MENGAPA NABI SAW DISEBUT PEMIMPIN ARAB DAN AJAM?

Islam dikenal sebagai agama universal lintas ruang dan waktu. Namun fakta perilaku sebagian penganutnya mengesankan eksklusivitas. Sebagian penganutnya menganggap Islam beradon dengan budaya lokal dan karakteristik Arab dan, karenanya beranggapan bahwa setiap Muslim harus mengarabkan diri dalam budaya dan perilaku. Sebagian lain beranggapan bahwa Islam sebagai terpisah dari budaya yang merupakan produk kreasi manusia. Sebagian lain berpandangan bahwa Islam adalah agama yang beradptasi dengan budaya setiap daerah dan zaman sehingga Islam disandingkan dengan budaya nusantara atau Indonesia, India, dan sebagainya.

Terlepas dari polemik di atas, Nabi SAW disebut “سيد العرب و العجم” (Pemimpin Arab dan non Arab) dalam banyak buku, termasuk dalam kumpulan syair pujian untuk Nabi SAW, Al-Burdah karya Al-Bushiri boleh jadi bukan slogan simbolik semata tapi memiliki dasar yang yang layak ditelusuri.

Secara geneologis garis nasab Nabi SAW berasal dari pasangan suami non Arab dan istri Arab. Faktanya, dia lahir dalam keluarga besar Abdul-Mutthalib, ayah Abdullah dan Abu Talib. Fakta kedua, Bani Abdul-Mutthalib adalah salah cabang Bani Hasyim yang merupakan klan terbesar dalam suku Quraisy bersama Bani Umayyah. Faktanya ketiga, Quraisy adalah suku yang diarabkan (musts’rib) karena pernikahan kedua Nabi Ibrahim AS yang datang dari Babilonia, dengan Hajar, wanita Arab penduduk asli Mekah yang melahirkan Nabi Ismail AS.

Atas dasar itulah, bila ditelusuri nasabnya berasal dari Nabi Ibrahim yang bukan dari ras Arab, Nabi Muhammad bukan dari Arab asli alias musta’rib. Bila dilihat dari Hajar, neneknya yang menjadi ibu Nabi Ismail dianggap Arab karena neneknya adalah wanita Arab, adalah anak perempuan dari seorang raja Maghreb yang masih keturunan Nabi Shaleh maka Nabi Muhammad SAW adalah orang Arab. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Hajar bukan dari ras Arab, namun puteri dari seorang fir’aun (penguasa Mesir).

“Muhammad adalah pemimpin kaum Arab dan Ajam” adalah pernyataan yang menyampaikan pesan universalitas dan kesetaraan.

Singkatnya, yang bukan Arab tak perlu mencemooh ras, daerah dan budaya Arab. Tanah yang menjadi tempat kelahiran manusia termulia menjadi mulia. Karena disebut tanah juga. Yang bukan Arab tak perlu maksa jadi Arab karena itu terlihat konyol. Yang Arab juga tak perlu merendahkan ajam karena tanpa peran orang-orang ajam terutama Persia, Islam tak mendunia. Tanpa Islam yang mendunia, Arab juga tak punya kebanggaan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed