MENCARI SUAMI

Judul di atas bukan canda. Ia adalah ironi yang menggambarkan makin pudarnya kepercayaan terhadap kejujuran dan empati juga kemenangan imagi visual atas nilai2 keanggunan.
Dahulu, sebelum manusia manusia modern terlempar ke dunia selfie dan imagologi, “mencari istri” adalah ungkapan wajar, karena perempuan belum dipaksa masuk ke arena tanding dan kompetisi sengit.
Kini banyak perempuan modern, di satu sisi merasa mendapatkan kebebasannya dalam beraktivitas dan berekspresi. Namun, di sisi lain, subjeknya telah dilucuti dan diperlakukan semata sebagai “objek” yang tak lagi khas dengan pesona misterinya. Ia disanjung, tapi hanya outlooknya. Disuka, tapi hanya tubuhnya. Dibincangkan, tapi hanya lenggak lenggoknya. Dikejar, tapi hanya kelaminnya.
Akibatnya, malu -yang menjadi sumber pesona batinnya- lenyap. Perempuan didorong terus untuk berias dan menata tubuhnya demi memenangkan tropi pujian dan meraih status “laris manis”. Yang unggul secara fisikal dan visual makin merasa bahagia, padahal ia hanya instrumen kesenangan pria. Yang tetap menggenggam malu dan keanggunan dengan semua nilai2 kesusilaannya terabaikan.
Apa mau dikata? Rezim imagi dan kosmetik telah membentuk mindset, perspektif dan gaya hidup. “Mencari suami” justru dicemooh sebagai ekspresi pecundang oleh para penyembah imagi.
Wanita yang, demi mempertahankan tiara kemuliaannya, menjadi single tidak menanggung aib. Doa2 dan rintihan batinnya bukan hanya suara yang mengudara tapi menembus dinding angkasa. Tuhan takkan membiarkannya lelah dan putus asa menanti pria baik yang mengutamakan keanggunan atas agresivitas dan kemurnian atas kepalsuan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed