Meratapi Wafat Nabi Termulia

Lebih penting manakah memperingati kelahiran atau wafat Nabi? Apakah kita hanya perlu mensyukri kelahirannya, dan tidak mengenang detik-detik terakhir dalam hidupnya? Tidakkah wafat manusia paling sempurna ini perlu dikenang sambil merenungi pesan- pesannya yang pasti sangat monumental? Adakah persitiwa- peristiwa penting menjelang dan sesudah wafatnya? Pertanyaan- pertanyaan semacam ini pasti muncul di benak setiap Muslim yang kritis dan ‘melek sejarah’. Sejarah mencatat, dalam perjalanan pulang dari haji terakhir, dikenal dengan Haji Wada’ (Haji perpisahan), Nabi memberikan sinyal-sinyal perpisahan melalui khotbah dan serangkai pernyataan yang amat memilukan. Para sejarawan tidak hanya menyebut nama tempat upacara perpisahan yang terletak antara Mekah dan Madinah itu, namun merincikan jumlah peserta yang hadir saat itu. Sesampai di Madinah, Nabi yang mulai terlihat kurang sehat, masih harus memikirkan umat dan negara yang dibangunnya. Sepak terjang dan provokasi negeri jiran di sebelah selatan yang dipimpin oleh Heraclitus membuatnya harus mengabaikan rasa sakit dan penat. Lelaki yang bernama Ahamd di langit ini memberikan sebuah instruksi kepada setiap semua lelaki yang sehat jasmani agar bersiaga perang di bawah komando Usamah bin Zaid. Keseriusan ini menunjukkan betapa Nabi, yang lemah karena sakit, masih menomerduakan dirinya demi kepentingan umat dan demi tanggungjawabnya.Ia harus keluar dari rumah sembari mengenakan selimut dan berseru agar setiap orang keluar dari Madinah karena kerajaan Romawi telah mengerahkan brigade pasukan kavelri untuk melakukan pembersihan terhadap warga yang memeluk Islam dalam wilayah kekuasaannya, termasuk gubernur Syam, Farwah bin Amr al-Jazami. Sejarah menyaksiakan, teriakan parau Nabi teragung itu bak gayung tak bersambut. Pasukan yang sudah bergerak meninggalkan Madinah itu, tiba-tiba bubar. Isu tentang ‘ kematian Nabi’ telah menjadi alasan aksi ‘mogok’ itu. Sampai- sampai, sang Komandan, Usamah bin Zaid, yang masih muda, juga ikut pulang ke Madinah. Sejarah juga mencatat bahwa saat terbujur di atas ranjang, beliau meminta secarik kertas dan setangkai pena sebagai konfirmasi akhir atas pesan-pesan yang berulang telah disampaikannya terutama di Hajatul-wada’. Namun, apa hendak dikata, bising dan desak-desakan pengunjung yang membesuk di rumah kecil itu membuat suaranya seakan tertelan dan lenyap. Pesannya, “Umatku, umatku umatku…! Janganlah berbalik arah! Jangan letakkan pedang di atas leher sesamu! ‘ semestinya didengungkan terus menerus agar umat Islam tidak menari dengan genderang musuh dan tidak merusak citra Islam dengan ekstrimitas, intoleransi dan fanatisme. Karena itulah, meperingati wafat Nabi, meski belum mentardisi, bukanlah sesuatu yang tidak perlu diselenggarakan. Mungkin sudah saatnya umat Islam memasukkan agenda kesedihan dan duka dalam kalender hari besar, selain agenda riang dan kegembiraan seperti Maulid dan lainnya. Bukankah kita dianjurkan oleh Allah untuk lebih banyak menangis dan sedikit tertawa?

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

26 comments

  1. @afri: modus pengalihan opini dan distorsi thdp substansi sdh berjalan cukup lama. Coba perhatikan! Pernahkah anda mendengar ada gnosida satu desa oleh penguasa hanya karena penduduknya tdk membayar zakat…?

  2. otw akhirat..kembali ke masa depan…cerita seputar kematian/sepeninggalan lebih heboh dan mengesankan..sedih,haru biru,senyum,menyayat,seram,horor,merinding bulu kuduk…weesss pengaruhnya wuasli lebih nendang..

  3. Bagaimanapun bau amis sejarah tidak dapat ditutup2i dari lorong waktu. Namun ironisnya kebanyakan orang sama sekali tidak mencium itu sebagai bau amis justru menganggap keharuman, “Demikianlah seharusnya, Islam itu harus tegas, yang mengatakan itu genosida pasti antek2 orientalus yang hendak mendeskreditkan Islam disebarkan dengan pedang..!!”

  4. kalau semua sejarah Nabi SAAW kita bongkar, maka AMBRUK SEMUA apa yang kita ketahui selama ini. sesuatu yang telah menjadi doktrin wajib bahan ajar. dan kita hanya akan menjadi produk demagogi kronis….

    Ayo, masih mau buka bukaan soal Tarikh Nabi SAAW ? kalian kuat tidak menahan tangis, kalian siap untuk tidak pingsan ?

    KALIAN SIAP ? KALIAN SIAP ? KALIAN ?

    Sayyidul Wujud berkata : JIKA KALIAN MENGETAHUI APA YANG AKU KETAHUI, KALIAN AKAN MENGURANGI TERTAWA, DAN AKAN MEMPERBANYAK MENANGIS….. !

    Kalian juga siap melihat fragmen Syahadah Sayyidah Zahra ? Siap kalian ?

    Ini bukan urusan genealogis ! ini soal iman !

