Skip to main content

Tanpa bermaksud pongah, Syiah punya paradigma kesucian agama yang direpresentasi oleh manusia-manusia sebagai manifestasi insan teragung, Muhammad SAW yang merupakan imanensi asma dan sifat-sifat Tuhan dalam altar eksistensinya, sehingga tak pernah meeasa perlu mencatut nama tokoh tenar atau lainnya di luar para penganutnya.

Setelah Hilli, Farabi, Thusi, Jabir bin Hayyan, Ibn Sina, Sadra, Thabathabai, Khomeini, Muthahhari, Syariati, Misbah Yazdi dan ribuan filsuf, mistikus dan ilmuan menghiasi khazanahnya, Syiah tak merasa perlu menambah kemegahan peradabannya dengan mengafirmasi kesyiahan siapapun yang mengaku bukan Syiah atau tak mengaku sebagai penganutnya. Tak ada yang diundang masuk ke dalamnya dan tak ada pula yang dihalangi keluar.

Karena menerima mazhab Syiah dengan kesadaran penuh atas risiko dan sangat menjaga keagungan keyakinannya juga menghornati pilihan keyakinan setiap individu, komunitas Syiah pantang mengafirmasi kesyiahan siapapun, tenar maupun tak tenar, yang tak mengaku Syiah atau mengaku bukan Syiah.

Di luar komunitas Syiah, sedang berlangsung dialektika sengit antara obskurantisme intoleransi dan arus kesadaran toleransi. Orang-orang intoleran yang pasti pandir punya kiat marketing “cara mudah mempromosikan dagangan sendiri adalah menjelekkan dagangan tetangga.”

Stigma Syiah pun dijadikan senjata ampuh pembunuhan karakter terhadap siapapun yang merintangi agenda radikalisasi.. Karena mengira umat telah tercekoki oleh fitnah terhadap Syiah, para agen takfirisme sedang bekerjasama membangun opini “siapapun yang tak menyesatkan Syiah adalah Syiah.” Banyak tokoh dari ormas Sunni karena bersikap toleran dan menolak menyesatkan Syiah dicap Syiah. Kalau mengikuti logika sungsang para takfiri ini, Syiah auto mayoriitas.

Cara bodoh Inilah yang dilakukan seorang oknum habib intoleran yang dibakar dengki melihat ketenaran seorang dai muda dan habib millenial yang rajin menyebarkan pesan toleransi. Melalui sebuah cuitannya, dia mencoba melucuti popularitasnya dengan isu Syiah lalu konon sempat menjadi trending topic. Ini sekaligus blunder karena seolah stigma Syiah identik dengan tokoh toleran.