Mulla Misbah Yazdi: Mufasir dan Filosof Neo-Sadrian

Salah satu jejak hidup saya yang bisa saya banggakan dan syukuri adalah melakukan penelitian intelektual terhadap salah satu ikon Neo-Sadraisme, Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi dalam tugas penulisan disertasi.
Sejak memulai studi level dasar, saya sudah jatuh cinta kepada adik kelas Murtadha Muthahhari ini. Hampir seluruh buku dan artikelnya saya baca dan koleksi. Setelah mengamati pandangan-pandangannya dalam Filsafat, Kalam, Ideologi, saya menemukannya sebagai sosok pemikir anti mainstream. Yang pasti, dia setengah Peripatetik dan separuh Transedentalis.

Saya sering menghadiri kuliah-kuliah umum dan ceramah-ceramah Mendiang Ayatullah yang biasa dipanggil akrab dengan Ustad Misbah ini di beberapa tempat di Qom, dan saya mulai menjalin hubungan personal yang cukup intensif pada masa-masa akhir keberadaan saya di sana. Namun, dalam beberapa kunjungan ke negeri Mullah, saya menyempatkan waktu untuk bertabarruk menemuinya. Hubungan ini makin dekat sepanjang menemani beliau saat berkunjung ke Indonesia dua kali.

Saat melakukan penelitian untuk tugas studi doktoral, saya menghadap Ustad Misbah dan mengutarakan maksud penelitian terhadap pemikirannya sembari menghadiahkan buku yang baru saya tulis tentang Ahmadinejad. “Apakah Anda tidak punya kegiatan lain yang lebih berguna?”, ujarnya dengan senyum. Ucapan bernada sindiran itu melukiskan kerendahan hati yang luar biasa. Saya hanya senyum menundukkan kepala.

Di Qom, jumlah ulama yang bergelar Ayatullah (mujtahid) mungkin sebanyak penjual pecel Lele di Jakarta. Tapi Ayatullah yang satu ini berbeda dan punya ciri khas yang cukup menonjol dalam pandangan dan kiprah. Saat rekan-rekan segenerasinya melanjutkan ke karir puncak sebagai marja’, beliau justru makin intensif mengkampanyekan unifikasi marja’iyah – qiyadah. Ketulusannya mencium tangan Imam Khamenei yang notabene teman segenerasinya menjadi isyarat nyata atas langkah revolusionernya. Karena itulah beliau dianggap sebagai ulama paling setia dan takzim kepada Ayatullah Uzhma Khamenei. Ammar-nya Khamenei adalah gelarnya.

Dalam filsafat, Ustad Misbah mengemukakan sejumlah pendapat unik dan berani yang bertentangan dengan para ulama segenerasinya seperti Jawadi Amuli dan Hairi Yazdi, bahkan berbeda dengan gurunya, Allamah Thabathabai. Beliaupun mempersembahkan Amuzesy-e Falsafeh (Al-Manhaj Al-Jadid fi Ta’lim Al-Falsafah) yang bisa ditempatkan sebagai magnum opusnya.

Dalam Kalam, beliau menjadikan akal sehat sebagai dasar primer yang menurunkan postulat-postulat ontologis dalam mengupas tema-tema ketuhanan. Beliau juga menawarkan buku yang mengupas sistematis Pandangan Dunia dan isu-isu Kalam, Amuzesye Aqa’id (Iman Semesta).

Dalam Tafsir, Ustad Misbah memperlakukan teks suci sebagai proposisi dalam deduksi lalu menyusun tafsir tematis, mencakup ayat-ayat ontologis, teologis, aksiologis dan eskatologis, dengan judul: Ma’arif Al-Quran, dalam beberapa jilid.

Dalam Epistemologi, dia melanjutkan metodologi pengajaran filsafat di Hawzah Ilmiyah yang diinisiasi oleh gurunya, Allamah Thabathaba’i, dan ulama mujahid terkemuka Arab asal Iraq, Ayatullah Muhammad Baqir Al-Shadr. Sebagaimana yang tampak dari magnum opusnya, Al-Minhaj al-Jadid dfi Ta’lim AL-falsafah, Ustad Misbah mengulas berbagai masalah-masalah epistemologi secara sistematis dan kokoh. Menurutnya, Epistemologi mengajarkan perspektif metodis dalam menyingkap realitas dan memberikan navigasi cermat bagi pendaratan mulus di altar ontologi.

Dalam Irfan atau Tasawuf, beliau menganggap Irfan Nazhari sebagai bagian dari Filsafat. Baginya, Irfan sejati adalah Irfan Amali. Pengamalan irfan hanya bisa dilaksanakan secara paripurna dalam dalam kerangka hukum syariat dan mengejawantah dalam penguatan komitmen kepatuhan total kepada Wali Faqih (irfan aktif) sebagai konsekuensi paradigma “Penantian”.

Ustad Misbah tak hanya mengkritik dan memberikan solusi intelektual berupa buku modul dan panduan silabus, tetapi juga memberikan alternatif yang konktet. Salah satu kiprahnya adalah mendirikan sebuah lembaga pendidikan lanjutan yang memadukan sistem tradisional Hawzah dan sistem modern akademi, Lembaga Riset dan Pendidikan Imam Khomeni yang menjadi pabrik ulama progresif sekaligus pemikir kritis yang berwawasan modern.

Dalam penguatan sistem Wilayatul Faqih, Ustad Misbah memberikan banyak kuliah ilmiah yang menjelaskan prinsip-prinsip rasional dan tekstualnya sekaligus menggugurkan semua kritik dan keberatan terhadapnya. Tidak cukup itu, beliau memprakarsai pembentukan pelatihan dan pengkaderan Wilayatul Faqih, hierarki otoritas dan studi kritis atas demokrasi liberal di kampus-kampus.

Kepergiannya bak tenggelamnya sebuah perpustakaan raksasa, tragedi bagi kita. Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.

Dr. Muhsin Labib, MA

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed