MENGKRITIK SADRA

Kawan saya di FB mentautkan nama saya dalam tulisannya yang diharapkannya menjadi semacam kritik terhadap pandangan-pandangan Mulla Sadra.

Tentu saya menghargai kreativitas intelektualnya dan berterimakasih atas sangka baiknya mentag nama saya, seorang jelata di hauzah, karena menganggap saya kompeten dan tergelitik untuk meladeni dan masuk ke arena polemik demi “membela” Mulla Sadra, meski saya terlalu lemah untuk melakukan itu dan Mulla Sadra terlalu kokoh untuk dibela.

Transendentalisme memang bukan wahyu, Al-Hikmah Al-Mutaaliyah bukan kitab suci dan Sadra bukanlah nabi atau imam suci. Karena itu siapapun boleh menolak dan mengkritik pandangan-pandangannya.

Masalahnya, kebolehan mengkritk pastilah bersyarat, antara lain pengkritik mesti memahami infrastruktur mazhab filsafat yang merupakan bentuk sempurna dari mazhab Peripatetik dan mazhab Iluminasi itu.

Al-Asfar Al-Arbaah Sadra dan karya-karya utama para filsuf seperti Ibnu Sina dan Suhrawardi dipelajari setelah melewati jenjang-jenjang studi naskah filsafat sebelumnya dan karya-karya penunjang lainnya.

Karya-karya utama itu dipelajari dan diajarkan di hauzah-hauzah Iran tidak diajarkan dengan cara dibaca, dimurati (diterjemahkan) lalu diterangkan dan diambil “berkah”nya oleh para pelajar, sebagaimana umumnya sistem sorogan atau ngaji di sini. Pembelajaran ini melewati jenjang dan proses interaksi intensif seperti kritik asumtif yang dilontarkan pengampu atau kritik terhadap komentar (syarh) atau catatan kaki (hasyiyah) atau kritik pelajar atas pendapat pendapat pengajar. Saking sengitnya polemik dalam ruang kelas atau di serambi Haram Ma’shumah di Qom kadang kritik ini berlanjut selama beberapa hari.

Artinya, sejak berabad-abad kritik yang lazim disebut “isykal” menjadi bagian penting dari sistem pembelajaran semua bidang ilmu dan isu-isu agama di Qom. Sudah biasa murid mengkritik pendapat guru atau guru mengkritik pendapat komentator buku yang diajarkannya bahkan pendapat penulisnya. Para pelajar pun diharuskan melakukan mubahatsah atau diskusi sesama tentang tema yang telah diajarkan. Mubahatsah ini bukan lagi ekstra kurikuler tapi bagian integral dari sistem pembelajaran.

Karena itu, kritik tidak hanya boleh tapi dianjurkan bila memenuhi syarat-syarat logisnya. Tanpa itu, kritik, apalagi terkesan sporadis dan tidak jitu, justru mengundang cemooh karena dianggap celoteh dan cari sensasi yang bugil ketulusan, kejujuran dan kerendahan hati.

Kadang kritik dilontarkan karena pengkritik mengira (di antara sekian banyak kritikus filsafat yang hanya fokus terhadap filsafat dan dari sekian banyak orang-orang cerdas yang telah mempelajari filsafat mulai dari Jekweh lalu Zabzawari hingga Thabathabai yang dilanjutkan oleh Muthahari dan selevelnya kemudian Fayyadhi dan segenerasinya) bahwa pendapat kritisnya belum pernah terlintas di benak siapapun kecuali dirinya. Ini bukan lagi masalah filsafat, tapi masalah “hatiologi”.

Ilmu mestinya digali bukan untuk dipamerkan atau untuk menantang debat atau untuk meladeni tantangan debat. Abdi ilmu bukanlah petinju profesional. Ilmu yang bersemayam dalam diri yang rendah hati dan tulus akan menggerakannya menuju keteduhan, kebenderangan, ketunggalan dan ketaktahuan, bukan kehebohan dan gegap gempita sesumbar.

Filsafat bagi banyak orang adalah teori-teori helenik dan polemik-polemik stoais atau prinsip-prinsip skolastik yang njelimet. Tapi bagi sedikit orang, filsafat adalah simplisitas. Itulah wisdom atau hikmah. Itulah makna perawan dari filosofia.

loading…


News Feed