  5. dalam leteratur tradisi islam jawa ada istilah “REBO WEKASAN” yaitu peristiwa hari rabo terahir di bulan sofar. Namun tak byk yg tau substansi REBO WEKASAN tsb..yg kt tau bahwa di hari rabo terahir bln sapar kt tdk blh melakukan aktifitas dan bersenang2.

  6. Kalau Sejarah dibongkar apakah dunia ini akan hancur2an atau malah menjadi lebih baik, dari mana kita tahu? bukankah Allah yang lebih tau “kemaslahatannya”..?? Mungkin metoda penyampaiannya yang harus strategis…

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
    Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan.

  7. menyiapkan mental kita untuk mengetahui sejarah yg bnar.. Sangat mutlak diperlukan, kesadaran akan pentingnya melihat kebenaran sebagai panglima harus dikedepankan, manusia yang berpihak kpd kebenaran memerlukan ilmu dan pamahaman yg sangat dalam tentang hakikat kemanusiaan. Sejarah yang terungkap dgn benar mesti disampaikan untuk mencapai hakikat kemanusiaan… Karena disana ada mutiara2 insaniyah yang tak terhingga.

  8. Saya berkeyakinan, seluk beluk kisah keluarga Yasin SAWW lebih utama dipelajari dari kisah keluarga Ya’qub AS

    لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لأولِي الألْبَابِ
    Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal

    “Kesejahteraan dilimpahkan Keluarga Yasin” سَلامٌ عَلَى إِلْ يَاسِينَ

  9. jika doa dan harapan “Ya Allah biha.. bi husni al-khatimah” yg kerap dilantunkan dlm berbagai majlis taklim memang keluar dari hati.. maka mengenang, menyimak, & merenungi akhir hidup (wafat) atau menjelang wafat beliau saw adl benar musti dilakukan! wallahu ‘alam…

  10. ya sudah, ini soal iman, bukan debat teks . kalau kalian siap, silakan….
    khusus untuk Wafat Rasul SAAW….. saya minta ijin undur diri. …..
    silakan, bila kalian siap secara lahir bathin ….

    silakan….

  11. hmm…sy rasa penting kdua2x…biar smua org tau bkn Alhusein az yg di ratapi.Dan Sejarah kelam akan terkuak.Yaa Rasulillah…Terimalah Salam duka kami….maafkn kami…wahai Kekasih Allah.

  12. bagi yang ingin menguak kebenaran kehidupan dan syahadah Sayyidul Wujud dengan kata dan kalimat, silakan….

    cukuplah bagi para Pecinta Ahlul Kisa’, menguraikan segala derita itu dengan genangan airmata darah !

  13. ya sepakat, sejarah harus diluruskan supaya jadi pelajaran yang baik kedepan, tapi masalahnya mau diluruskan dengan apa? dengan sejarah yang ditulis oleh orang majusi? yang nyata dan terang kebenciannya kepada islam, yang suka memelintir sejarah dengan mengagung2 kan abu luluah yang jelas majusi, sementara orang yang berjasa menegakan kalimah Lailaha Ilaloh diranah persia malah dihinakan…. kalu bukan karena Umar alfaruk mungkin saat ini persia masih menyembah api.

  14. Salam,

    Persia beralih menjadi Islam bukan karena Umar, kalau dikalahkan dalam peperangan mungkin saja.
    Bepaling sejenak ke masa Rasulullah yg telah menubuatkannya. Dalam sebuah pertemuan beliau menegaskan kalau kemuliaan Islam akan beralih ke tempatnya Salman Al Farisi, seraya menepuk tubuh Salman r.a. (Salman dari Persia, yg beliau sebut dg Salman Muhammadi).
    Bagaimana nubuat tentang Islamnya Persia terjadi? Imam ‘Ali a.s. (Gerbangnya kota ilmu Rasulullah) berinisiatif menikahkan putranya yang agung Imam Husein a.s. dg seorang putri raja Persia (Inilah cara yg mulia menegakkan kalimah tauhid atas mereka yg berada dlm kegelapan). Melalui pernikahan ini Islam diperkenalkan dengan cara yg sebenarnya, sebagaimana Rasulullah membawa Islam kepada suku Yahudi, dengan menikahi Maria putri seorang kepala suku Yahudi yg membuahkan putra bernama Abdullah (namun putra beliau wafat di usia yg masih belia).
    Dari sinilah kita bisa temukan mengapa Persia dipenuhi dan dihiasi bahkan dipimpin oleh para sayid/habib keturunan Rasulullah Muhammad saaw. Persia kini telah dipenuhi oleh Bani Hasyim, yg sebagiannya mendapat kemuliaan pernikahan yg menyatukan kedua bangsa dalam satu keturunan mulia Bani Hasyim, sebagaimana Imam ‘Ali Zainal Abidin putra Imam Husein a.s. (buah pernikahan beliau dg putri raja Persia tsb.).

    “Allah ridha kepada mereka yg membuat Fathimah ridha, dan Allah marah kepada mereka yang membuat Fathimah marah”.

    Bagaimana mungkin mereka yg menganiaya Fathimah (yg menyebabkan rusuk beliau patah dipukul gagang pedang, bayi dalam kandungan gugur karena beliau terjerembab ditendang, dan memerintahkan pembakaran rumah pemberian Rasulullah ayahandanya, serta mengikat dan menggiring Imam ‘Ali gerbangnya kota Ilmu Rasulullah) bisa mewakili Islam? Untuk orang ini, Fathimah tidak rela pemakamannya dikenali. Fathimah telah marah thd mereka ini, maka Allahpun demikian, sebagaimana yang disampaikan Rasulullah saaw tsb.

    Salam.

News Feed