MENSYUKURI LAHIRNYA PANCASILA

Hari lahirnya Pancasila selalu diperingati oleh bangsa Indonesia karena mensyukurinya sebagai wadah pemersatu bangsa dengan keanekaragaman suku, keyakinan dan lainnya. Tapi sebagian warganya memperingatinya karena mendambakannya dan belum bisa mensyukurinya karena tak menikmatinya sebagai fakta. Intoleransi dan intimidasi serta persekusi terhadap minoritas bukan sesuatu yang samar namun nyata bahkan nyaris merata. Tak ada secuilpun alasan pembenarannya.

Dari derita panjang, seperti terabaikannya pengungsi Sampang, terhalangnya pembangunan perumahan dan gedung baru YAPI dan terjadinya beragam persekusi di Bangil, Probolinggo, Gresik dan kota-kota Jatim lainnya tidak sulit untuk memahami relasi kuat pemegang kekuasaan formal yang direpresentasi oleh pempov Jatim dan kekuasaan informal yang didominasi oleh MUI Jatim dan sebagian besar agamawan berlabel kyai dan habib di Jatim. Fakta ini sangat bugil.

Tapi apa mesti dikata? Kan fakta praktiknya negeri ini milik mayoritas. Beberapa tokoh intoleran malah mengklaimnya sebagai milik satu kelompok mazhab. Menurut kalkulasi sederhana, sulit membayangkan penikmat kekuasaan formal (politik) yang legitimasinya diperoleh dari dukungan agamawan-agamawan pemegang kuasa umat di wilayah pengaruh primordialnya masing-masing sudi mempertaruhkan posisi politiknya dengan mengurusi atau membela hak konstitusional warga negara yang diusir dan diganggu karena dianugerahi fatwa “sesat” demi menjunjung tinggi penegakan hukum dan keadilan. Itu kan cuma jargon dan bahan kampanye atau retorika konferensi pers.

Di dunia Islam oligarki tak hanya berlaku dalam relasi kotor pemegang kekuasaan politik dan kekuasaan modal alias ekonomi tapi justru berlaku dalam tiga kategori kekuasaan, yaitu kekuasaan formal mencakup politsi machiavelis dan pengusaha rakus dan pemegang kekuasaan informal yang jauh lebih powerfull dari dua kekuasaan sebelumnya karena ia tak bermodal elektabilitas, kompetensi, pengawasan, dan kontrak yang berjangka.

Kita semua ingin mensyukuri Pancasila tapi kita sadar bahwa masyarakat yang berpancasila pastilah tidak mengobral ujaran kebencian kepada ras dan suku hanya karena ulah segelintir orang berperilaku buruk dan tidak menyebut sesama pemegang NIK dengan kampret, cebong, kadal, onta dan monyet karena berbeda pilihan politik tanpa memikirkan nasib banyak orang seetnisnya. Bangsa yang pantas mensyukuri Pancasila adalah yang tak abai terhadap nasib sesama warga apapun agama, dan alirannya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed