Mohon Doa (4)

basah2.jpg

Wahai jiwa-jiwa suci yang terbang dalam angkasa malakut…

Wahai energi-energi abadi yang berenang dalam atmosfir jabarut…

Wahai ayat-ayat yang menghiasi dinding-dinding alam lahut…

Wahai bukti-bukti yang memadati kisi-kisi lelangit…

Wahai shalawat dan tasbih yang menggetarkan dedaunan …

Wahai desau angin yang sebarkan rintihan munajat di penghujung asa…

Wahai butir-butir yang lembabkan pipi pendamba sekerat ijabah…

Wahai lembar-lembar yang basah di tengah hati yang kerontang menganga…

Wahai himne-himne duka yang tak lagi beraturan

Wahai mata yang tak dihinggapi kantuk…

Wahai jantung yang nyaris tak berdetak…

Apa mesti dikata bila satu per satu persoalan bagai bongkah kayu menghantam kepala?

Apa mesti dikata bila iba dan empati yang dinanti, namun cemooh yang datang?

Apa yang mesti dikata bila lidah terasa kelu dan nafas tersumbat melihat fenomena-fenomena pedih berseliweran di depan mata?

Apa mesti dikata bila fitnah disemburkan dari si pemegang simbol kesalehan yang dihormati banyak orang?

Apa mesti dikata bila ibu menjadi sasaran panah-panah beracun yang dikemas dalam deretan kata pedih via sms?

Apa mesti dikata bila saudara dan keluarga diserbu dengan tuduhan-tuduhan keji para kolektor keculasan berbalut atribut agama?

Apa mesti dikata bila anak semata wayang menjadi sasaran ancaman pembunuhan?

Apa mesti dikata bila solidaritas dan keberpihakan kepada kebenaran bagai fatamorgana?

Apa mesti dikata bila opini dan rekayasa mengalahkan benderangnya hukum tanpa konfimasi dan klarifikasi?

Apa mesti dikata bila sikap diam dan mengalah juga tak mampu memberi kesempatan orang untuk tidak segera menuduh dan menyalahkan?

Apa mesti dikata bila pengorbanan kecil seorang abdi dipandang sebagai angin berlalu bahkan kejahatan?

Aku tak mampu berkata apa-apa…

Jangan tanya…

Jangan pula meminta pendapatku

Aku kehabisan kata dan tanda baca…

Aku mesti berkata, aku keluhkan dukaku kepada Allah…

Adakah yang menyahuti suara orang terjepit kala menyerunya

Ya Allah, lakukanlah yang baik menurutMu…

Sungguh indah semua ciptaanMu…

Aku pasrah

Aku rela

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 comments

  1. Simpati dan dukungan moral senantiasa kami haturkan kepada Antum dan keluarga Antum.
    Kami adalah saudara yang terikat bukan oleh adat, budaya, suku, atau etnis, tetapi tali akidah yang kukuh, semoga Allah meridhoinya.
    Semoga Antum dan keluarga senantiasa dalam keridhaan Allah, sungguh ini adalah ujian yang berat. Penyesalan kami hanyalah karena tak bisa lebih banyak lagi membantu.

  2. semoga ustad & keluarga senantiasa dalam LuthNYA dan pertolongan langit segera menghampiri antum sekeluarga. Ya Ali adrikna…..Al Fatihah & shalawat

    ML: terimakasih, mbak Ema.

  3. jika engkau mengisi
    hari-harimu
    sebagai tameng kami selama ini,
    maka ijinkanlah,
    untuk saat ini,
    kami yang menjadi tameng
    bagimu.

    ML: terimakasih atas kiriman ‘salju’nya. Mhn doa

  4. tak perlu berkata atas apa yang menimpa,
    tak guna merintih atas berjuta dera,
    tak usah berharap pada solidaritas semu berbalut jubah setia,

    adukan saja pada penurun hujan rahmat,
    perkarakan pada pemilik segala isi jagad,
    biar Dia yang tentukan putusan,
    atas nistanya sebuah perlakuan

    wahai jiwa para pecinta…
    hidup seolah integral dengan derita,
    apa mau dikata
    saat ini dalam hidup kita
    orang lebih mendukung pada yang nista

    teriring salam bagi sang guru
    yang celaka karena diburu
    terkirim mohon pada Maha Cinta
    sesobek doa tanpa kata….

    ICAS, 7 nop 2007

    ML: sangat mendalam, ekspresif dan sejuk. terimakasih.

  5. turut berduka cita atas apa yang menimpa,
    akhina. semoga kebaikan selalu menyertai kita.
    selamat berjuang, jangan letih demi tegaknya keadilan. shalawat……..

News Feed