Skip to main content

Mengharukan!!! Menhan AS: Aliansi Barat Terancam

By January 26, 20122 Comments

Pepatah ‘sarang laba-laba adalah rumah paling reot” kini berlaku di Barat. Keberlanjutan aliansi di NATO, yang merupakan landasan kebijakan keamanan Amerika Serikat (AS) selama enam dekade, saat ini menjadi taruhan dalam perdebatan tentang bagaimana AS dan Eropa harus berbagi beban dalam memerangi kelompok militan Islam di Afghanistan.

“Kita tidak boleh, tidak dapat, menjadi dua sekutu yang ingin melawan dan yang tidak ingin melawan,” ujar Menteri Pertahanan AS Robert Gates dalam Konferensi Munich tentang Kebijakan Pertahanan, seperti dilansir Associated Press, Minggu (10/2/2008). Isu Afghanistan menjadi topik utama dalam pertemuan ini.

“Jika perbedaan berkembang, dengan seluruh implikasi bagi keamanan kolektif, maka akan dapat secara efektif menghancurkan aliansi,” tambahnya.


Washington kerap terlibat perselisihan dengan sekutunya di NATO dalam 59 tahun belakangan, sejak organisasi itu didirikan untuk menghadapi Uni Soviet. Namun kini perdebatan tentang pentingnya misi di Afghanistan dan bagaimana untuk menyelesaikannya, dikatakan Gates sebagai salah satu kesulitan yang dihadapi.

Isu pokok dalam pidato Gates adalah mengenai kelompok Al Qaeda, baik di Afghanistan maupun di tempat lainnya, yang menurutnya memberikan ancaman bagi Eropa, lebih dari yang disadari warga Eropa.

Setelah menyampaikan pidatonya, Gates menjawab pertanyaan dari peserta yang di antaranya terdiri dari puluhan pejabat militer dan anggota kongres dari Eropa dan AS.

Seorang anggota parlemen Rusia melontarkan pertanyaan untuk pertama kali, dengan menuding AS-lah yang telah menyebabkan adanya ancaman dari Al Qaeda, dengan dukungannya bagi mujahidin saat melawan Uni Soviet pada tahun 1980-an.

Gates membantah pernyataan itu. Namun dia menyatakan penyesalan atas perginya AS dari Afghanistan setelah Uni Soviet meninggalkan tempat itu.

“Ancaman dari Al Qaeda dimulai dengan invasi Uni Soviet terhadap negeri yang berkuasa pada Desember 1979, sebuah negeri yang saat itu tidak merepresentasikan sebuah ancaman terhadap siapapun di dunia,” ujar Gates menanggapi pernyataan dari Rusia itu.

Dalam pidatonya, Gates memuji persekutuan NATO dalam kontribusinya di Afghanistan. Namun, sambung Gates, upaya lebih dibutuhkan dan aliansi harus menemukan cara untuk memenangkan pertempuran melawan Taliban yang saat ini dinilai mulai bangkit kembali.

NATO, melalui International Security Assistance Force atau ISAF, saat ini masih melakukan misi di Afghanistan, meski dipimpin oleh seorang Amerika, Jenderal Daniel McNeill, dan AS merupakan penyedia tentara terbesar. Dari 42 ribu tentara ISAF, sebanyak 14 ribu di antaranya berasal dari AS. AS juga memiliki 13 ribu tentara yang memburu teroris dan melatih tentara Afghanistan.

Gates mengatakan, pemerintahan Bush telah belajar dari kesalahan yang dibuat di Irak, termasuk kebutuhan untuk mengintegrasikan upaya stabilisasi yang dilakukan kelompok sipil dengan militer.

Pimpinan di Pentagon yang berkarir di CIA hingga 1993 ini mengharapkan pemahaman publik Eropa terhadap pentingnya perang di Afghanistan.

“Ancaman yang dilakukan ekstrimis Islam adalah nyata,” ujarnya, sembari menambahkan Eropa telah mendapatkan serangkaian serangan teroris, antara lain di London, Madrid, Istanbul, Amsterdam, Paris, dan Glasglow.

“Itu menambah pertanyaan: Apa yang akan terjadi jika kesuksesan yang salah yang mereka nyatakan menjadi kesuksesan yang sesungguhnya? Jika mereka menang di Irak atau Afghanistan, atau menguasai pucuk pemerintahan Pakistan? Atau menjadi penguasa di Timur Tengah?” tanya Gates. (okezone)