MENYOAL IMAN DALAM SITUASI PANDEMI

Apakah beriman kepada Tuhan menciptakan justifikasi fatalisme yang mendorong subjek manusia merasa sudah beriman bila sudah menganggao hal-hal buruk yang menimpanya sebagai kehendakNya?

Ataukah beriman kepada Tuhan menumbuhkan apologi subjektif bahwa hal-hal buruk yang menimpa semua orang sebagai kutukan atau azab akibat perbuatan buruk sebagian orang dan menerimanya dengan berserah kepadaNya?

Ataukah beriman kepada Tuhan memantapkan hati untuk memastikan bahwa apapun yang menimpanya sebagai bukti dan isyarat agar mengakui ketakberdayaan manusia dan kekuasaan mutlakNya sesuai kehendakNya?

Ataukah beriman kepada Tuhan melejitkan kesadaran holistik tentang realitas dan relasi niscaya kausalitas peristiwa dan fenomena sebagai bagian sistem yang telah ditetapkanNya dan menerimanya sebagai proses determinan kemudian berusaha mengenali sistem itu dengan akal dan beradaptasi dengannya dengan menghindari hal-hal yang bisa menjadi sebab terdekatnya?

Bila iman hanya menjadi dasar justifikasi fatalisme, maka itu adalah absurditas dan kebuntuan intelektual.

Bila iman berarti menjadikan semua makhluk sebagai bersalah di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa karena ulah sebagian makhluknya, maka itu menkonfirmasi kezaliman dan menegasi keamahaadilanNya.

Bila iman berarti menganggap semua yang menewaskan banyak orang dan menyengsarakan kehidupan banyak bangsa hanya pelajaran, maka itu menafikan kemahabijaksanaan dan kemahakasihNya.

Bila iman mengaktifkan akal sehat untuk memahami realitas Tuhan dan alam serta manusia dan untuk mengenali relasi niscaya sebab terdekat dengan akibatnya dalam realitas alam agar mendekati yang berguna dan menghindari yang membahayakan, maka itu tak selaras dengan iman dalam pandangan pertama, kedua dan ketiga.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed