MENGENANG “JIWA TUHAN”

Dunia geger. Gelegar dahsyat menggunjang Dunia Islam. Umat Islam yang hanya tahu Arab Saudi dan Mesir sebagai pusat Islam dan menganggap apa yang dianutnya sebagai satu-satunya Islam, tercengang melongo.

Lelaki tua penuh kharisma itu menjadi headline surat kabar dan topik berita radio dan televisi dunia, termasuk Indonesia. Setiap menit breaking news mewartakan detik per detik pernyataan penting pria berjenggot yang dikermununi insan-insan di sebuah desa di pinggiran kota Paris yang memutih salju.

Semua media dunia menyiarkan breangking news. Mata penduduk dunia tertuju ke satu sosok. Dari pintu pesawat Air France yang terbang dari Paris dan mendarat di Mehrabad Airport, pria tua dipandu pilot menuruni anak tangga mengawali sebuah episode baru dalam sejarah dunia, mempersembahkan sebuah republik yang baru dan unik, menghidupkan cita-citra Republic Plato atau Madinah Fadhilah Farabi setelah menumbangkan kerajaan Shah Reza Pahlevi, anak emas AS di Timur Tengah. Majalah Time, Le Monde, Der Spiegel dan seluruh media cetak berlomba menjadikan paras kharismatiknya sebagai sampulnya. Dia memimpin sebuah revolusi revolusi spiritual sekaligius politik yang menggeser kehebohan revolusi Perancis, revolusi Industri Inggris dan revolusi Bolshevik dan Revolusi Budaya Mao.

Dengan gerakan multi faksi filosof dan agamawan (dari belahan dunia di luar radar dunia Islam yang bercorak Arab) memimpin sebuah revolusi berdimensi mistik, filosofis dan politik pada Februari 1979 dan membuang puing-puing kekaisaran Persia berusia 2500 tahun ke tonng sampah sejarah. 22 Bahman mengabadi sebagai monumen sejarah kebangkitan melawan tiran arogan.

Umat Islam di seluruh dunia menyambut revolusi ini seraya menganggapnya sebagai kebangkitan Islam. Tak ada yang menyebut Syiah dan tak satupun yang mempersoalkan ke-Persia-an.

Di Indonesia semua ormas, bahkan kelompok yang beraroma wahabi pun menyambutnya. Generasi muda terutama mahasiswa, yang sebagian menjadi tokoh politik saat ini, mengelu-elukan nama pencetus revolusi itu. Ayatullah Khomeini adalah nama yang sangat populer.

Khomeini bukan guru ngaji atau tukang modin atau agamawan yang biasanya rumannya lebih mewah dari pesantennya. Dia adalah peletak sistem politik alternatif yang mengharmoniskan legitimasi vertikal dan akseptabilitas pubilk dalam sebuah konsep theo-demokrasi atau sacred democtacy. Meski kekuasaan de facto di genggamannya, dia tak serta membentuk negara, tapi mempersilakan rakyat menentukan pilihannya melalui sebuah referendum yang menghasilkan “Yes” di atas 80%.

Masyarakat yang kecewa terhadap partai-partai Islam dan terhadap Orba juga gerakan-gerakan radikal, menemukan sosok ulama yang bukan hanya bisa ngaji dan memimpin tahlil, tapi mampu menggerakkan bangsa dengan peradaban menjulang menumbangkan monarki yang kuat dan represif. Mereka mulai penasaran tentang bangsa ini dan mencaritahu tentang dasar dan latarbelakang munculnya revolusi besar ini. Kedubes Iran di Menteng menjadi kewalahan melayani gelombang pemuda dan mahasiswa yang datang dari seluruh penjuru Tanah Air untuk mendapatkan penjelasan dan informasi seputar revolusi, Iran, profil Imam Khomeini serta pemikirannya.

Dahaga penasaran para pemuda berwarna hijau yang islamis dan yang berwarna merah yang sosialistik juga yang abu-abu terhapus oleh dua pemikir putra revolusi dengan dua pendekatan yang saling melengkapi. Ali Shariati yang menghidupkan gairah proletarianisme dengan analisa anti kelas yang dihadirkan dalam retorika yang menggelegar. Murtada Muthahhari mengupas pandangan-pandangan Barat modern dari Rasionalisme Cartes, Empirisisme Locke, Positivisme Comte, Idealisme Hegel, Eksistensialisme Sartre lalu Marxisme hingga pragmatisme James dan Psikoanalisa Freud dengan basis filsafat peripatetik Ibnu Sina, Iluminasionisme Suhrawardi, monisme Ibnu Arabi dan Transendentalisme Sadra. Semua dijungkirkan dengan aksioma dan postulat yang kokoh.

Tiga nama baru hadir lalu menjadi buah bibir dan tema utama perbincangan. Iran, Khomeini dan Syiah. Terlalu banyak dan luas untuk diungkap namun terlalu sedikit yang benar-benar memahami tiga nama ini.

Khomeini terlalu kontras dengan citra baku agamawan di sini dan dunia Islam. Iran terlalu asing bagi yang mayoritas umat yang silau dengan Saudi. Syiah terlalu “sesat” untuk dipelajari.

Terlepas dari itu semua Khomeini telah menorehkan sejarah monumental yang takkan bisa ditolak bahkan oleh para penyandang disablitas intelektual bahwa dia memadukan spititualitas yang transenden dan demokrasi yang immanen.

Ringkasnya ulama faqih yang memiiliki pengetahuan yurisprudensi multi mazhab ini, paling tidak, berhasil menegakkan tiga pilar negara modern Iran yang menjadi ciri khas di dunia saat ini, yaitu :
a) menumbangkan monarki berusia lebih dari 1000 tahun;
b) membentuk sistem negara berdasarkan pilihan mayor rakyat;
c) mendirikan sistem republik;
d) menjadikan Islam sebagai konstitusinya.

Kepergiannya telah meyatimkan para pengikut dan pecintanya di seantero bumi. Jenazahnya diantar oleh lebih dari 20 juta rakyat Iran pada 3 Juni 1989. Dia tak hanya menulis buku, tak hanya mencetak ribuan ulama dan cendekiawan serta pejuang dan tak hanya menelurkan ide-ide cermelang namun mewujudkannya dan lestari hingga detik ini.

Republik Indonesia yang dirintis oleh Bung Karno dan RI Iran yang didirikan oleh Imam Khomeini adalah dua negara kaya yang merupakan representasi umat Islam Sunni dan Umat Islam Syiah berpeluang menjadi pemimpin dunia Islam membangun persatuan dan melawan imperialisme, kapitalisme dan rasisme.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed