Jutaan Muslim di dunia, termasuk di Indonesia, menyimak dengan penuh perhatian pidato Obama yang ditunggu-tunggu di Cairo 4 Juni yang lalu. Seperti dikatakannya sendiri, pidato itu tidak akan menyelesaikan semua masalah. Bahkan sebelum rencana pidato yang dipublikasikan luas itu dilaksanakan, sudah banyak komentar dikalangan Muslim bahwa yang terpenting saat ini bukan retorika dan kata-kata, tetapi tindakan nyata pemerintah Amerika Serikat (AS).
Pidato 55 menit itu menjabarkan garis besar pandangan pemerintah AS menyangkut tujuh perkara yakni ekstremisme dan kekerasan dalam agama, masalah Palestina, isu Nuklir, demokrasi dan HAM, kebebasan beragama, hak-hak perempuan, dan pembangunan ekonomi.
Dunia Islam bisa menyikapi pidato itu dari sisi positif maupun negatif, bergantung kepada tingkat optimisme (atau pesimisme) cara pandang terhadap kemungkinan perubahan politik luar negeri Amerika yang menyangkut kepentingan dunia Islam.
Secara positif harus diakui bahwa dimata dunia Islam maupun warga dunia lainnya, inilah presiden Amerika yang bisa dipegang kata-katanya, terbukti dari begitu banyak tindakan nyata dan berani yang telah diambilnya untuk melaksanakan apa yang dijanjikannya dalam kampanye presiden dalam waktu 100 hari pertama kepresidennya.
Inilah presiden AS yang secara terbuka mengakui kesengsaraan rakyat Palestina dan haknya untuk hidup secara terhormat, meminta Israel menghentikan pembangunan pemukiman di daerah pendudukan, mengajak Iran berunding tanpa pra syarat dan untuk pertama kali mengatakan secara eksplisit bahwa Iran berhak untuk memanfaatkan tenaga nuklir untuk tujuan-tujuan damai.
Obama pula yang dalam pidatonya mengatakan tidak ada maksud sedikitpun untuk membangun pangkalan di Irak dan Afghanistan serta menghormati sistem demokrasi di negara lain dan tidak ada keinginan untuk ikut menentukan siapa yang harus jadi pemenang dalam sebuah pemilihan umum yang damai.
Dari pandangan pesimistis bisa saja kita mengatakan bahwa pidato itu sekadar untuk memoles citra Amerika yang terpuruk di dunia Islam akibat kiprah presiden Bush delapan tahun terakhir. Kritik bisa juga diarahkan ke Obama yang dalam pidatonya sesungguhnya tidak membawa suatu terobosan baru dalam menyelesaikan konflik Arab Israel yang sudah berlansung puluhan tahun.
Sikapnya yang diam seribu bahasa ketika Israel memporakporandakan Gaza dalam serangan yang melanggar semua aturan manusia beradab, serta posisinya yang tetap akan mengucilkan kelompok Hamas dalam proses perundingan damai sampai Hamas
lebih dahulu mengakui eksistensi Israel, menimbulkan rasa waswas dan skeptisisme banyak kalangan Islam apakah dia bersungguh-sungguh dalam niatnya untuk melakukan perubahan politik luar negeri Amerika yang lebih adil dan berimbang.
Obama perlu didukung
Sebagian dunia Islam boleh saja kecewa terhadap isi pidato Obama yang dianggap tidak meyakinkan.. Pada waktu yang sama menyia-nyiakan niat baik dan peluang besar kemungkinan perubahan drastis pendekatan AS terhadap dunia Islam dibawah Obama sangatlah tidak bijaksana. Belum tentu 50 tahun lagi Amerika akan mempunyai seorang presiden intelektual yang menyandang nama Islam dan, walaupun beragama Kristen, mempunyai akar keislaman dalam keluarganya. Belum pernah dalam sejarah Amerika seorang presiden dalam pidato inaugurasinya menyatakan perbaikan hubungan dengan dunia Islam sebagai salah satu prioritas dalam politik luar negerinya.
Khusus dalam konflik Arab Israel, sesungguhnya tantangan yang dihadapi presiden Obama bukan saja datang dari luar Amerika, tetapi justru hambatan dan tantangan yang lebih besar bisa datang dari dalam negerinya sendiri. Kekuatan lobi Israel yang terkenal di Amerika dan persepsi rakyat Amerika yang selama berpuluh tahun dibangun oleh media masa arus utama bahwa Israel lah yang terzalimi, bukan Arab atau Palestina, merupakan tantangan tersendiri bagi Obama yang bila tidak berhati-hati akan melemahkan sang presiden dan bahkan dapat menjatuhkannya.
Umum diketahui bahwa dikalangan anggota Kongres dan politisi Amerika, mengeritik Israel adalah tindakan yang dianggap tabu dan bisa berarti akhir dari karir politiknya. Contohnya sudah cukup banyak. Karenanya, Obama sadar benar bahwa perubahan politik luar negeri AS yang drastis terhadap Israel tidak mungkin dilakukan sekaligus namun harus lebih dahulu menggalang opini publik dan dukungan politik yang luas.
Karenanya, berharap bahwa presiden Obama akan bisa menjadi tukang sulap dalam waktu singkat membanting setir politik luar negeri Amerika dalam masalah Palestina sangatlah tidak realistis. Sebaliknya, bila dunia Islam dan Arab bersikap terlalu kritis dan cenderung tidak memberikan respon positif dalam bentuk kerja sama dan dukungan kepada Obama, akan merugikan dunia Islam itu sendiri. Untuk bisa berhasil, Obama memerlukan dukungan dari semua pihak, didalam dan luar negeri Amerika tanpa kecuali.
Dunia Islam dan masyarakat dunia umumnya punya kepentingan besar agar presiden Obama berhasil menciptakan dunia yang adil, damai dan bermartabat. Harus diakui, walau belakangan Amerika mengalami krisis ekonomi yang cukup berat, dalam waktu mendatang Amerika merupakan kekuatan global yang masih harus diperhitungkan.
Namun ini tidak berarti bahwa masyarakat dunia diminta untuk memberikan cek blangko bagi Obama. Dunia Islam harus tetap mengikuti dengan waspada progres dan perkembangan implementasi kebijakan pemerintah AS dibawah Obama. Tahun-tahun
mendatang ini akan merupakan ujian berat bagi Obama, apakah dia akan lulus dengan menunjukkan kemajuan ke arah politik luar negeri yang lebih berimbang, atau sebaliknya. Indonesia yang dipuji oleh Obama sebagai bagian dari dunia Islam yang demokratis dan menghargai kemajemukan, dapat berperan serta dalam menyukseskan agenda-agenda g;obal yang bertujuan menciptakan perdamaian abadi dan adil. (Abdillah Toha, Anggota Komisi 1 DPR RI)