MENGAPA MENGANUT AGAMA?

Alasan umum hampir semua orang mempertahankan agama adalah klaim kebenaran ajarannya yang membentuk sikap menolak klaim kebenaran yang berbeda. Padahal fakta menjelaskan bahwa:
1. Sebagian besar penganut agama, terutama lapisan awam tak memilih agama sebagai hasil komparasi.
2. Agama yang diyakini secara membabi-buta alias fanatik oleh kelompok-kelompok ekslusif adalah warisan temurun, produk ketelanjuran dan doktrin intoleransi.
3. Sebagian besar ajaran-ajaran etika universal semua agama, karena berdiri di atas prinsip nilai kesempurnaan dan kebaikan, tidak saling bertentangan. Tak ada agama yang menetapkan mencuri dan menipu, misalnya, sebagai perbuatan baik dan tak ada agama yang menganjurkan sikap negatif, seperti tak hormat kepada orangtua.
4. Sebagian besar produk hukum dan undang-undang di negara-negara selular di Barat tak bertentangan dengan ajaran semua agama kecuali dalam bagian-bagian partikular dan aspek praktis.
5. Sebagian besar isi ceramah dan khotbah yang disampaikan adalah anjuran-anjuran perbuatan baik dan larangan perbuatan buruk yang dalam agama lain bahkan dalam hukum etika tak berlabel agama juga dianjurkan.
6. Agama dipahami oleh banyak orang sebagai realitas objektif sebagaimana fakta empiris, padahal ia adalah kumpulan pikiran dalam benak. Ia bukanlah entitas yang bisa ditunjuk dengan tangan dan diobservasi secara saintifikasi, sehingga benar dan salahnya bisa ditentukan secara empiris.
7. Sebagian orang cerdas berusaha beragama secara kritis dan hanya menerim serta mengamalkan ajaran agama setelah menerima argumen yang diterimanya. Bila tak menemukan argumen di balik sebagian ajaran agama, mereka mencari teori-teori di luar agama sebagai penggantinya dengan kedok jargon pembacaan baru atau reinterpretasi atau kontekstualisasi juga domestikasi agama seraya menganggap sebagian ajaran agama yang ditolak dengan anggapan tidak relevan, tidak kontekstual, mengikuti faktor temporal dan lokal yang dianggap sebagai tak abadi dan profan. Ternyata mempelajari “rasionalitas” setiap ajaran yang tertera dalam teks agama seperti ayat dan hadis adalah utopia yang takkan pernah mungkin direalisasikannya. Takkan cukup waktu mendiskusikan dan mempelajari setiap produk agama. Karena itu pula, sebagian dari mereka tak melaksanakan (menunda) pengamalan ajarannya hingga argumen setiap ajaran di dalam agama tersebut dipahami dan diterima.

Lalu apakah semua agama itu sama? Tentu tidak sama. Ada perbedaan dalam rincian ajaran.

Logiskah mempertahankan klaim kebenaran suatu agama? Logis bila alasan mempercayainya kuat. Ini berlaku dalam semua premis berdasarkan logika biner dalam matematika dan sains.

Logiskah mengklaim kebenaran suatu agama yang kita dianut?

Apapun yang kita percaya, agama atau info apapun, adalah klaim kebenaran dan penolakan terhadap yang berlainan dengannya secara eksplisit bahkan vulgar atau implisit dan diam-diam.

Apa dasar logis mempertahankan dan menganut sebuah agama? Yang pasti bukan karena produknya. Seseorang tak berhak memastikan rumahnya sebagai yang terbaik dalam sebuah komplek karena itulah yang ditempatinya, bukan karena ia merupakan hasil perbandingan dengan parameter yang jelas terhadap semua rumah dalam komplek sebelum menempati dan keburu menjatuhkan pilihannya.

Lalu alasan apakah yang logis dan relevan menganut agama?

Bila merasa perlu mempertahankan sebuah agama, maka mungkin satu-satunya alasan logisnya adalah konsep tentang kesempurnaan yang melahirkan aksioma kewenangan atau otoritas vertikal, bukan karena produk ajarannya.

Berbeda dengan banyak teologi Kristen lainnya, Katolik memberikan perhatian utama kepada otoritas vertikal dalam hierarki kepatuhan. Tak hanya itu, proses pembentukan hierarki kewengan dimulai sejak dini melalui serangkaian jenjang edukasi. Karena itu, dalam Katolik adalah upacara pengangkatan santo atau orang suci demi mengamankan agama dari distorsi akibat tak adanya parameter dan syarat ketat pemegang otoritas. Inilah yang melahirkan kepatuhan dan kerapian umat Katolik di mana pun berada.

Dalam teologi Islam, Imamiyah juga menjadikan kepatuhan kepada ajaran agama sebagai konsekuensi kepatuhan kepada otoritas vertikal yang merupakan konsekuensi logis dari pandangan dunia Tauhid yang terdiri atas prinsip eksistensi (ontologi) dan prinsip ketuhanan (teologi).

Dalam Syiah, kebenaran agama ditentukan oleh prinsip otoritas, bukan ajarannya. Penetapan hukum agama dan pemberlakuannya bergantung kepada yang punya otoritasnya. Hukum potong tangan bagi pencuri, misalnya, disebut benar bila diberlakukan atau tidak bergantung kepada pemegang otoritas. Hukum lain yang tak tertera dalam teks suci, seperti hukuman mati bagi pengedar narkoba, menjadi bagian dari ajaran agama bila ditetapkajbdan diberlakukan oleh pemegang otoritas.. Dengan kata lain, tokok ukur benar dan salah bukanlah resep atau obat bagi pasien tapi otoritas dan keunggulan kompetensi seseorang dokter. Konsekuensi dari kejelasan kriteria rasional tentang keunggulan seorang dokter adalah kepatuhan pasien tanpa mempertanyakan produknya berupa resep, obat dan anjuran-anjuran yang merupakan produknya.

Dalam pandangan teologi Imamiyah, Islam diyakini benar sebagai wahyu yang harus dipatuhi karena aksioma otoritas pembawa dan pengawal agama, bukan ajarannya. Semua yang ditetapkan oleh Nabi suci dan dikawal para mandatarisnya adalah produk ajaran Islam.

Bila ajaran agama dianggap benar hanya karena tertulis dalam kitab suci al-Quran dan hadis, maka banyak perbuatan baik terabaikan dan orang-orang yang dirundung kesulitan tersia-siakan karena dianggap tak dianjurkan. Karena itulah banyak orang berlomba menyantuni anak-anak yatim, dan mengabaikan anak terlantar serta anak jalanan karena tak ada anjuran menyantuni mereka dalam al-Quran.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed