Oscar 2009 : Menyoal Objektivitas Tim Juri

sean-penn-n-gus-van-sant

Baru saja Hollywood menyelenggarakan hajatan tahunannya, yaitu pesta penyerahan piala Academi Award yang dikenal dengan piala Oscar kepada insan-insan perfilman dengan ragam kategori mulai dari aktor terbaik hingga sountrack terbaik.

Persoalan selalu mencul setiap kali pehelatan ini diadakan. Salah satunya adalah kriteria-kriteria dan standar penjurian dan penentuan pemenang. Bukan rahasia lagi, umunya film-film box office yang meraih keuntungan besar karena laku keras tidak masuk dalam list kandidat. Sementara sebagian besar dari film-film yang menang atau dinominasikan tidak berhasil menarik penonton dalam jumlah yang besar, bahkan sebagian bisa dianggap gagal.

Rupanya, kriteria dan standarnya berbeda. Publik mengutamakan alur cerita, yang cenderung menghibur dan mencuatkan imajinasi, meski sama sekali tidak real, atau bahkan konyol. Sebagian film-film bertema laga, komedi dan horor, juga percintaan atau drama sederhana masuk dalam kategori ini. Nama aktor dan aktris lebih dianggap sebagai syarat ketimbang kemampuan akting dan ide cerita yang unik dan mendekati realitas.

Di sisi lain, para kritikus dan pakar perfilman menjunjung tinggi seni dan teknik dan hal-hal yang ada di balik layar sebagai “kitab suci” penentuan kualitas dan salah satu kriteria penentuan sebagai yang terbaik. Umumnya, aktor dan aktris yang kurang populer, bahkan tidak tampan dan cantik, yang kebagian ini.

Memang, kadang ada film yang mendapatkan dua keberuntungan, meraih keuntungan sebagai film yang dipuji secara klise “two thamb up” oleh majalah-majalah film dan selebriti, sekaligus mempersembahkan seni yang indah dan berkelas.

Masalah lain adalah kecurigaan terhadap objektivitas dan jaminan tentang tidak adanya bias dan tendensi politik di balik penentuannya. Bila dilihat dari perspektif teori “konspirasi”, sebagian film-film menghibur, terutama film-film bernuansa politik, siponase dan laga, bisa dianggap sebagai iklan-iklan panjang yang memuat pesan-pesan yang telah diselipkan oleh sentra-sentra kekuasaan politik dan ekonomi yang mengutamakan hegemoni global.

Salah satu kecerugiaan terhadap objektivitas adalah dominasi kaum homoseks. Dalam penyerahan Oscar hari ini, aktor serba bisa, Sean Penn, terpilih sebagai aktor terbaik karena memrankan seorang pejabat homoseks dalam film “Milk” . Ada dua alasan mengapa ia dijagokan. Penampilannya memang cemerlang. Kedua, karena Oscar gemar singgah kepada orang yang berperan sebagai homoseks seperti Tom Hanks dalam “Philadelphia” atau William Hurt dalam “Kiss of the Spider Woman”. Penn menyisihkan Richard Jenkins (dalam “The Visitor”), Frank Langella (“Frost/Nixon”), Brad Pitt (“The Curious Case of Benjamin Button”), dan Mickey Rourke (“The Wrestler”).

Pesta penyerahan piala Oscar kini bukan lagi sebuah event apresiasi seni perfilman yang objektif, humanitarian dan mendidik, tapi sudah bisa dianggap sebagai salah sentra kapitalisme dan imperialisme. Tentu, generalisasi tidak bisa dilakukan. Namun, yang lebih penting, adalah independensi dan citrarasa serta intelektualitas yang akan memandu kita untuk mencari manfaat di antara ribuan dongeng-dongen bergambar yang bergerak (motion picture) itu. Masih ada sutradara dan sineas yang layak dipuji, seperti Michael Moore dan Guy Richie, Sean Pean dan lainnya. Masih ada pula aktor yang masih bisa dianggap sebagai artis (seniman), bukan “star” atau bintang film, seperti Daniel Day Lewis dan Susan Sarandon juga lainnya.

Berikut daftar pemenang Academy Award 2009:

Best Motion Picture of the Year: ‘Slumdog Millionaire’

Actor in a Leading Role: Sean Penn – ‘Milk’

Actress in a Leading Role: Kate Winslet – ‘The Reader’

Actor in a Supporting Role: Heath Ledger – ‘The Dark Knight’

Actress in a Supporting Role: Penelope Cruz – ‘Vicky Cristina Barcelona’

Directing: Danny Boyle – ‘Slumdog Millionaire’

Adapted Screenplay: Simon Beaufoi – ‘Slumdog Millionaire’

Original Screenplay: Dustin Lance Black – ‘Milk’

Best Animated Feature Film of the Year: ‘Wall-E’

Best Documentary Feature: ‘Man on Wire’

Best Foreign Language Film of the Year: ‘Departures’ – Japan

Achievement in Art Direction: ‘The Curious Case of Benjamin Button’

Cinematography: Anthony Dod Mantle – ‘Slumdog Millionaire’

Costume Design: Michael O’Connor – ‘The Duchess’

Film Editing: Chris Dickens – ‘Slumdog Millionaire’

Makeup: Greg Cannom – ‘The Curious Case of Benjamin Button’

Original Score: A.R. Rahman – ‘Slumdog Millionaire’

Original Song: ‘Jai Ho’ (Slumdog Millionaire)

Sound Editing: Richard King – ‘The Dark Knight’

Sound Mixing: ‘Slumdog Millionaire’

Visual Effects: ‘The Curious Case of Benjamin Button’

Best Documentary Short Subject: ‘Smile Pinki’

Best Animated Short Film: ‘La Maison en Petits Cubes’

Best Live Action Short Film: ‘Spielzeugland’

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

  1. Aku kok kurang setuju ya dengan hasil Oscar yang dinilai terlalu berpihat pada feel good movie. Sepanjang 10 tahun terakhir ini saja ada beberapa film yang mempunyai tone gelap. Seperti yang anda sebutkan, selain The Departed dan No Country For Olad man, Crash juga beraoma gelap loh dengan mengangkat gesekan individu beda ras dan berbalut satire yang tidak kalah tajam dengan Brokeback (meski aku dulu juga mendukung film ini, namun setelah melihat Crash bisa memakluminya).
    Oscar tahun ini terasa klise karena terlalu sesuai ma ekspektasi banyak orang. Less of surprise.
    Tunggu saja tahun depan yang banyak film – film “gelap” yang bakal hadir yang akan bertarung dengan film musikal berjudul NINE

News Feed