat Syiah, setiap mukallaf sudah mengimani Imam Mahdi sebagai mursyid utama dan tunggal seraya mencari mursyid sekunder sebagai perantara terdekat dengan Mursyid utama yang suci.

Imam Khomeini, Allamah Thabathabai dan Syekh Behjat Fumani disepakati sebagai figur-figur mistikus yang menempati level mursyid terdekat dengan Mursyid utama. Wali Faqih dan para marja adalah tokoh-tokoh yang memenuhi syarat menjadi mursyid bergantung pada identifikasi dan verifikasi setiap orang. Karena itu, setiap pengikut Ahlulbait pastilah pesuluk atau kandidat pesuluk serta penganut sebuah tarekat, sebuah ordo kesucian yang terjuntai hingga pemuka para zahid dan arif, Ali bin Abi Talib.

loading...