MENCURI KESIMPULAN

MENCURI KESIMPULAN

Sebuah pernyataan bisa dianggap layak direspon bila subjek dan predikatnya utuh dan harmonis.
Ada dua jenis pernyataan atau premis, yaitu predikatif seperti “Anda adalah teman saya” dan premis hipotetis atau bersyarat seperti “Bila matahari terbenam, petang tiba.”
Premis bersyarat harus memuat penanda syarat (atesenden) seperti bila, jika, andai dan semacamnya serta memuat penanda akibatnya (konsekuen), seperti maka, niscaya, berarti dan semaknanya.
“Berarti…” kerap dijadikan pembuka kata sebagai modus pencurian konklusi invalid dari proposisi2 yang disusun pembuatnya demi pembelokan, atau pembatalan kesimpulan, intimidasi atau faith a comply.
Ini juga biasa disebut “terjun bebas ke kesimpulan” atau “jumping to conclusion” atau “mushadaratul-mathlub”. Modus falasi atau sofistikasi atau mughalathah ini tak selalu direncanakan atau sengaja dilakukan dengan pencurian konklusi.
Penyerobotan konklusi tanpa bekal premis-premis sendiri atau mencuri premis-premis pihak lain kadang dilakukan karena pelaku tidak menyadari tugasnya sebagai makhluk bernalar.
Mungkin kita pernah mengalami peristiwa seperti dalam ilustrasi sbb:
Seseorang bercerita “Pemilik mobil mewah pastilah orang kaya. Orang kaya pastilah punya cukup harta”. Tiba-tiba orang di sebelahnya angkat suara, ‘Berarti anda mengangap orang yang tak memiliki mobil seperti saya miskin.”
Singkatnya, memulai perkataan dengan “berarti” bisa dianggap “ngomong jorok” dalam pespektif logika.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed